Oleh Qin Yufei

Dengan akan diadakannya KTT G20 di kota Hangzhou pada akhir pekan ini, pemerintah menggunakan seluruh kewenangan untuk memaksa warga sementara pindah dari gedung-gedung apartemen, rumah-rumah penduduk yang berada di sekitar lokasi KTT dengan maksud untuk mengurangi resiko serangan atau unjuk rasa.

Selain itu, pemerintah juga menginstruksikan agar semua perkantoran baik swasta maupun pemerintah diliburkan agar kota terlihat lebih bersih dan tertib.

New York Times melaporkan, otoritas Beijing telah menginstruksikan pengamanan ketat untuk memastikan kelancaran pertemuan. Sejauh ini, tindakan yang paling ekstrem telah ditunjukkan oleh  sebuah restauran di Hangzhou yang tidak mau memakai juru masak etnis Uighur, karena etnis Uighur dituduh yang melakukan penghasutan terorisme.

Orang-orang kaya meninggalkan Hangzhou dan para pekerja migran pulang kampung

Laporan menyebutkan bahwa ribuan warga Hangzhou penduduk sekitar lokasi KTT dipaksa otoritas untuk sementara pindah ke tempat lain selama waktu yang ditetapkan. Rumah-rumah mereka ditempeli kertas sebagai segel. Kantor-kantor instansi pemerintah maupun swasta minta diliburkan, sedangkan sejumlah industri yang terletak di pinggiran kota Hangzhou harus menghentikan kegiatan untuk menciptakan langit biru selama KTT berlangsung. Para pekerja migran diminta untuk pulang kampung sementara waktu.

Hal yang lebih ekstrem adalah sejak 2 pekan lalu semua pusat perbelanjaan di Hongzhou sudah tidak boleh menjual benda-benda tajam seperti pisau, cutter dan lain-lain. Lemari makanan dalam Starbucks di pusat kota kosong melompong. Menurut barista, truk pengirim tidak diijinkan untuk melewati penjaga keamanan.

Fokus utama dari keamanan adalah orang-orang etnis Uighur. Itu merupakan perintah dari otoritas. Ada sekitar 10 orang juru masak asal Xinjiang yang bekerja di restoran Xinjiang Utara sejak Juni lalu sudah dipulangkan ke kampung mereka.

Hotel-hotel sejak 2 bulan sebelumnya sudah diberitahu bahwa jika ada tamu etnis Uighur yang menginap, pihak hotel wajib melaporkannya kepada pihak kepolisian terdekat.

Qibao, sebuah lokasi yang banyak dihuni oleh para pekerja migran sudah diperintahkan untuk tutup sejak bulan Juni oleh pihak kepolisian. Termasuk toko-toko kelontong, pakaian jadi dan warung-warung pinggir jalan.

Seorang pemilik rumah makan mie memberitahu reporter New York Times bahwa ini adalah peristiwa yang hanya sekali dalam hidup. Jika sampai Obama terjadi apa-apa di sini, maka para pejabat bisa kena getahnya. Karena itu, minta pengertian untuk menutup usaha. Pemerintah tidak memberikan kompensasi apapun, tetapi kita juga tidak bisa berbuat banyak.

Seorang pejabar Partai Komunis Tiongkok/PKT menjalani kurungan badan selama 10 hari pada Juli lalu karena menyampaikan keluhan berupa mahalnya biaya persiapan untuk KTT G20 lewat internet.

Akibat KTT mengganggu kehidupan sehari-hari, banyak warga menyampaikan keluhan di situs-situs online.

“Bukannya media kita selama ini selalu mengatakan bahwa kekuatan asing itu brengsek dan jahat, mengapa sekarang mereka datang tetapi kita yang harus berlutut dan menyembah ?”

Pandai dan berhasil dalam berdandan tetapi tidak menyentuh masalah praktis

Laporan menyebutkan bahwa Tiongkok sekarang sedang menjabat sebagai presiden bergilir KTT G20, yang merupakan hasil dari perjuangan panjang mereka ke arah itu. Meskipun Tiongkok merupakan salah satu anggota Dewan Keamanan PBB, anggota IMF, Bank Dunia dan WTO, tetapi di panggung dunia mereka merasa diremehkan, sehingga menaruh keinginan kuat untuk memanfaatkan peluang KTT G20 untuk menanamkan pengaruhnya.

Asisten Dosen Hubungan Internasional dari Universitas Fudan, Zhu Jie kepada New York Times mengatakan, “Menjadi tuan rumah KTT G20 dan menjabat sebagai pembuat aturan atau tata tertib tetapi bukan sebagai peserta atau anggota yang diatur oleh tata tertib menjadi penting artinya bagi pemerintah Tiongkok”.

Namun sayangnya, saat Tiongkok naik ke atas panggung dunia ini waktunya tidak tepat. Sekarang ini Barat sepertinya sudah mulai jenuh dengan tren globalisasi. Capres AS Donald Trump misalnya, memiliki ide untuk keluar dari perdagangan bebas. Masyarakat internasional juga kian skeptis terhadap kemampuan G20 untuk meningkatkan kapasitas ekonomi global dari kelesuan.

Laporan menyebutkan, dalam rangka menciptakan iklim keberhasilan, otoritas Tiongkok sengaja tidak memasukkan dalam agenda di KTT isu Laut Tiongkok Selatan dan masalah kelebihan kapasitas produksi besi dan baja yang cukup sensitif, takut memicu kemarahan Eropa dan Amerika.

Direktur untuk program studi kebijakan G20 dari Lowy Institute for International Policy, Tristram Sainsbury kepada New York Times mengatakan, “KTT tidak akan menelurkan kebijakan yang bisa mengejutkan”.

Pakar CSIS Washington, Matthew Goodman mengatakan, “Ini hanya akan membuat yang ingin melakukan show-off menjadi lebih penting.” (sinatra/rmat)

Share

Video Popular