Oleh: Han Lianchao

Almarhum Presiden AS Ronald Reagan dalam pidato memperingati 40 tahun kemenangan di PD-II, menceritakan sebuah kisah Natal yang mengharukan, yang mendorong pengampunan dan perdamaian antar negara.

Di Hari Natal pada peringatan kemenangan perang yang ke-70 ini, kisah yang diceritakannya diulang kembali dan masih memiliki makna yang nyata. Ini adalah sebuah kisah nyata.

Kisah ini terjadi pada malam Natal 1944. Waktu itu situasi perang di Eropa mulai berbalik arah menjadi kian tidak menguntungkan bagi NAZI Jerman. Tentara sekutu berhasil mendarat di Normandy dan membalas serangan Jerman, sehingga memaksa Jerman terus mengalami kekalahan dan mundur.

Tetapi Hitler tidak bisa menerima kekalahannya dan melawan semakin menggila. Akhirnya 8 hari sebelum Hari Natal yakni 16 Desember, di garis perang barat Eropa yakni distrik Ardennes, Belgia, tentara Jerman melakukan serangan mendadak pada tentara sekutu yang dikenal dengan “Pertempuran Bulge”. Menerobos garis depan tentara sekutu Inggris-Amerika dan memutus garis barat menjadi dua bagian untuk memecahkan kekuatan tentara sekutu, serta menduduki Antwerp. Memutus jalur pasokan logistik pasukan sekutu dan memaksa sekutu untuk berdamai.

Ini adalah suatu ajang perang yang paling berdarah di masa PD-II. Di ajang perang yang juga dikenal dengan sebutan Pertempuran Ardennes ini kedua belah pihak telah mengirim hampir satu juta prajurit. Perang terjadi di tengah badai salju, tentara Jerman memanfaatkan cuaca yang buruk melakukan serangan mendadak, Angkatan Udara sekutu tidak bisa bergerak, ditambah lagi pasukan bertahan yang tidak pengalaman berperang, sehingga musuh sempat di atas angin.

Dua hari setelah perang dimulai, pasukan SS NAZI yang brutal tak mematuhi aturan perang, ratusan tentara AS yang ditawan dibunuh. Pasukan sekutu terus melawan sengit di tengah kondisi yang tidak menguntungkan, sampai akhirnya berhasil meraih kemenangan.

Perang itu berlangsung sebulan lebih, banyak korban tewas dan luka-luka dari kedua belah pihak. Korban tewas dan luka-luka dari pihak Jerman mencapai 100.000 oang. Sementara di pihak sekutu sebanyak 81.000 orang dan 95% di antaranya adalah tentara Amerika yakni sebanyak 77.000 orang, menewaskan hampir 20.000 orang serdadu AS, adalah perang dengan korban terbanyak dalam sejarah militer AS. Bisa dibayangkan betapa sengit pertempuran itu.

Kisah ini terjadi pada saat paling sengit di tengah pertempuran. Di medan perang sisi Jerman yakni pedalaman hutan Hürtgen Forest. Seorang wanita Jerman bernama Elisabeth Vincken yang rumah dan toko rotinya di kota Aachen hancur akibat bom yang dijatuhkan AU sekutu. Bersama putranya Fritz yang berusia 12 tahun terpaksa mengungsi di sebuah gubuk kayu yang digunakan oleh pemburu di dalam hutan itu. Walaupun Perang Bulge terjadi di sekitar situ, desingan peluru dan letusan bom terdengar jelas, namun di tengah hutan masih relatif aman.

Di malam Natal, ibu dan anak itu sangat mengharapkan sang ayah Hubert yang bekerja di kota bisa pulang dan berkumpul, dan keluarga mereka bisa merayakan Natal bersama. Untuk santapan malam Natal, Elisabeth telah memelihara seekor ayam jantan yang gemuk yang diberi nama Hermann (diberi nama orang nomor dua NAZI Hermann Göring) untuk menantikan pulangnya sang suami. Ayam itu akan disembelih untuk santap malam.

Ayah Fritz melamar untuk bekerja sebagai petugas pemadam kebakaran sipil. Keluarga itu mengharapkan sang ayah akan membawa makanan untuk bertahan hidup. Tetapi salju tebal menyelimuti gunung, peluang sang ayah untuk pulang sangat kecil. Tiba-tiba dari pintu gubuk terdengar suara gedoran.

Fritz kecil yang mengira ayahnya pulang, segera berlari membukakan pintu, namun ibunya Elisabeth segera meniup mati lilin dan menghadangnya, lalu ibunya sendiri yang membukakan pintu. Dua orang prajurit yang mengenakan helm baja berdiri di depan pintu. Satu orang lagi terbaring di salju, sepertinya telah tewas.

Salah seorang prajurit menggunakan bahasa yang tidak mereka mengerti berusaha berkomunikasi dengan mereka. Sambil menunjuk rekannya yang terbaring di salju sambil terus berbicara tanpa henti. Elisabeth menyadari mereka adalah pasukan musuh, pasukan Amerika!

Ternyata, ketiga prajurit AS itu dari Resimen Infantri 121 Divisi 8 yang terpisah dari kesatuan induknya di tengah badai salju. Sambil menghindari kejaran pasukan Jerman. Mereka mencari benteng sekutu, dan telah berkeliaran tiga hari tiga malam di tengah hutan, lapar dan dingin menyiksa. Sekujur tubuh mereka penuh dengan luka akibat kedinginan.

Salah seorang dari mereka tertembak di kaki dan kehilangan banyak darah. Tidak bisa dipastikan bisa bertahan hidup atau tidak. Mereka membawa senjata, bisa saja memaksa masuk ke rumah warga , tapi mereka tetap sopan mengetuk pintu meminta ijin kepada pemilik gubuk untuk menginap.

Elisabeth tidak memahami bahasa mereka, tapi dia mengerti maksud serdadu Amerika itu. Dia berdiri diam di pintu mendengarkan permohonan tentara Amerika. Setelah terdiam beberapa saat, Elisabeth mempersilakan mereka masuk.

Dia membaringkan serdadu yang terluka di atas ranjang Frith, seprei disobek untuk membalut luka serdadu itu. Dia meminta putranya mengambil seember salju untuk membersihkan kaki serdadu yang kedinginan. Lalu Fritz juga diminta menyembelih ‘Hermann’ dan mengambil 6 buah kentang lebih banyak untuk makan malam di malam Natal.

Tak lama kemudian gubuk itu dipenuhi dengan aroma harum ayam bakar. Di saat yang sama Elisabeth akhirnya bisa berkomunikasi dengan salah seorang serdadu Amerika dengan bahasa Prancis, suasana tegang pun mereda.

Tak lama kemudian terdengar lagi suara ketukan pintu. Fritz berpikir, mungkin ada serdadu Amerika lain yang tersesat, lalu ia membukakan pintu, ternyata yang berdiri di depan pintu adalah 4 orang serdadu Jerman. Tubuh Fritz langsung membeku seketika. (sud/whs/rmat)

BERSAMBUNG

Share

Video Popular