JAKARTA – Testimoni Fredy Budiman yang diungkapkan oleh Haris Azhar menimbulkan perhatian publik setelah dalam testimoni tersebut menyebutkan keterlibatan sejumlah oknum aparat. Salah satu kasus yang melibatkan Fredy adalah operasi controlled delivery 1,4 Juta Pil MDMA Chandra Halim – Fredy Budiman.

Terkait kasus ini, KontraS mengungkap jejak putusan-putusan yang ditumpulkan sebagai rangka memahami kejanggalan operasi controlled delivery 1,4 Juta Pil MDMA Chandra Halim – Fredy Budiman yang terjadi 2012 lalu.

KontraS dengan Tim Berantas Mafia Narkoba telah memeriksa tidak kurang 6 berkas putusan pengadilan termasuk putusan pengadilan tinggi militer. Enam berkas putusan tersebut memiliki rantai keterkaitan peristiwa yang berujung pada penyergapan 1 truk kontainer berisi 1,412,476 pil MDMA (esktasi) di pintu Tol Kamal, Karet Penjaringan.

Kasus yang diungkap dalam laporan ini adalah PUTUSAN MUHAMAD MUKHTAR (2072/Pid.Sus/2012/PN.Jkt.Bar). Mukhtar dalam kasus ini divonis seumur hidup sejak 2012 karena terbukti membantu pengiriman pake barang MDMA untuk kasus Fredy Budiman. Mukhtar adalah salah satu aktor lapangan yang ditugasi Fredy Budiman.

Berikut keterangan lengkap KontraS yang dipublikasikan Jumat 12 Agustus 2016 :

Pertama, diketahui bahwa berkas atas nama Muhamad Mukhtar alias Muhamad Moektar alias TAR yang divonis seumur hidup sejak tahun 2012 karena terbukti membantu pengiriman pake barang MDMA untuk kasus Fredy Budiman adalah salah satu aktor lapangan yang ditugasi Fredy Budiman untuk mengurus persiapan pengiriman paket sampai tempat tujuan yakni GUDANG I di alamat JL. KAMAL RAYA BLOK 1.7 NO. 12A CENGKARENG JAKARTA BARAT. Alamat ini yang juga diubah dan diketahui dalam berkas putusan adalah GUDANG II di alamat JL. KAYU BESAR DALAM GANG PORTAL NO. 22 RT 10/RW 11 BELAKANG PERTAMINA ELPIJI CENGKARENG JAKARTA BARAT.

Kedua, diketahui bahwa sebelum paket barang dikeluarkan dari Pelabuhan Tanjung Priok, telah ditetapkan sebuah operasi CONTROLLED DELIVERY melibatkan tim gabungan dari pihak BNN dan Bea Cukai. Tim dibentuk pada tanggal 15 Mei 2012 (rapat koordinasi di kantor Bea Cukai Rawamangun) dengan setidaknya terdapat 4 SURAT TUGAS yang diberikan secara khusus kepada tim Bea Cukai untuk melakukan perbantuan penugasan CONTROLLED DELIVERY.

Ketiga, upaya untuk menghentikan paket barang di tengah jalan (KELUAR PINTU TOL KAMAL), dengan termasuk melakukan penangkapan kepada Mukhtar namun tidak ‘membiarkan’ paket barang dengan pengawasan penuh hingga ke GUDANG II nampak tidak memenuhi standar-standar CONTROLLED DELIVERY. Ketika pencegatan ini tidak berhasil menjelaskan (termasuk di dalam berkas):

  1. Siapa yang menyerahkan/memberikan paket barang?
  2. Siapa yang diserahi/diberikan sesuatu (paket barang)?

Keempat, dalam konteks peristiwa 2012 ini, baik BNN dan Bea Cukai melakukan model CONTROLLED DELIVERY yang tidak memiliki landasan petunjuk pelaksanaan. BNN hanya bersandar pada UU No. 35/2009 tentang Narkotika, di mana pada Pasal 75(j) mengutip, “Melakukan teknik penyidikan pembelian terselubung dan penyerahan di bawah pengawasan.” Namun dalam aturan hukum tidak dijelaskan secara spesifik terkait CONTROLLED DELIVERY.

Kami juga ingin memverifikasi bahwa PBB melalui instrumen internasional United Nations Convention Against Illicit Traffic in Narcotics Drugs and Psychotropic Substance (1988) menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan CONTROLLED DELIVERY adalah “suatu ‘teknik’ yang memungkinkan pengiriman/pembawaan narkotika yang dicurigai untuk melewati, masuk ke dalam satu atau lebih daerah teritorial negara lain dengan sepengetahuan dan di bawah pengawasan otoritas yang berwenang di daerah tersebut, dengan tujuan utama untuk mengidentifikasi orang/pihak yang terlibat dalam permufakatan untuk melakukan kegiatan produksi, manufaktur, distribusi, pembenihan, dan lain-lain di bidang narkotika dan psikotropika.”

Sebagai ilustrasi kami ingin tambahkan bahwa di dalam berkas Muhamad Mukhtar terdapat 3 nama utama yang memiliki peran-peran khusus: (1) Fredy Budiman berperan untuk menyiapkan dan mengatur orang-orang di lapangan untuk mempercepat proses pengeluaran barang hingga barang masuk ke gudang penyewaan (OPERATOR) ; (2) Hani Sapta berperan untuk mengenalkan dan/atau membuka jaringan pelabuhan, termasuk memiliki orang yang mempermudah administrasi dokumen dan mengeluarkan barang dari pelabuhan, (3) Chandra Halim berperan sebagai penghubung produsen barang di Tiongkok, diapun diketahui sebagai orang kepercayaan dari produsen.

Dengan kejanggalan-kejanggalan di atas maka kami ingin menjelaskan adalah sebuah kemutlakan untuk mengangkat berkas putusan Muhamad Mukhtar sebagai salah satu dugaan bukti tumpulnya putusan yang sebenarnya bisa dijadikan bukti petunjuk baru untuk melihat peta peristiwa Mei 2012. Bukti-bukti petunjuk lainnya akan menarik untuk ditelusuri melalui sebuah penyelidikan independen yang juga menjunjung tinggi akuntabilitas, semangat koreksi dan dapat dipertanggungjawabkan sepenuhnya kepada publik. (asr)

Share

Video Popular