Setelah uji coba nuklir yang kelima, pemimpin Korut Kim Jong-un tampaknya tidak terlalu dipusingkan dengan sanksi keras yang mungkin akan dikeluarkan lagi oleh Dewan Keamanan PBB.

Beberapa hari lalu, bertempat di  lokasi peluncuran satelit di Pyonganbuk-do, Korut mereka melakukan uji coba untuk menyalakan mesin roket yang akan membawa satelit menuju orbit. Percobaan mereka nyatakan cukup sukses.

Kantor berita resmi Korut KCNA pada Selasa (20/9/2016) memberitakan bahwa Kim Jong-un juga hadir di lokasi peluncuran dan ikut memberikan panduan. Dalam pidato sambutannya ia menyampaikan harapannya semoga penempatan satelit buatan Korut di orbit bumi segera menjadi kenyataan.

Kantor Berita Korea Selatan Yonhap melaporkan, uji coba menyalakan mesin roket satelit Korea Utara ini merupakan hasil dari tindak lanjut penelitian dan pengembangan peluncuran  rudal balistik yang mereka lakukan pada Februari tahun ini.

Meskipun Kim Jong-un selalu menekankan bahwa tujuan dari peluncuran satelit adalah demi kepentingan pengembangan ilmu pengetahuan dan komunikasi, namun komentator politik percaya bahwa rezim Pyongyang dalam waktu tak lama lagi mungkin akan meluncurkan roket jarak jauh  jenis baru. Negara-negara termasuk AS, Korea Selatan dan Tiongkok sependapat bahwa tujuan utama dari peluncuran kendaraan satelit oleh Korut itu tak lain adalah bagian dari rencana untuk mengembangkan teknologi rudal balistik antar benua mereka.

Sementara itu, Dewan Keamanan PBB dengan tegas telah melarang Korea Utara untuk melakukan uji coba nuklir dalam bentuk apapun, termasuk kegiatan eksperimental yang berhubungan dengan rudal balistik.

Reuters mengutip ucapan seorang diplomat PBB yang tidak disebutkan namanya mengatakan, AS dan Tiongkok sudah mulai membahas soal rencana memberikan sanksi atas uji coba nuklir yang karut lakukan pada awal bulan ini. Namun demikian, Beijing tidak langsung menegaskan apakah pihaknya akan mendukung DK PBB untuk memberlakukan sanksi lebih keras kepada Pyongyang.

Saat ini, Korut sedang menghadapi banjir paling parah sejak negara itu dijajah Jepang (1910 – 1945). Dalam rangka untuk memperoleh bantuan dari masyarakat internasional, baru kali ini pemerintah Korut secara terbuka melaporkan tentang kondisi bencana yang mereka alami. Menurut pemimpin Partai Saenuri Korea Selatan bahwa kecuali Korut mau menghentikan semua uji coba nuklir dan peluncuran rudal, masyarakat internasional baru bersedia mengulurkan tangan bantuan kepada Korut.

Dalam pidato pada 18 September Menteri Luar Negeri AS John Kerry mangatakan bahwa jika Kim Jong-un bersedia untuk denuklirisasi Korut,  AS setiap saat siap melakukan pembahasan dengan Korut soal perdamaian di semenanjung, mengakhiri perlakuan isolasi terhadap Korut dan    mempromosikan pembangunan ekonomi kawasan tersebut. (Sinatra/rmat)

Share

Video Popular