Oleh Qin Yufei

Seiring dengan uji coba nuklir Korea Utara yang mengundang kutukan dari sejumlah negara besar dunia, media asing dalam komentarnya menyebutkan, sebuah negara yang memiliki kemampuan untuk mempengaruhi negaranya Kim Jong-un, namun tidak bersedia untuk berbuat lebih banyak.

Media Bloomberg memberitakan bahwa setelah Pyongyang melaksanakan uji coba nuklir yang kedua pada tahun ini, semua mata jadi tertuju kepada Partai Komunis Tiongkok. Tiongkok adalah sekutu utama Korut. Tiongkok menguasai 76 % valume perdagangan Korea Utara, memasok 90 % energi serta separo dari persediaan pangan negara itu.

Meskipun Dewan Keamanan PBB berencana akan mengadakan pertemuan lagi untuk membahas sanksi terhadap Korut, tetapi mungkin saja Tiongkok tidak akan menaruh minat lebih besar dalam memperkuat sanksi. Dan situasi keheningan akibat perbedaan pandangan soal ambisi nuklir Korut yang terjadi antara Tiongkok – AS – Korea Selatan – Jepang ini jelas akan dimanfaatkan oleh Kim Jong-un.

Hanya beberapa jam sebelum uji coba nuklir terakhir Korea Utara itu, Presiden AS Obama mengatakan, Tiongkok masih mampu bertindak lebih lanjut dalam ‘mengendalikan’ rezim di Pyongyang dan memperketat sanksi kepada mereka.

Kepada Xi Jinping ia katakan bahwa jika khawatir terhadap THAAD (Terminal High Altitude Area Defense), maka Tiongkok perlu bekerjasama lebih efektif dengan AS untuk mengubah perilaku Pyongyang.

Namun, dunia tidak jelas seberapa jauh Tiongkok ingin bertindak. Setelah uji coba nuklir Januari tahun ini, Menteri Luar Negeri AS John Kerry mendesak Tiongkok untuk berpartisipasi dalam pemberian sanksi lebih keras.

AS berharap Tiongkok menghentikan ekspor minyak ke Korut dan impor sumber daya mineral dari mereka. Melarang penerbangan Air Koryo melintasi udara Tiongkok. Memperkuat pemeriksaan terhadap barang-barang yang dikirim ke Korut. Tetapi Tiongkok tidak setuju.

Meskipun pada April lalu, Tiongkok bersedia mengalah dengan memberlakukan larangan impor batubara, bijih besi dan komoditas lainnya, sehingga mampu mengurangi hingga mencapai 40 % dari jumlah total impor Tiongkok dari Korut. Seorang peneliti ahli dari China Institute of International Studies, Shi Yongming mengatakan bahwa Tiongkok besar kemungkin tidak akan mengambil langkah lebih jauh.

Dalam penjelasannya kepada Bloomberg, Shi Yongming mengatakan bahwa motif akhir di balik program nuklir itu adalah, Korut takut AS menumbangkan rezim komunis, dan Tiongkok tidak mampu benar-benar mengurangi perasaan terancam tersebut. (sinatra/rmat)

Share

Video Popular