Setelah Presiden Filipina, Rodrigo Duterte dan Presiden AS Obama bertemu dan sempat sejenak bercakap-cakap dalam rangka “mengakurkan” perbedaan pandangan mereka, ketegangan muncul kembali akibat Duterte dalam sebuah pertemuan tingkat tinggi, menggunakan sebuah foto bersejarah mengkritik soal catatan HAM AS di depan Obama.

KTT ASEAN di ibukota Laos Vientiane kemarin sudah berakhir. Radio Filipina dzMM pagi ini memberitakan bahwa dalam sebuah pidato tanpa naskah Presiden Duterte menunjukkan sebuah foto bersejarah bawaannya yang diperkirakan sudah berusia seabad. Secara semangat menuduh militer AS telah melakukan pembantaian terhadap warga pribumi di Filipina.

“Mereka membunuh leluhur kita, bagaimana sekarang mereka berbicara isu HAM,” kata Duterte.

Laporan mengatakan bahwa ketika itu, Obama juga duduk di bawah panggung mendengarkan Duterte berpidato dan terkejut oleh ucapannya itu.

Sebelumnya, Obama dalam sebuah konferensi pers mengatakan bahwa sama halnya dengan di AS, Filipina juga menghadapi kejahatan serius narkotika, tetapi kegiatan untuk membasmi narkotika perlu dilakukan dengan cara yang konsisten sesuai perilaku hukum internasional demi mencegah konsekuensi  yang tidak perlu, termasuk menghukum korban yang tak bersalah.

Terhadap konsep HAM yang berbeda ini, Duterte pada Senin (5/9/2016) lalu dalam sebuah konferensi pers di kota Davao, kampung halamannya telah ‘membombardir’ AS atas catatan HAM mereka. Ia berpendapat bahwa Obama tidak memenuhi syarat untuk mengguruinya, dan bahkan dalam lonjakan emosinya sampai mengumpat dengan kata-kata kotor.

Obama mennggapinya dengan mengatakan bahwa mengeluarkan kota-kata kotor rupanya sudah menjadi ‘Kebiasaan Utama’ dan ‘Gaya Bicara’ seorang Duterte. Ia mengaku tidak akan mengambil pusing dengannya.

Akibat insiden ucapan tidak senonoh itu Gedung putih akhirnya membatalkan pertemuan bilateral yang sedianya dilakukan pada sela-sela KTT ASEAN. Kedua kepala negara tersebut sempat bertemu dan bercakap-cakap sejenak di ruang tamu dalam acara welcome dinner di Vientiane. Saat itu, pejabat Kementerian Luar Negeri Filipina menginformasikan bahwa mereka sudah dapat menyelesaikan perbedaan.

Tetapi ketegangan ronde kedua antara kedua kepala negara itu kembali muncul, tampaknya perbedaan pandangan belum sepenuhnya terselesaikan. (Central News Agency/sinatra/rmat)

Share

Video Popular