Oleh Ma Li

Media yang menjadi corong rezim keluarga Kim selalu membuat kesan seolah Korea Utara adalah surga bagi kaum buruh. Namun, kali ini di luar dugaan mereka mengaku bahwa ‘surga’ ini membuat hidup bertambah susah.

CNN pada Senin (12/9/2016) memberitakan bahwa baru kali ini pejabat Korut mengakui di bagian timur laut Korut terjadi bencana banjir yang sangat serius, akibat dari hujan paling lebat sejak 1945. Ribuan bangunan hancur diterjang air, ratusan ribu warga kehilangan tempat tinggal.

Melalui data yang dikeluarkan oleh Lembaga Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB juga diketahui bahwa Korut memang sedang mengalami banjir besar.

Data yang dirilis oleh pemerintah Korut sendiri menyebutkan bahwa topan Lionrock yang menyerang Korut menyebabkan 2 kabupaten Musan dan Yonsa mengalimi hujan lebat sehingga wilayah Hamgyong Utara dan Hoeryong tergenang banjir cukup tinggi. Sejauh ini sudah diketahui 133 orang warga tewas, 395 orang kehilangan tempat tinggal, dan 140.000 orang membutuhkan bantuan darurat.

Media menghimpun dari berbagai sumber memberitakan bahwa air sungai Tumen yang dijadikan perbatasan antara Tiongkok – Rusia sedang meluap, sehingga air menggenangi sebagian besar wilayah Korut yang dekat dengan perbatasan itu. Kabarnya ada 17.000 orang penduduk sekitar sungai Dumen itu terpaksa mengungsi. 16.000 hektar sawah terendam banjir. Sedikitnya 140.000 orang membutuhkan bantuan darurat. Dari segi kerusakan, diperkirakan 35.000 rumah warga rusak, 69 % di antaranya mengalami kerusakan total, 8.700 bangunan dan 16.000 hektar lahan pertanian rusak terendam banjir.

“Pemerintah Korea Utara secara terbuka meminta bantuan, ini adalah hal yang langkah,” kata profesor hubungan internasional City University of Hongkong Bradley Williams kepada CNN.

Human Right Watch dalam laporannya yang dikeluarkan pada 2015 menyebutkan bahwa Korea Utara berada di urutan ke 178 untuk Indeks Kebebasan Ekonomi dengan catatan HAM yang sangat buruk.

Kepada CNN, Bradley Williams kemudian mengatakan, banjir menggenangi daerah luas yang terdapat penjara beserta hunian untuk penduduk sangat miskin. Saat ini rezim menghimbau bantuan luar untuk daerah tersebut bukan sebagai rasa peduli terhadap kesejahteraan penduduk di wilayah itu, tetapi lebih pada menaruh perhatian terhadap stabilitas rezim Partai Buruh. Mereka lebih takut jika banjir menyebabkan meluasanya ketidakpuasan sosial, sehingga muncul protes atau bahkan pemberontakan.

Beberapa hari sebelum mengumumkan berita tentang banjir ini.rezim Korut baru saja melakukan uji coba nuklir untuk yang kelima kalinya yang menyebabkan masyarakat internasional dengan suara bulat mengutuk Korut dan meminta Dewan Keamanan PBB mempertimbangkan sanksi kepada Korut.

Berita banjir besar yang diumumkan rezim Korut dalam bahasa Inggris dianalisa Bradley Williams sebagai berikut: Korut mungkin berharap masyarakat internasional menaruh rasa iba dan bersedia memberikan bantuan-bantuan kepada warganya yang terkena banjir.

Meskipun hal itu akhirnya  hancur karena percobaan nuklir. Sulit memang,  mereka-reka aktivitas mental seorang Kim Jong-un. (sinatra/rmat)

Share

Video Popular