Selama lebih dari 2 bulan Rodrigo Duterte menjabat sebagai Presiden Filipina, hampir 3.000 orang warga Filipina yang terlibat kasus narkotika sudah menemui ajal.

Laporan terbaru dari kepolisian Filipina menunjukkan bahwa 1.466 orang penjahat narkotika tewas dalam baku tembak dengan petugas polisi karena mereka menolak penangkapan yang digelar dalam operasi ‘Double Barrel’ antara 30 Juni hingga 10 September 2016.

Laporan menambahkan, sebanyak 1.490 orang lainnya yang juga terlibat kasus narkoba ditembak mati oleh unsur-unsur bersenjata yang belum diketahui. Jenasah mereka dikalungi kertas bertuliskan seperti “Saya Adalah Pengedar Narloba” dan digeletakkan di pinggiran jalanan.

Juru bicara Kepolisian Dionardo Carlos mengatakan, selama ini pohak kepolisian sudah melakukan sebanyak 17.389 kali tugas operasi narkotika. Selain 1.466 orang terlibat kasus narkotika yang tewas tertembak petugas. Operasi juga menangkap 16.025 orang lainnya.

Sementara itu, ada 659.959 orang pecandu narkoba dan 52.568 orang pengedarnya, entah karena takut terhadap keselamatan dirinya atau karena harapan rebabilitasi, mereka mendatangi kantor polisi untuk menyerahkan diri.

Hampir semua korban yang mati tertembak petugas keamanan Filipina itu terjadi di luar prosedur pengadilan. Oleh karena itu, pemerintah Filipina mendapat kritikan tajam telah melakukan pembunuhan di luar hukum, menjadi keprihatinan organisasi HAM, PBB, bahkan AS juga menyatakan kekhawatirannya. Akibat isu tersebut sampai timbul pertengkaran antara Duterte, Obama dan Sekjen PBB Ban Ki-moon.

Duterte mengeluh tentang campurtangan Obama dalam urusan dalam negeri Filipina. Tetapi Obama meresponnya dengan mengatakan bahwa aksi pemberantasan narkoba juga mesti mengikuti prosedur hukum.

Meskipun operasi pemberantasan narkoba di mata orang asing di luar Filipina bisa dianggap telah melanggar hak asasi manusia, tetapi di dalam negeri, dukungan publik Filipina terhadap presiden baru ini justru sangat tinggi. (Central News Agency/lin xingjian/sinatra/rmat)

Share

Video Popular