Oleh: Huang Fu Rong

Peralatan perunggu zaman dahulu di Tiongkok, meliputi segala aspek peralatan dalam kehidupan. Mulai dari yang kecil, mata uang, cermin perunggu, pembakar dupa, setrika (masa kerajaan Han dan Wei) dan lampion istana, sampai yang besar, bejana sembahyang untuk ketenteraman negara, alat musik, patung dewata, peralatan kereta, peralatan perang dan lain-lain.

Dari peninggalan sejarah yang tergali dapat diketahui teknologi super tinggi dari peralatan perunggu beberapa ribu tahun silam. Berikut artikel lanjutannya.

Sebagai contoh, bagian pangkal tangkai tombak berselubung logam berbentuk burung berglasir berwarna bertatahkan sepuhan emas yang dapat ditancapkan pada bumi pada era Han Barat. Baik bentuk maupun hiasannya sangat halus dan indah, di antara peralatan perang perunggu sangatlah jarang ditemukan. Jelaslah bahwa orang zaman dahulu dalam berperang sangat memperhatikan desain senjata andalan yang mereka genggam.

Lampion Istana Chang Xin oleh para ilmuwan dikagumi sebagai alat perunggu yang merupakan “persatuan sempurna dari segi ilmiah dan artistik”. Tubuh Lampion Istana adalah seorang dayang yang sedang berlutut, disepuh warna emas yang kedua tangannya memegang lampu.

Rancangan lampion istana dilakukan dengan sangat cerdik. Patung dayang perunggu memiliki rongga tubuh yang kosong, rongga lengan tangan kanan yang kosong beserta lengan bajunya menjadi tudung lampu perunggu. Lampion dapat dibuka-tutup secara leluasa, asap yang timbul dari pembakaran dapat masuk ke dalam tubuh dayang melalui lengan tangan kanan dayang, pemikirannya cerdik, konsep rancangannya sangatlah memperhatikan perlindungan lingkungan.

Lampion pernah ditempatkan di Istana Chang Xin kediaman Ibu Suri Dou (nenek raja dinasti Han, Liu Sheng 165 SM – 113 SM) sehingga dinamakan Lampion Istana Chang Xin.

 Keterangan foto: Lampion ini pernah ditempatkan di Istana Chang Xin kediaman Ibu Suri Dou (nenek raja dinasti Han, Liu Sheng 165 SM – 113 SM) sehingga dinamakan Lampion Istana Chang Xin.
Keterangan foto: Lampion ini pernah ditempatkan di Istana Chang Xin kediaman Ibu Suri Dou (nenek raja dinasti Han, Liu Sheng 165 SM – 113 SM) sehingga dinamakan Lampion Istana Chang Xin.

Keajaiban Dunia ke 8 – Genta Zeng Hou Yi

Zeng Hou Yi Bells (rakitan genta) dari zaman Negeri-negeri Berperang disebut sebagai “Keajaiban dunia ke 8”, termasuk mestika negara (aset nasional) yang paling berharga. Pada Februari 2001, duplikat genta kuno itu dipamerkan di Paris, dan mendapatkan pujian tak henti dari Presiden Prancis kala itu Jacques Rene Chirac.

Banyak peralatan perunggu yang digali bersama Genta Zeng Hou Yi semuanya diukir kata-kata seperti “Dibuat untuk dipakai oleh Zeng Hou Yi selamanya”.  Zeng Hou Yi adalah bangsawan Yi dari negeri Zeng.

Di dalam rangkaian lonceng masih terdapat sebuah genta besar, bergantung di tengah-tengah kerangka rangkaian genta, di atasnya terdapat ukiran, “Dihadiahkan oleh raja Hui Dinasti  kepada Zeng Hou Yi.”

Sedangkan asal usul genta besar itu mempunyai sebuah cerita.  Gara-gara raja Ping negeri Chu mempercayai fitnah, telah membunuh ayah dan saudara Wu Zi Xü, sehingga Wu Zi Xü melarikan diri ke negeri Wu. Di sana, ia menjadi pembesar penting kerajaan Wu, membangun kota Gu Su (kota Su Zhou).

