Hasil jajak pendapat soal rencana mengamandemen konstitusi Italia yang diumumkan pada Senin (5/12/2016) menunjukkan bahwa Matteo Renzi kalah dalam pungutan suara, karena itu nilai Euro jatuh dan ia pun mengumumkan pengunduran diri sebagai perdana menteri.

Jajak pendapat soal mengamandemen konstitusi Italia selain menentukan masa depan pemerintah saat ini, mempertaruhkan negara juga memberikan dampak yang mendalam kepada Uni Eropa.

Reuters memberitakan, Perdana Menteri Matteo Renzi dalam pidato yang disiarkan secara nasional oleh televisi mengatakan, “Kualifikasi dari pemerintahan saya hanya sampai di sini”.

Hasil voting menunjukkan bahwa tingkat dukungan terhadap rencana Renzi mengamandemen konstitusi hanya memperoleh kurang 20 % dari jumlah peserta.

Renzi menyebut “kekalahan telak” dan ia bertanggung jawab penuh. Pada 5 Desember sore, ia akan bertemu dengan para anggota kabinet, kemudian mengajukan surat pengunduran dirinya kepada Presiden Italia Sergio Mattarella.

Hasil jajak pendapat

Referendum kali ini diikuti oleh hampir 70 % dari warga Italia yang berhak memberikan suara. Jumlah yang lebih tinggi dari dugaan semula juga mencerminkan besarnya perhatian masyarakat terhadap topik yang direferendumkan.

Hasil jajak pendapat yang disiarkan lewat Stasiun TV milik pemerintah RAI menunjukkan bahwa tingkat dukungan untuk menyetujuan adanya amandemen konstitusi hanya berkisar  antara 42 – 46 % kalah dengan yang menentang amandemen yaitu 54 – 58 %.

Ketua Parlemen yang juga adalah salah satu pimpinan Partai Kekuatan Italia (Forza Italia) Renato Brunetta mengatakan, “Matteo Renzi bersama sekutu politiknya harus secepatnya mundur karena mereka sudah gagal”.

Nilai Euro anjlok

Setelah berita kekalahan Renzi tersebar, nilai Euro terhadap Dollar AS langsung jatuh sebesar 0.9%, mencapai terendah yakni 1.0562 pada 30 Nopember.

Nilai Euro terhadap Yan Jepang menurun sebanyak 1.4 %, begitu pula terhadap Swiss Franc juga menurun sebesar 0.45 %.

Rencana mengadakan amandemen konstitusi kali ini merupakan yang terbesar dilakukan Italia sesudah perang. Salah satu poin penting yang diusung ke dalam referendum kali ini adalah apakah perlu membatasi kekuasaan Senat, sehingga situasi saling membatasi yang akhirnya menjurus pada ketidak leluasaan baik Senat atau pun DPR dalam bertindak dapat teratasi. Karena itu pengesahan sebuah undang-undang di Italia selalu berjalan lambat atau mengalami kebutuan dalam pemrosesannya.

Menurut rencana amandemen konstitusi bahwa kursi Senat akan dikurangi dari 315  menjadi hanya 100 kursi saja. Jadi selanjutnya tidak semua rancangan undang-undang sebelumnya harus disahkan Senat. Selain itu, Senat nantinya akan kehilangan hak untuk menerbitkan mosi tidak percaya. Para penentang beranggapan bahwa ini adalah upaya untuk melemahkan demokrasi.

Renzi mengatakan bahwa putusan reformasi yang dilakukan terhadap kedua lembaga konstitusi yang diusung melalui referendum tersebut bertujuan untuk mengurangi prosedur birokrasi di Italia, agar Italia di masa mendatang lebih memiliki kekuatan dalam persaingan.

Tetapi referendum juga dimanfaatkan oleh masyarakat Italia untuk mengekspresikan ketidakpuasan mereka terhadap PM Matteo Renzi.

Kemenangan yang diraih lawan politik Renzi tak lain karena dukungan suara yang diberikan oleh Partai Populis. Referendum dianggap sebagai barometer sentimen anti kemaparan Eropa.

Arah politik Italia di waktu mendatang

Central News Agency melaporkan, setelah Matteo menyerahkan surat pengunduran diri,maka Presiden Sergio Mattarella bertanggung jawab untuk mengangkat pemerintahan baru atau menginstruksikan penyelenggaraan pemilu. Sedangkan BBC melaporkan bahwa presiden mungkin akan meminta Renzi menjabat sampai akhir bulan, sampai parlemen menyelesaikan rancangan anggaran.

Sebagian analis menilai, skenario yang paling mungkin adalah partainya Matteo Renzi yakni Partai Demokrat menunjuk seorang perdana menteri sementara untuk menjabat sampai pemilu tahun 2018. Agar Menteri Keuangan Pier Carlo Padoan dapat dicalonkan sebagai pengganti Matteo Renzi.

Ada analisa yang mengatakan, pengunduran diri Renzi bisa menyebabkan runtuhnya pemerintah saat ini. karena itu partai-partai politik perlu segera berkoordinasi untuk membentuk pemerintahan baru. Pasar juga menkhawatirkan, bila partai populis sampai berkuasa, maka partai ini mungkin akan mendesak Italia untuk meninggalkan Uni Eropa, bahkan keluar dari mata uang Euro.

Para organisator Uni Eropa juga khawatir bila partai yang menentang reformasi berhasil menang, maka pasukan populis dan yang anti Uni Eropa di Italia akan bertambah besar. Italia yang merupakan negara ekonomi terbesar ketiga di zona Eropa saat ini masih terpuruk dalam krisis perbankan dengan hutang negara yang menumpuk.

Ketidakstabilan di bidang politik niscaya akan memperburuk krisis keuangan yang dialami Italia saat ini, bahkan menyebabkan gejolak di zona Eropa. Namun para pakar juga memperingatkan masyarakat internasional agar tidak perlu terlalu panik, meskipun negara itu kembali menghadapi perubahan pemerintahan, tetapi masih ada pemerintahan transisi atau pemerintahan teknokrat yang menangani sehingga, sebagaimana ditegaskan oleh Matteo Renzi bahwa situasi kekosongan kekuasaan tidak akan terjadi di Italia. (Xia Yu/Sinatra/rmat)

Share

Video Popular