Oleh: Shi Ping

Terpisah oleh samudra dan tidak bersua 18 tahun lamanya, pasutri WN Amerika Serikat Wang Xiaodan mendobrak kepungan datang ke Beijing untuk memboyong sang ayah ke AS. Mereka berhasil mengibas para mata-mata penguntit dan mengurus segala keperluan visa ke AS dan lain sebagainya.

Pada saat keberangkatan dari Provinsi Guangdong, paspor Wang Zhiwen digunting oleh petugas imigrasi Partai Komunis Tiongkok/PKT dan gagal berangkat. Terpaksa pasutri Wang Xiaodan pulang ke AS tanpa didampingi sang ayah yang harus kembali lagi ke dalam kepungan para intel.

Wang Zhiwen adalah salah satu mantan relawan penanggung jawab Asosiasi Penelitian Falun Dafa Tiongkok dan mantan insinyur di Departemen Kereta Api Tiongkok, dalam aksi gila-gilaan penindasan Falun Gong yang digerakkan oleh Jiang Zemin pada 20 Juli 1999 ia termasuk dalam kelompok pertama yang ditangkap.

Pada 27 Desember tahun yang sama ia jatuhi hukuman ilegal selama 16 tahun penjara. Putri semata wayangnya yang kala itu tinggal di AS dan masih berusia 19 tahun yakni Wang Xiaodan (dibaca: wang siau tan) menangis tiada henti dan mengupayakan pertolongan ke semua pihak yang dapat dia hubungi.

Pada Oktober 2014 Wang Zhiwen dibebaskan, namun masih dalam status tahanan rumah. Akan tetapi, pada Januari 2016 pengajuan permohonan paspornya diluar dugaan berhasil diurus dengan lancar.

Wang Xiaodan (kanan) pada usia 18 tahun meninggalkan ayahnya (tengah), setelah berpisah selama 18 tahun baru reuni dengan ayahnya di Tiongkok, tak dinyana pertemuan yang begitu singkat. (disuplai oleh Wang Xiaodan/Epoch Times)
Wang Xiaodan (kanan) pada usia 18 tahun meninggalkan ayahnya (tengah), setelah berpisah selama 18 tahun baru reuni dengan ayahnya di Tiongkok, tak dinyana pertemuan yang begitu singkat. (disuplai oleh Wang Xiaodan/Epoch Times)

”Kali ini saya awalnya sangat bergembira, sangat optimis, dengan adanya paspor, segala prosedur keimigrasian pun dapat diselesaikan, mengira pasti dapat memboyong ayah keluar (hijrah ke AS). Namun ketika hendak keluar, tanpa alasan yang jelas, mereka telah menggunting paspor ayah, petugas imigrasi mengatakan paspor telah dianulir oleh bagian internal Departemen Keamanan,” kata Wang Xiaodan kepada reporter di bandara AS.

Wang Xiaodan menyatakan, meskipun petugas imigrasi itu tidak mengatakan, dia tahu penyebab ayahnya ditolak ke luar negeri masih saja dikarenakan ia adalah pengikut Dafa dan setelah keluar dari penjara masih teguh mempertahankan keyakinannya pada Falun Gong yang berprinsip Sejati-Baik-Sabar.

”Begitu paspor digunting, visa dan semua keterangan yang tertera diatasnya otomatis tidak berlaku lagi, upaya kami selama bertahun-tahun pun telah musnah dalam sekejap…. Saya betul-betul sangat marah, memangnya ayah saya berdosa apakah, ia sekarang adalah warga yang bebas, kenapa tidak diizinkan keluar negeri?” tambahnya.

Pada detik-detik paspor itu digunting, Wang Xiaodan merasa dunia nya bagaikan “runtuh”. Mereka terpaksa secepatnya kembali ke AS, ayahnya yang tak lama lagi menginjak usia 68 tahun kemungkinan terpaksa hidup sebagai tunawisma.

”Sangat memilukan, tidak tega, dan benar-benar tidak tahu apakah ia dalam keadaan aman ataukah tidak.” Keluh Wang Xiaodan.

Setelah 18 tahun kembali ke kampung halaman, tapi menghindari pulang ke rumah, lantaran untuk melepaskan diri dari penguntitan polisi, bertemu dengan ayahnya pun dilakukan di luar rumah.

”2 tahun setelah ayah dibebaskan dari penjara, ia masih saja diawasi selama 24 jam, mengerjakan urusan sehari-hari pun selalu dikawal oleh dua orang, sama sekali bukan seperti seorang warga yang bebas, betul-betul tak ada bedanya dengan di penjara,” kata Wang Xiaodan.

Pada masa persiapan ke luar negeri di Guangdong, suatu hari di tengah malam, 20 – 30 polisi menggedor pintu hendak memeriksa dokumen, pasutri itu demi melindungi Wang Zhiwen menolak membukakan pintu dan menelpon meminta pertolongan dari pihak konjen AS. Setelah kejadian itu ketiga orang itu setiap hari diikuti oleh intel.

“Berada di jalanan juga ada yang memotret kami, mereka pada menggunakan handphone yang persis sama, terkadang ada juga mobil yang menguntit. Hal seperti itu berlangsung selama beberapa hari, kira-kira ada puluhan intel yang telibat pengawasan kepada kami,” Kata Wang Xiaodan.

Jeff, suami Wang Xiaodan yang warga AS mengatakan, meskipun sudah beberapa tahun ini ia seringkali mendengar informasi tentang penindasan terhadap pengikut Falun Gong, tetapi menyaksikan dengan mata kepala sendiri, masih saja membuatnya terguncang.

”Di Amerika, jika saya menemui bahaya maka saya bisa mencari polisi…. namun paspor mertua setelah dianulir, saya kembali ke hotel, duduk tercenung di sana merasakan ketidakberdayaan. Di Tiongkok saya tidak bisa mencari polisi, karena jurstru orang-orang itulah yang ini hendak kami campakkan. Saya tidak bisa menelpon siapapun, hanya bisa duduk seorang diri tanpa bantuan, ini benar-benar membuatku merasa sangat pilu.  Dan yang kami alami, adalah yang harus dihadapi setiap hari oleh pengikut Dafa di daratan Tiongkok, bahkan lebih parah ratusan-ribuan kali daripada kami,” kata Jeff.

Sebagai anak yang berbakti, pasutri itu demi bertekad melanjutkan upaya mereka menyelamatkan ayahnya agar bisa keluar dari RRT.

“Setelah mengalami kejadian ini, saya semakin yakin bahwa saya harus memberitahu perihal ayah kepada seluruh dunia, menyerukan berbagai tingkatan instansi pemerintah (AS) dan mengundang berbagai media untuk mengungkap kejadian ini, sampai akhirnya ayah saya berhasil ditolong keluar,” ujar Wang Xiaodan.

“Saya mau menghadap (pemerintah AS), agar mereka menaruh perhatian tertinggi terhadap penghambatan Wang Zhiwen ke luar negeri oleh PKT ini dan menekan PKT, agar mereka mengeluarkan ulang paspor baru, serta menjamin keamanan Wang Zhiwen hingga tiba ke AS dengan selamat,” pungkas Jeff.

Saat ini perhatian dunia terhadap kasus Wang Zhiwen, tercermin dalam petisi “Free My Dad, Zhiwen Wang.” Petisi ini dapat dilihat di link ini. (whs/rmat)

Share

Video Popular