1,26 detik adalah waktu yang dibutuhkan seberkas cahaya untuk mencapai bulan dari Bumi. Satu jam terbentuk dari 60 menit. Alam semesta sekarang berusia 13,8 miliar tahun. Mungkin dalam benak Anda, semua ini adalah fakta, karena dapat dibuktikan dengan tik-tak jarum jam.

Namun, Albert Einstein, seorang tokoh yang dapat disebut sebagai fisikawan terkemuka dan terbesar sepanjang sejarah ini justru mengatakan, “Waktu hanyalah ilusi.”

Dan ini terlihat seperti menyiratkan bahwa waktu hanya ada pada jam dan kalender. Jika demikian halnya, apakah waktu itu memang eksis, atau ilusi subjektif kita? Yang bisa melambat, berhenti sementara? Apakah ada tempat yang namanya waktu itu tidak eksis ?

Meskipun pemahaman kita tentang waktu telah berlangsung selama ribuan tahun, tetapi masih belum menemukan jawaban yang memuaskan. Dalam rangka untuk memahami waktu yang misterius, kami menapak perjalanan menelusuri waktu.

“Saat ini” beberapa detik?

Dalam benak sebagian besar orang pada dasarnya beranggapan bahwa berlalunya waktu tidak akan pernah kembali, berlalunya waktu seperti sebuah panah yang dilepaskan dari busurnya, tidak akan pernah kembali lagi, meninggalkan selamanya masa lalu ke belakang. Meskipun kita sering menyesalinya, ingin sekali rasanya menebus kesalahan masa lalu, tapi akal sehat mengatakan kepada kita, waktu tidak akan pernah kembali, dan hargailah waktu saat ini.

Manusia dapat merasakan berlalunya waktu, dan “saat ini”yang dikatakan orang-orang sebenarnya adalah suatu titik antara masa lalu dan masa depan ketika waktu bergerak ke masa depan dengan kecepatan konstan. Waktu yang kita alami dapat diukur dengan alat, misalnya menggunakan jam, kalender.

Sejak pertengahan abad ke-17, fisikawan Belanda Christiaan Huygens berhasil menciptakan jam pendulum atau bandul yang pertama, progress “waktu” terus meningkat. Jam/pengukur waktu menggunakan gerakan, mengubah perjalanan waktu menjadi pengukur yang mudah diukur.

Kalau begitu, lantas berapa lama waktu “saat ini” dalam persepsi manusia?

Pada prinsipnya, “saat ini” adalah satu titik sekejab, tapi menurut beberapa teori, perasaan manusia terhadap berlalunya waktu, “saat ini” adalah sekitar 2,7 detik. Segalanya dari sebelumnya merupakan sejarah, sementara sisanya adalah masa depan.

Hal yang memengaruhi kecepatan waktu tidak hanya gravitasi, tapi juga kecepatan pergerakan suatu objek. Menurut teori relativitas khusus, ketika kecepatan gerak semakin cepat, waktu akan melambat. Pernah ada yang menghitung, jika anda bisa membuat laju mobil dengan kecepatan mendekati kecepatan cahaya (300.000 kilometer per detik), maka waktu akan menjadi lambat 7.000 kali dari biasanya.

Jika manusia terus mengelilingi bumi dengan kecepatan tinggi, secara waktu juga akan mengalami “lompatan.” Misalnya, Gennady Padalka, kosmonot asal Rusia ini, pemegang rekor terlama di ruang angkasa, menghabiskan waktu sekitar 879 hari tinggal di atas orbit Bumi, dimana selama masa ini, perbedaan waktu kumulatif antara jam di pesawat ruang angkasa dengan jam di bumi itu sekitar 0,02 detik.

Dengan kata lain, Gennady Padalka adalah sosok orang masa depan dari 0,02 detik kemudian, dan boleh dikata ia terbilang sebagai sosok yang melakukan perjalanan waktu yang sesungguhnya !

Tempat yang waktu-nya tidak eksis.  

Apakah keberadaan waktu itu ada di setiap tempat di alam semesta? Bukan begitu sebetulnya. Menurut ilmuwan, pusat dari lubang hitam merupakan sebuah tempat yang tidak eksis waktunya, ruang ini dikompres hingga pada titik terkecil, yaitu sebuah titik ruang dengan kepadatan tak terbatas-singularitas.

Di sini sulit untuk dibayangkan, karena lubang hitam itu sendiri memiliki gravitasi yang sangat kuat, foton apapun tidak akan bisa lolos dari cengkramannya, sehingga tidak ada yang bisa melihat internalnya, meski menggunakan teleskop paling mumpuni sekalipun di dunia.

Lantas apakah waktu akan berhenti atau hilang?

Menurut kosmolog, kematian alam semesta dan waktu saling terkait erat satu sama lain. Jika di kemudian hari terjadi “kehancuran” alam semesta, maka segala bentuk materi di dalamnya itu akan ambruk pada satu titik, seperti jatuh ke dalam lubang hitam, dengan demikian alam semesta pun berakhir, dan pada saat yang sama, ini juga merupakan akhir dari waktu.

Sementara itu, gambaran “kematian” waktu dari versi lain, yang dicetuskan fisikawan Inggris Sir Roger Penrose memperkirakan bahwa ratusan juta tahun kemudian, alam semesta akan menuju “heat death of the universe” atau “kematian panas” dari alam semesta. Semua bintang kehabisan bahan bakar, begitu juga dengan lubang hitam kehilangan energinya, dan segala bentuk materi juga mati. Tiba saat itu, tidak akan ada lagi atom apapun di ruang angkasa, begitu juga dengan waktu tidak eksis lagi.

Berakhirnya waktu dari versi yang dicetuskan Penrose ini sangat mirip dengan kematian seseorang. Manusia  terbentuk dari miliaran sel, sementara sel-sel ini terdiri dari atom dan molekul. Elemen-elemen tak bernyawa ini kemudian terbentuk secara gaib, dan menciptakan kehidupan. Setelah manusia menuju kematian, tubuh pun menjadi setumpukan atom.

Mungkin demikian juga halnya dengan alam semesta, barangkali bagian pembentukan dari alam semesta telah menciptakan keberadaan waktu, tanpa adanya unsur-unsur pembentukan ini, maka alam semesta tidak memiliki masa lalu, sekarang dan masa depan.  (Secretchina/Chen Gang/joni/rmat)

Share

Video Popular