Oleh: Han Lianchao

Meskipun masih kecil tapi ia tahu betul aturan NAZI Jerman, jika siapa pun yang menyembunyikan tentara musuh diancam hukuman mati. Dengan tenang Elisabeth berkata pada kopral Jerman yang memimpin, “Salam Natal!”

Sang kopral menjelaskan mereka terpisah dari kesatuan induk dan tersesat di dalam hutan dan ingin menginap semalam. Elisabeth mengatakan, “Silakan masuk untuk menghangatkan badan, Anda juga diundang untuk bersantap malam Natal bersama kami, tapi kami juga ada tamu lain, mereka bukan teman Anda, dan saya harap Anda dapat menerima mereka.”

Kopral Jerman itu langsung waspada dan bertanya, “Siapa di dalam, orang Amerika?”

Elisabeth mengiyakan dengan menjawab, “Hari ini adalah malam Natal, siapa pun tidak boleh konflik senjata disini, silahkan letakkan senjata di luar.”

Kopral Jerman itu memelototi Elisabeth sejenak, lalu meletakkan senjata, dan masuk ke dalam gubuk itu.

Tentara Amerika yang ada di dalam gubuk langsung tegang dan buru-buru mengambil pistol. Seorang serdadu bernama Ralph Blank telah memegang pistolnya bersiap menembak tentara Jerman yang masuk, tapi Elisabeth menghalanginya.

Dengan bahasa Prancis dia mengulang perkataan yang sama, “Malam ini adalah malam Natal, siapa pun tidak boleh membunuh, berikan pistol itu pada saya.”

Elisabeth menerima pistol dari tangan Blank. Lalu dia mengatur agar tentara yang bermusuhan itu duduk bersama di meja. Karena gubuk itu sangat kecil, tentara Amerika dan Jerman terpaksa harus saling berdesakan sampai lengan dan kaki saling bersentuhan, suasana semakin tegang.

Mereka saling waspada, siapa pun tidak ada yang berani memastikan apa yang akan terjadi selanjutnya. Sambil tersenyum Elisabeth berbicara dengan mereka, sambil sibuk menyiapkan makan malam.

Beberapa menit kemudian, kehangatan gubuk kecil itu, aroma harum masakan, terutama keramahan sang nyonya rumah, membuat syaraf kedua belah pihak yang tadinya tegang perlahan mulai mencair.

Kemudian tentara AS mengeluarkan sebungkus rokoknya dan membagikannya pada tentara Jerman. Tentara Jerman mengeluarkan sebotol anggur dan roti dari ranselnya dan membagikannya dengan semua orang.

Salah seorang tentara Jerman melihat serdadu AS yang terluka dan menghampirinya sambil memeriksa lukanya, lalu dengan kotak P3K yang dibawanya ia membalut luka itu. Ternyata tentara Jerman ini beberapa bulan lalu adalah pelajar di Akademi Kedokteran Heidelberg.

Ia berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris dengan serdadu AS. Ia berkata pada serdadu AS, karena cuaca sangat dingin, luka ini tidak terinfeksi, hanya kehilangan banyak darah, dan tidak berbahaya bagi nyawanya, cukup istirahat dan gizi akan segera memulihkannya. Pada saat itu, saling curiga antar kedua belah pihak telah sirna.

Makan malam disajikan di atas meja, Elisabeth memimpin doa sebelum makan, sambil berlinang air mata berdoa, “Terima kasih atas rahmatMu Tuhan, mengijinkan kami semua berkumpul disini dalam damai di tengah medan pertempuran yang mengerikan ini. Di malam Natal ini kami berjanji tidak bermusuhan dan berdampingan sebagai teman, berbagi santapan malam Natal yang tidak mewah ini. Kami mendoakan agar perang yang mengerikan ini segera berakhir. Semoga kami semua bisa kembali ke kampung halaman dengan selamat.”

Belum lagi doa selesai, semua prajurit telah meneteskan air mata, mereka semua terharu dengan doa Elisabeth. Dendam yang timbul di medan perang langsung lenyap seketika. Di dalam hati mereka masing-masing penuh dengan harapan untuk segera berkumpul dalam damai dengan keluarga dan kerabat masing-masing di kampung halaman.

