JAKARTA – Puluhan ribu orang terdaftar sebagai pengikut Padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi yang dihebohkan sebagai praktek melipatgandakan harta. Bahkan daya tariknya memperdaya sejumlah orang tenar dan berharta untuk menjadi bagian dari padepokan Dimas Kanjeng. Tak hanya itu,  sejumlah praktek serupa juga ditemui di sejumlah wilayah. Lalu bagaimana sebenarnya membaca fonemana yang terjadi di tengah masyarakat Indonesia ini?

Cendekiawan, Prof.Dr. Azyumardi Azra menilai kondisi terkini keadaan masyarakat Indonesia melalui sudut pandang sosiologi dan psikologi agama yang juga pernah terjadi dengan faktor serupa pada belahan dunia lainnya. Pertama, sudah memasuki pada masa New Age yang berarti sejenis gerakan spiritual namun tak tak memiliki identitas yang jelas.

Hal yang mendasari keburaman identitas pada kelompok ini, kata Azra, diketahui dari eksistensinya menggunakan nomenklatur agama arus utama yakni Islam. Namun demikian, pada kenyataannya menjauhi dari prinsip-prinsip dasar yang dimiliki agama. Azra mencontohkan istilah santri dan pesantren yang melekat pada padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi. Akan tetapi tak mendekati sebagaimana lazimnya sebuah pesantren dan sosok santri.

“Jadi ini namannya gejala New Age, kalau di Amerika muncul pada masa krisis pada masa kemunculan kaum Hipis atau Gipsy,” kata Azra dalam diskusi Indonesia Lawyer Club (ILC) di Jakarta, Selasa (4/10/2016) malam.

Kedua adalah pseuodo science yakni dimunculkan dengan istilah-istilah terlihat sangat ilmiah, padahal  scientific yang diwacanakan cenderung palsu. Oleh karena itu, kata Azra, masyarakat untuk waspada atas gejala kehadiran padepokan seperti Dimas Kanjeng, dikarenakan hadir di tengah masyarakat yang sedang mengalami krisis.

Hal serupa juga pernah terjadi di Barat seperti Amerika Serikat yang dinilai mengalami krisis individual. Bahkan prakteknya muncul disorientasi, sehingga orang-orang mengalami krisis spiritual sehingga tak jelas dalam memproyeksi orientasi diri.  Kongritnya, orang-orang seperti ini mengalami dislokasi sehingga terjebak dalam wujud mendekati sesuatu di tengah ketidaktahuan.

Sejumlah faktor yang melahirkan disorientasi atau dislokasi seperti saat mereka diterpa persoalan internal atau keluarga. Makanya kemudian tak heran jika ditemui bahwa orang-orang merasa aman dan tenteram ketika mereka bermukim di Padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi. Bisa jadi, mereka memiliki persoalan pada keluarga mereka.

Disorientasi ini, lanjut Azra, muncul ketika berkaitan obsesi-obsesi politik dan jabatan yang dimiliki seseorang. Akan tetapi diperlukan modal yang besar untuk mewujudkan cita-cita mereka, tak lain harus ditempuh jalan pintas untuk memperoleh harta seperti jalan tak lazim yang mengingkari jalur-jalur norma ditentukan oleh Tuhan.

Faktor Ketiga adalah kesulitan finansial, sehingga ketika ada tawaran untuk mengatasi kesulitan finansial dengan cara instan seperti Padepokan Dimas Kanjeng ini memperdaya hasrat masyarakat untuk memperkaya diri. Tak hanya, faktor kerakusan dengan harta menjadi faktor lainnya sehingga menjadi orang mudah kepincut ketika diimingi melipatgandakan harta dalam jumlah besar.

Sementara sudut pandang sosiologi agama, kata Azra, muncul fenomena orang yang menyalahgunakan kepercayaan dari orang lain. Lalu terjadi seperti fenomena pengkultusan terhadap seseorang yang terfokus kepada seorang tokoh seperti kepada Dimas Kanjeng Taat Pribadi.

Lalu bagaimana langkah-langkah lebih jauh yang akan ditempuh oleh sosok seperti Taat Pribadi? Azra menuturkan orang-orang seperti ini menggenakan jubah-jubah atau pakaian kebesaran keagamaan sehingga mengundang kekaguman orang-orang terhadap dirinya. Tak hanya itu, gelar-gelar yang melakat pada dirinya menjadi nilai lebih untuk membuat orang terkesima akan sosok ketokohannya.

Langkah lainnya adalah untuk memoles kehadiran dirinya seperti tak sungkan-sungkan mengutip ayat-ayat dari kitab suci untuk memperkokoh dirinya. Meski pada kenyataannya tak mahir dalam melapalkan ayat kitab suci, namun tak berpengaruh banyak dengan masyarakat yang terjebak dalam pengkultusan secara mutlak. Sehingga dalam kasus Dimas Kanjeng, pengikut dinisbatkan sebagai objek dengan kepatuhan mutlak yang tak boleh terbantahkan.

Atas kejadian, Azra memprediksi fenomena-fonomena masyarakat seperti ini akan terus berlanjut secara luas disertai perubahan dan kondisi bangsa yang terus berlangsung.  Hingga demikian, pemberian sosialisasi atas pemahaman yang benar menjadi tugas bagi elemen bangsa.  Walaupun faktanya tetap terjadi dengan kejadian tak bisa diterima secara akal sehat pada kasus Dimas Kanjeng.

“Lagi-lagi ada faktor khusus disorientasi atau dislokasi maka orang mudah terpedaya,” tegasnya. (asr)

Share

Video Popular