Apakah Anda pernah menderita peradangan dengan gejala suasana hati yang buruk sehingga Anda tidak bergabung dengan teman-teman untuk menikmati suasana persahabatan atau tidak pergi untuk berolahraga? Hal ini menarik perhatian ahli ilmu saraf dan ahli jiwa.

Yang menarik adalah ada kesamaan gejala flu dengan gejala depresi yaitu: suasana hati yang buruk, tidak ingin melakukan apa pun, dan hilangnya minat untuk melakukan aktivitas yang disukai, konsentrasi yang buruk, daya pikir dan gerak yang melambat, serta hilangnya keinginan untuk bersosialisasi.

Ketika kita flu, gejalanya lebih ringan daripada gejala depresi dan untungnya hanya terjadi selama beberapa hari saja. Namun, keduanya memiliki kesamaan yang memicu ahli jiwa untuk meneliti apakah depresi adalah respons flu yang parah dan berlangsung lama yang jarang terjadi.

Untuk menguji hipotesis ini, peneliti mulai meneliti penanda darah untuk mencari ada tidaknya peradangan pada penderita depresi. Lebih dari 100 penelitian seperti ini telah dilakukan, dan hasilnya penderita depresi lebih banyak memiliki kadar penanda darah adanya peradangan.

Walaupun data ini adalah penting, namun data tersebut tidak menunjukkan bahwa peradangan adalah penyebab depresi. Kemungkinan yang lebih benar adalah depresi mengakibatkan terjadi peradangan yang menyebabkan si penderita kurang perhatian terhadap kesehatan jiwanya.

Peneliti harus menemukan cara yang aman untuk memicu terjadinya peradangan pada tubuh sukarelawan peserta penelitian yang sehat.

Pada penelitian yang kami lakukan, sukarelawan peserta penelitian yang sehat diberi vaksin tifoid, yang menyebabkan peradangan ringan setelah 24 jam pemberian vaksin. Setelah diberi vaksin tifoid, sukarelawan peserta penelitian melaporkan terjadinya penurunan suasana hati dan sulit untuk konsentrasi.

Depresi: sebuah respon untuk sakit?

Namun, apa yang terjadi dalam otak ini sangat menarik. Peradangan dengan cepat memicu perubahan respons jaringan kerja yang mengatur suasana hati dan memicu daerah lainnya di otak.

Jaringan yang sama seperti tersebut di atas juga dialami yaitu gangguan pada penderita depresi. Hal ini menunjukkan bahwa depresi—minimal terjadi beberapa kali—adalah tipe respons flu yang mengalami perubahan.

Walaupun temuan ini menunjukkan perubahan suasana hati dipicu oleh peradangan melalui jaringan kerja suasana hati yang sama di otak seperti yang terjadi pada depresi, temuan ini tidak menunjukkan bahwa peradangan adalah faktor depresi, yang menyebabkan suasana hati yang buruk dalam jangka waktu yang panjang.

Untuk melakukan penelitian lebih lanjut, tim peneliti depresi menggunakan kelompok penderita hepatitis C kronis. Hepatitis C tidak menyebabkan peradangan yang parah, namun jika tidak diobati, hepatitis C secara perlahan akan merusak hati yang mengakibatkan sirosis yang akhirnya mengakibatkan gagal hati. Pada sirosis, jaringan hati yang normal diganti menjadi jaringan parut, sehingga sel hati tidak berfungsi.

Untuk menyembuhkan penderita hepatitis C, penderita hepatitis C diberi anti-virus dan interferon (obat untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh) selama 6-12 bulan, untuk menyembuhkan peradangan.

Suntikan interferon memicu gejala flu yang mengakibatkan gejala depresi. Sekitar sepertiga penderita hepatitis C yang diterapi dengan interferon mengalami depresi yang khas terjadi pada 6-8 minggu awal terapi).

Gejala depresi terjadi sama dengan yang terjadi pada penderita depresi, serta memberi respons yang sama ketika diobati dengan obat antidepresan. Hal ini menunjukkan bahwa stimulus kekebalan tubuh kronis dapat menyebabkan depresi.

Sampai saat ini belum diketahui berapa banyak penderita depresi yang disebabkan oleh peradangan. Belum ada kepastian apakah obat anti-inflamasi dapat menyembuhkannya.

Sebagai contoh, dalam sebuah makalah yang diterbitkan tahun 2012, peneliti memberi pasien obat anti-inflamasi yang sebenarnya mengobati rheumatoid arthritis. Meskipun orang-orang ini memiliki depresi berat dan sulit diobati, beberapa penderita tersebut mengalami perbaikan, terutama penderita yang menderita peradangan yang parah di mana obat tersebut bekerja sekaligus untuk menyembuhkan peradangan dan depresi.

Temuan yang sama terjadi pada penderita psoriasis yang mengalami gejala depresi ringan.

Penemuan ini memberi kabar baik untuk ahli jiwa adanya pengobatan baru yang penting untuk jutaan orang di bumi yang menderita depresi yang menghancurkan hidupnya, di mana tidak ada golongan obat baru selama hampir 20 tahun. (Epochtimes/Vivi/Yant)

Share
Tag: Kategori: KESEHATAN

Video Popular