PEKANBARU – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan kebakaran hutan dan lahan di Riau masih terjadi di beberapa tempat. Pantauan satelit menunjukkan sebaran asap atau gas CO2 menyebar hingga Selat Malaka.

Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas, BNPB, Sutopo Purwo Nugroho mengatakan meski asap Karhutla sudah menyebar ke Selat Melaka, akan tetapi belum mempengaruhi kualitas udara di Malaysia dan Singapore.

“Indeks Standar Pencemaran Udara di Malaysia dan Singapore masih baik,” kata Sutopo dalam rilisnya di Jakarta, Jumat (19/8/2016).

Pemantauan satelit Modis dari Lapan terdapat 339 hotspot (titik panas) pada Jumat pagi (19/8/2016) yaitu 218 hotspot untuk hotspot dengan tingkat kepercayaan Sedang (30 – 79%) dan 121 hotspot untuk tingkat kepercayaan Tinggi (80 – 100 %).

Sebaran 218 hotspot untuk tingkat kepercayaan Sedang adalah Kalimantan Barat 96, Kalimantan Selatan 7, Kalimantan Tengah 16, Kalimantan Timur 1, Jawa Barat 2, Jawa Tengah 1, Jawa Timur 1, NTT 14, Bangka, Belitung 17, Maluku 8, Maluku Utara 1, Sulawesi Selatan 7, Sulawesi Tengah 1, Sulawesi Tenggara 1.

Sebaran titik api lainnya terdapat di Sumatera Barat 2, Sumatera Selatan 9, Sumatera Utara 14, Jambi 4, Kepulauan Riau 1, Riau 10, Lampung 1, Papua 2, dan Gorontalo 1. Sedangkan 121 hotspot untuk tingkat kepercayaan Tinggi tersebar di Kalimantan Barat 62, Kalimantan Selatan 1, Kalimantan Tengah 7, Kalimantan Timur 1, NTT 1, Bangka Belitung 7, Lampung 1, Riau 22, Sumatera Selatan 4, Sumatera Utara 14, dan Sulawesi Selatan 1.

Hingga kini upaya pencegahan dan pemadaman kebakaran hutan dan lahan terus dilakukan oleh ribuan personil satgas terpadu dari TNI, Polri, BPBD, Manggala Agni, Damkar, relawan dan karyawan perusahaan perkebunan.

BNPB memprediksi  September adalah puncak kemarau dan menjadi periode kritis kebakaran hutan dan lahan. Umumnya pada periode September adalah paling banyak hotspot di Sumatera dan Kalimantan. Oleh karena itu penanganan diintensifkan. (asr)

Share

Video Popular