Penelitian besar menunjukkan bahwa obat penghambat hormon untuk terapi kanker prostat dapat meningkatkan kemungkinan  pria untuk menderita demensia, namun peneliti mengatakan hasil penelitian tidak cukup meyakinkan untuk menganjurkan penderita kanker prostat menghindari pengobatan yang dapat meningkatkan kelangsungan hidupnya.

Penderita kanker yang menggunakan obat penghambat hormon selama lebih dari lima tahun berisiko sekitar dua kali lipat didiagnosis menderita demensia, dibandingkan dengan penderita yang tidak menggunakannya. Risiko untuk menderita demensia sebenarnya cukup rendah untuk semua pria.

Peneliti menganalisa 20 tahun rekam medis elektronik dari hampir 9.300 penderita kanker prostat yang dirawat di sistem kesehatan Universitas Stanford. Sekitar 20 persen pria diberi penghambat hormon, di mana kadar testosteron dan hormon lain yang lebih rendah dapat memicu pertumbuhan kanker.

Setelah lima tahun masa tindak-lanjut, sekitar 8 persen pria yang diberi penghambat hormon didiagnosis menderita demensia dibandingkan hampir 4 persen penderita yang tidak menggunakannya.

Hasilnya diterbitkan dalam jurnal JAMA Onkologi. Peneliti mengatakan penelitian yang cermat diperlukan untuk membuktikan apakah berisiko menggunakan terapi obat penghambat hormon yang digunakan secara luas.

Sekitar setengah dari total penderita kanker prostat di negara maju menerima terapi obat penghambat hormon, termasuk sekitar 500.000 orang di Amerika Serikat saat ini.

Belum diketahui secara pasti bagaimana obat penghambat hormon dapat meningkatkan risiko demensia. Satu penjelasan yang masuk akal adalah efek obat penghambat hormon terhadap kadar testosteron. Hormon testosteron dapat memicu pertumbuhan sel kanker, tetapi kadar hormon testosteron yang rendah juga telah dikaitkan dengan masalah jantung dan pembuluh darah yang mendukung terjadinya demensia.

Terapi obat penghambat hormon sering digunakan untuk pria yang tidak menerima pembedahan atau radiasi atau yang kankernya telah menyebar ke bagian lain dari tubuh. Obat penghambat hormon biasanya diberikan dalam bentuk pil dan suntikan selama beberapa bulan sampai beberapa tahun meskipun beberapa pria dengan penyakit kanker prostat stadium lanjut diterapi dengan obat penghambat hormon tanpa batas, demikian kata Dr. Kevin Nead, penulis utama dan seorang dokter ahli kanker di Universitas Pennsylvania.

Beberapa orang yang tidak dapat mentolerir terapi yang tidak menyenangkan karena masalah usia atau kesehatan lainnya kadang menggunakan obat penghambat hormon. Dr. Kevin Nead berkata peneliti memperhitungkan penyakit lain yang juga dapat meningkatkan risiko demensia. Nead  mengatakan beberapa kondisi mungkin telah terabaikan dan  dia menekankan diperlukan penelitian lebih lanjut.

Beberapa penelitian sebelumnya, namun tidak semua, yang meninjau rekam medis juga menyatakan bahwa terapi obat penghambat hormon dapat meningkatkan risiko demensia. Pria yang ikut serta di dalam penelitian baru-baru ini adalah bagian dari penelitian yang lebih besar yang mencakup penderita di Universitas Pennsylvania dan mengalami  peningkatan risiko menderita penyakit Alzheimer, salah satu jenis demensia. Penelitian tersebut, yang ditulis oleh Dr. Kevin Nead, diterbitkan Desember 2015 dalam Jurnal Onkologi Klinis.

Penelitian tersebut biasanya menggunakan diagnosis dan kode tagihan di dalam rekam medis untuk mengukur risiko pengobatan atau penyakit. Dr. Kevin Nead dan koleganya menggunakan metode komputerisasi yang lebih baru untuk memindai rekam medis elektronik termasuk catatan tertulis dokter dan perawat, untuk menemukan jenis informasi yang sama.

Sebuah editorial  JAMA Onkologi oleh dokter di Universitas Vanderbilt mengatakan hasil menunjukkan hubungan, bukan penyebab.

“Para penulis membingkai kesimpulan mereka dengan benar sebagai hubungan yang membutuhkan penelitian lebih lanjut,” Drs. Colin Walsh dan Kevin Johnson mengatakan dalam editorial  JAMA Onkologi.(AP/Vivi/Yant)

Share

Video Popular