Belakangan ini, biksu palsu Tiongkok bukan hanya datang pergi di jalanan Tiongkok saja, juga masih membaurkan diri di jalan-jalan berbagai negara seperti Amerika, Kanada, Australia, Selandia baru, Indonesia dan negara-negara lain. Mereka meminta uang yang disebut sebagai ‘sedekah’ kepada kelompok orang yang lalu lalang.

25 Agustus 2016, Oriental Daily melaporkan bahwa kepolisian Thailand pada  24 Agustus 2016 menangkap seorang biksu palsu. Dia mengakui bahwa dibelakang dia ada satu grup biksu palsu. Anggota mereka setiap hari mengenakan jubah kuning. Pagi berangkat lalu berpencar ke daerah yang berdekatan, melakukan penipuan dimana-mana.

Pada malam harinya setelah kembali membagi uang hasil penipuan, setiap orang setiap hari rata-rata bisa mendapatkan uang hasil penipuan terbanyak 1000 baht (kira-kira setara dengan 192 yuan). Biksu palsu tersebut masih mengaku bahwa mereka sudah 2 tahun melakukan penipuan ini. Kecuali pada minggu dan hari peringatan agama Buddha, mereka libur. Selain hari-hari itu mereka terus “bekerja”.

Ada media asing lain pada 24 Agustus melaporkan bahwa baru-baru ini kantor imigrasi Indonesia menangkap dua orang setengah baya yang datang dari Tiongkok sebagai biksu palsu. Mereka “bersedekah” ke rumah demi rumah di Jakarta ibu kota Indonesia, minta sumbangan uang. Ketika di sidang mereka mengakui terus terang pelanggaran penipuan dengan kedok biksu bersedekah. Dua orang biksu palsu tersebut sudah dibuktikan, mereka sama sekali tidak mengerti agama Buddha, hanya mengandalkan tasbih di tangan dan sutra Buddha berbahasa mandarin untuk menipu orang.

Daerah keramaian kota New York juga ada sekelompok orang yang berbahasa mandarin, mengenakan baju biksu berkedok sebagai biksu untuk ‘bersedekah.’ Mereka menyerahkan seuntai gelang tangan mutiara kayu atau sebuah patung Buddha yang berkilau emas kepada orang-orang pejalan kaki, mengucapkan kata-kata bagus yang tak teratur, meminta uang kecil, kadang kala masih bisa membuka sebuah buku yang disebut sebagai daftar nama penyumbang, minta para pejalan kaki mendermakan uang untuk membangun kuil.

Laporan New York Times menyebutkan, orang yang secara jangka panjang mengawasi perilaku mereka bagai seorang pengemis menyatakan bahwa kelihatannya seperti dibelakang biksu-biksu palsu ini ada sebuah organisasi yang lebih besar. Karena barang yang mereka sediakan itu hampir persis sama, dan juga tidak saling bersaing, masih ada orang yang melihat mereka sedang menghitung uang bersama.

Sebuah laporan Pioneer Sun Post Australia pada 2015 mengatakan bahwa pihak berwenang Selandia Baru setelah berusaha keras memukul penjahat penipuan berkedok mengemis, memperingatkan pemerintahan Australia dan mengatakan bahwa sebuah kelompok kejahatan Asia sedang merekrut secara luas penipu di Tiongkok untuk pergi ke Australia melakukan penipuan. Laporan itu menyebutkan bahwa asalkan bersedia menghabiskan ongkos sejumlah sekitar 2000 dolar Australi (kira-kira 10 ribu yuan), penipu-penipu tersebut sudah bisa dilatih menjadi biksu, bikuni, dukun atau peramal.

Laporan New York Times mengatakan bahwa laporan tentang biksu palsu mengemis di New York muncul pada 2014, kemudian sekelompok orang tersebut pernah menghilang dari tempat umum. Tetapi sejak 2016, penipu-penipu ini mulai sering muncul di New York Times Square dan High Line Park serta tempat-tempat yang lain.

20 Juni 2016, karena menerima banyak sekali keluhan, High Line Park New York terpaksa menempelkan poster dan papan-papan peringatan di toilet dan tempat-tempat lain untuk memperingatkan para pengunjung jangan memberikan uang kepada para biksu palsu tersebut.

Laporan New York Times juga mengatakan bahwa tidak hanya di New York saja yang muncul fenomena biksu palsu meminta sedekah, di kota San Francisco, Australia, Kanada, Hong Kong, India dan Nepal serta tempat-tempat yang lain juga muncul fenomena yang serupa. (lin/rmat)

 

Share

Video Popular