Selesai makan malam hari telah tengah malam. Mereka semua keluar dari gubuk kecil. Waktu itu badai salju telah reda, kerumunan bintang bersinar terang di langit yang berwarna biru gelap itu. Tanpa dikomando mereka semua menengadah mencari bintang Betlehem itu.

Setelah itu, 7 orang serdadu yang sempat saling bunuh itu tidur bersama di bawah satu atap, melewati malam kudus itu dengan hangat dan nyaman.

Hari kedua Elisabeth menyuapi sup telur ayam pada serdadu AS yang terluka. Dengan petanya kopral Jerman memberitahu letak benteng sekutu kepada serdadu AS serta mewanti-wanti mereka agar jangan pergi ke kota Monschau, karena tentara Jerman telah merebut kembali daerah tersebut, pergi ke kota itu sama dengan masuk ke neraka.

Tentara Jerman juga membuatkan sebuah tandu untuk mengangkut serdadu AS yang cedera itu. Kedua belah pihak berterima kasih pada Elisabeth dan Fritz, berjabat tangan dan mengucapkan saling berpisah, lalu pergi ke arah berlawanan.

Cerita ini belum berakhir sampai disini. Pada 1958, Fritz menikah dan hijrah ke Hawaii membuka sebuah kedai pizza. Berkat dorongan teman-teman Amerika, ia menuliskan kisah ini dan dikirimkan ke “Reader’s Digest” untuk dipublikasikan.

Setelah sekian lama, Fritz selalu ingin bertemu lagi dengan 7 orang serdadu itu. Tapi tidak pernah bisa mewujudkannya. Pada 1995, acara TV Amerika berjudul “Unsolved Mysteries” memfilmkan kisah Fritz ini dan menayangkannya. Tak lama kemudian seorang staf di sebuah panti jompo di Maryland menelepon ke acara “Unsolved Mysteries” dan mengatakan, di panti jompo tempatnya bekerja ada seorang purnawirawan PD-II yang juga menceritakan kisah yang sama.

Tak lama kemudian, Fritz dan Ralph yang telah terpisah 50 tahun itu berjumpa kembali. Keduanya saling berpelukan dan menangis terharu. Ralph berkata pada Fritz, “Ibumu telah menyelamatkan nyawa kami!”

Kemudian Fritz berhasil menghubungi seorang serdadu Amerika lainnya, tapi ia tidak pernah bisa menemukan keempat tentara Jerman itu.

Fritz meninggal dunia pada 2002. Di tahun yang sama, Hollywood membuat sebuah film yang diangkat dari kisah nyata ini dan diberi judul “Silent Night”.

Presiden Reagan mengutip kisah ini untuk menyimpulkan pengalaman pada PD II. Ia berkata, “Kebaikan pasti akan mengalahkan kejahatan, kebebasan pasti akan merobohkan totaliter!”

Kemudian Presiden Reagan juga mengatakan kisah ini harus diceritakan berulang kali, karena cerita yang bersifat membangun perdamaian  selamanya tidak akan pernah cukup untuk didengarkan.

Hikmah dari cerita ini adalah, Elisabeth hanya seorang wanita Jerman biasa. Di tengah perang yang keji itu dia berani menghentikan pembunuhan, dan menjaga martabat seorang manusia. Jelas keberaniannya itu berasal dari cinta kasih Yesus Kristus dan sifat kemanusiaannya yang begitu mulia, antara hati yang baik dan hati yang jahat.

Hati baik dan perilaku baik Elisabeth telah melampaui batas musuh atau teman, melampaui suku bangsa, melampaui negara, dan telah membangunkan sifat kemanusiaan di lubuk hati yang paling dalam kedua pihak. Sifat kemanusiaan yang tidak pernah padam inilah yang paling berharga dan merupakan jaminan terakhir bagi perdamaian. (sud/whs/rmat)

SELESAI

Share

Video Popular