Oleh Wang Kaidi

Pertemuan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe dengan Presiden Terpilih Donald Trump menjadi perhatian banyak pihak. Para ahli dengan sikap optimis terhadap berpendapat bahwa di masa mendatang Jepang akan memainkan peran lebih penting di Asia.

Abe akan menemui Trump di New York pada 17 November malam (waktu setempat). Para ahli percaya bahwa kemitraan kedua negara akan terus berlanjut di masa mendatang.

Pakar urusan Tiongkok dan komentator Gordan Zhang mengatakan, “Abe sedang berupaya keras untuk memperkokoh hubungan ini, meskipun terasa terlalu dini karena Trump baru saja terpilih. Namun hal ini menunjukkan bahwa Jepang sangat memperhatikan hubungannya dengan AS, di sisi lain juga mengisyaratkan bahwa Trump juga menaruh perhatian tidak ringan terhadap Jepang. Ini adalah suatu hal yang baik”.

Sejumlah ahli berpendapat bahwa hubungan AS – Jepang sangat penting bagi keamanan regional. Dan di masa mendatang, Jepang sangat berpotensi untuk memainkan peran yang lebih besar di wilayah tersebut

Gordon Zhang menilai bahwa Kemitraan Jepang – India sangat penting. Kelak dapat melihat kedua negara penting itu bersama AS berusaha keras dalam menjamin keamanan di Asia Timur.

Di awal kampanye, Trump sudah dengan jelas menyampaikan bahwa ia menentang Perjanjian Kemitraan Trans-Pasifik (TPP). Ahli percaya bahwa pernyataan tersebut menjadi halangan besar bagai Jepang yang sedang memerlukan beberapa penyesuaian dalam struktur ekonomi mereka, jadi Jepang berharap untuk memiliki perjanjian bilateral alternatif lainnya.

Direktur Heritage Foundation Asia Studies Center, Walter Lohman mengatakan, “AS harus melakukan sesuatu dalam bidang perdagangan, itu mungkin saja berupa kerjasama multilateral, atau bilateral yang baru. Jika perjanjian TPP, termasuk juga perjanjian-perjanjian serupa ini juga tidak efektif. Maka prioritas pertama yang perlu segera dilakukan adalah menandatangani perjanjian perdagangan bebas AS – Jepang”.

Setelah Trump terpilih sebagai presiden AS, negara-negara di Asia termasuk Jepang ingin sesegera mungkin memahami tentang kebijakan luar negeri AS. Tetapi karena pejabat-pejabat yang  akan didudukkan dalam kabinet  Trump masih dalam penyusunan, sehingga isu yang beredar masih berupa spekulasi dari para ahli. (NTDTV/sinatra/rmat)

Share

Video Popular