Setelah raja Ping negeri Chu mangkat, raja Zhao naik tahta. Wu Zi Xü bergabung dengan Sun Wu menggempur ibu kota Ying negeri Chu, raja Zhao menyelamatkan diri ke negeri Zeng. Negeri Wu mengusulkan untuk menyerahkan tanah di sebelah timur dari sungai Han Shui ke negeri Zeng sebagai persyaratan untuk ditukar dengan raja Zhao.

Sekali pun menghadapi tekanan bala tentara dan iming-iming keuntungan, raja negara Zeng menolak permintaan Wu Zi Xü, tidak menyerahkan raja Zhao kepadanya. Pejabat negara Chu, Shen Bao Xü pergi meminjam bala tentara dari negeri Qin dan mengalahkan negeri Wu, barulah raja Zhao negeri Chu dapat kembali bertahta.

Setelah Zeng Hou Yi, raja negeri Zeng mangkat, raja Hui, putra raja Zhao, demi membalas budi pertolongan yang diberikan kepada ayahnya, telah menyumbangkan genta yang halus dan indah guna dimainkan dalam upacara pemakaman.

Karena kurangnya dokumen-dokumen sejarah, tidak ditemukan data mengenai Zeng Hou Yi. Satu-satunya penjelasan yang memungkinkan adalah, negeri Zeng adalah negeri Sui seperti yang tercantum dalam “kitab sejarah karya Zuo Qiuming”.

Pada zaman dinasti Zhou Timur, sudah lumrah sebuah negeri memiliki dua nama. Misalnya negeri Jin juga di sebut sebagai negeri Tang, negeri Lü juga disebut sebagai negeri Fu, negeri Zhou malah disebut sebagai negeri Chun Yu.

Teknik pengecoran, teknik pembuatan model termasuk pembuatan contoh, cetakan, uji coba, perakitan cetakan tuangan dan lain-lain dari seperangkat rajutan genta. Cetakan tuangan rata-rata terdiri dari gabungan cetakan tembikar. Sebuah cetakan tuangan genta memerlukan 136 buah pola dan inti, prosedur operasinya sangat rumit.

Hal yang paling membuat orang merasa tercengang adalah perbandingan logam campuran genta tuangan. Resep campuran logam genta Zeng Hou Yi memenuhi takaran tembaga 6 bagian dan timah 1 bagian, memenuhi standar perbandingan yang dinyatakan dalam standar industri kerajinan tangan tertua di Tiongkok (Zhou Li. Kao Gong Ji). Dosis logam, enam bagian emas dan satu bagian timah, disebut dosis untuk genta dan bejana.

Perangkat genta rakitan yang indah megah dan canggih ini sejak dikubur sampai digali kembali sudah berselang 2.400 tahun lebih, namun masih tetap dapat menghasilkan bunyi abadi yang mantap, agung dan menggetarkan hati. Hal ini juga membuktikan, sisi ilmiah perbandingan campuran logam genta pada dua ribu tahun lebih yang lalu, telah mampu dengan sempurna memelihara sifat asli alat musik yang bersangkutan, sekalipun telah melalui beberapa ribu tahun tetap tidak terjadi perubahan.

Kini, alat-alat perunggu yang halus dan indah ini rata-rata sudah di atas seribu tahun. Teknologi tinggi yang dikandung jauh sekali melampaui pengetahuan kita terhadap orang zaman dahulu. Mungkin saja, juga sedang memberi peringatan pada umat manusia bahwa para pendahulu bangsa Tionghoa pada zaman kuno yang respek terhadap Dewata.

Ketika mereka memiliki kekayaan batin, juga secara bersamaan memiliki kebudayaan material yang cemerlang dan mengenal dunia secara luas. Tidak seperti yang diduga semula telah menunjukkan banyak sekali mujizat bagi masyarakat dunia sekarang. (pur/whs/rmat) 

Share

Video Popular

Ad will display in 09 seconds