American Academy of Pediatrics telah memperkuat peringatan untuk tidak meresepkan kodein untuk anak-anak karena adanya laporan kematian dan risiko efek samping yang berbahaya, termasuk masalah pernapasan.

Saran American Academy of Pediatrics, yang diterbitkan pada tanggal 19 September 2016 lalu di dalam laporan jurnal medis, Pediatrics, sama seperti peringatan yang dikeluarkan oleh FDA- Food and Drug Administration (BPOM-AS) mengenai penggunaan kodein untuk mengobati batuk atau nyeri pada anak-anak.

Penelitian menunjukkan bahwa kodein masih sering diresepkan oleh dokter walaupun kurang terbukti bekerja untuk meredakan batuk.

Bila memungkinkan, dokter dan orang tua harus memilih obat lain, seperti asetaminofen dan ibuprofen atau hanya memberikan es batu atau es lilin kepada anak untuk meredakan nyeri setelah operasi pengangkatan amandel, demikian kata Dr. Charles Cote, ahli anestesi di Boston dan rekan penulis laporan ini.

“Menahan sedikit nyeri lebih baik daripada menggunakan obat,” kata Dr. Charles Cote.

Obat

Kodein adalah obat opioid yang sering terkandung di dalam sirup obat batuk yang dijual bebas dan sebagai obat penghilang nyeri, terutama setelah operasi. Namun laporan mencatat bahwa variasi genetik yang langka menyebabkan beberapa orang mencernanya terlalu cepat, sehingga mengakibatkan kantuk yang berlebihan dan kesulitan bernapas. Sebuah variasi genetik yang berbeda menyebabkan obat tidak efektif untuk menghilangkan nyeri pada sebanyak sepertiga penderita.

Dr. Charles Cote mengatakan bahwa kodein harusnya diresepkan, termasuk kodein yang terkandung di dalam sirup obat batuk yang dijual di apotek.

Risiko

Kodein sering diresepkan untuk menghilangkan nyeri setelah operasi pengangkatan amandel, namun FDA telah melarang menggunakannya. Operasi pengangkatan amandel kadang dianjurkan untuk mengobati pembesaran amandel yang menyebabkan sleep apnea – kondisi umum berhenti bernapas pada saat tidur. Kondisi ini telah dikaitkan dengan obesitas dan Dr. Charles Cote mengatakan anak-anak mengalami sleep apnea pada saat tidur adalah sangat rentan terhadap kesulitan pernapasan yang diakibatkan oleh kodein.

Laporan akademi yang mengutip kajian FDA menemukan 21 kematian terkait kodein terjadi pada anak yang berusia di bawah 12 tahun dan terdapat lebih dari 60 kasus masalah pernapasan yang parah selama lima dekade.

Saran

Diperlukan pendidikan yang lebih baik untuk orang tua dan dokter, bersama dengan penelitian tambahan mengenai risiko dan manfaat kodein dan obat penghilang nyeri yang tidak mengandung opioid untuk anak-anak, demikian laporan tersebut.

Sebuah laporan akademi sebelumnya menyoroti risiko kodein dan kurangnya manfaatnya dalam mengobati batuk. Laporan baru yang lebih komprehensif, menambah kekhawatiran akan penggunaan  untuk menghilangkan nyeri.

Masalah keamanan obat opioid dan perlunya penelitian opioid yang lebih baik pada anak-anak termasuk di antara topik yang diangkat pada 15-16 September 2016 pada pertemuan komite penasihat FDA di Amerika Serikat.(Epochtimes/Vivi/Yant)

Share
Tag: Kategori: KESEHATAN

Video Popular