Oleh Qin Yufei

Perdana Menteri Inggris Theresa May baru-baru ini menyampaikan surat tulisan tangannya kepada Presiden Tiongkok Xi Jinping yang isinya menegaskan bahwa Inggris berkeinginan untuk memperkuat hubungan perdagangan dan perniagaan dengan Tiongkok. Surat tersebut disampaikan sebagai upaya untuk menenangkan Tiongkok setelah proyek PLTN Hinkley Point C yang bernilai USD 24 miliar itu ditunda oleh Inggris.

Reuters memberitakan bahwa beberapa saat sebelum perjanjian kerjasama proyek pembangkit listrik tenaga nuklir ditandatangani oleh kedua belah pihak, May tiba-tiba memutuskan untuk melakukan peninjauan ulang rencana proyek PLTN Hinkley Point C yang membuat pihak Tiongkok curiga dan marah karenanya. Tiongkok menjadi ragu terhadap sikap Inggris setelah melepaskan diri dari Uni Eropa, apakah masih ada keinginan untuk bekerjasama?

Setelah pihak berwenang Tiongkok menyampai uneg-uneg tentang hubungan kerjasama dengan Inggris, Theresa May menanggapinya dengan menyampaikan surat tulisan tangannya yang ditujukan kepada presiden dan perdana menteri Tiongkok.

Kementerian Luar Negeri Tiongkok mengutip isi surat tersebut memberitakan bahwa Inggris berharap untuk memperkuat hubungan perdagangan dan perniagaan, serta kerjasama terkait isu-isu global lainnya dengan pemerintah Tiongkok.

Seorang sumber dari kantor May kepada Reuters mengatakan bahwa surat tulisan tangan itu disampaikan langsung oleh Sekretaris Negara untuk urusan luar negeri dan persemakmuran Alok Sharma kepada Kementerian Luar Negeri Tiongkok.

Skala ekonomi Tiongkok saat ini adalah USD 11.3 triliun yang merupakan 4 kali lipat lebih bila dibandingkan dengan skala ekonomi Inggris yang USD 2.4 triliun.

Proyek PLTN Hinkley Point C pernah dijuluki sebagai proyek yang mengusung ‘Masa keemasan hubungan Tiongkok-Inggris’, ditandatangani oleh Xi Jinping ketika ia mengunjungi Inggris tahun lalu.

Perdana menteri sebelum May, David Cameron mengatakan, proyek PLTN tersebut merupakan simbul dari Inggris membuka lebar pintu bagi investor asing untuk menanamkan modal, tetapi May tetap merasa waswas dengan masalah keamanan dari investasi Tiongkok itu.

Keputusan Theresa May untuk menunda proyek PLTN tersebut kemudian menjadi perhatian masyarakat karena dianggap sebagai upaya untuk mengintervensi kegiatan korporasi dari seorang perdana menteri baru. Namun di balik itu, May ingin menunjukkan bahwa ia bersikap hati-hati terhadap investasi dari Tiongkok.

Sebagaimana rencana proyek tersebut yang disetujui Cameron waktu lalu, perusahaan EDF (Électricité de France) bersama CGN (China General Nuclear Power Group) akan bersama-sama membiayai pembangunan 2 unit reaktor air bertekanan untuk PLTN Hinkley Point C.

Proyek tersebut juga dianggap sebagai upaya untuk mempererat hubungan antara Inggris dengan Tiongkok, dan pembuka jalan bagi investasi Tiongkok yang mencapai miliaran Dollar AS. Selain itu, investor Tiongkok juga bermaksud untuk ikut tender dalam pembiayaan pembangunan 2 PLTN Inggris  lainnya.

Kementerian Luar Negeri mengutip informasi yang disampaikan oleh Alok Sharma kepada Menlu Wang Yu melaporkan bahwa Inggris menaruh perhatian besar pada kerjasama ekonomi dengan Tiongkok

Wang Yu menanggapinya dengan mengatakan bahwa pemerintah Tiongkok percaya bahwa Inggris akan terus menerapkan kebijakan terbuka terhadap Tiongkok. Melalui Twitter, Sharma mengatakan bahwa dirinya merasa senang atas sambutan hangat yang diberikan kepadanya dan menghargai pandangan ke depan pemerintah Tiongkok. (sinatra/rmat)

Share

Video Popular