Peneliti mengatakan cacat lahir parah yang disebabkan oleh infeksi Zika mungkin tidak terlihat pada saat lahir, tetapi akan tampak jelas beberapa bulan setelah kelahiran. Virus Zika dapat menyebabkan kerusakan yang tidak terlihat pada bayi yang sedang tumbuh.

Temuan itu berasal dari penelitian terhadap 13 bayi di Brasil dengan kepala tampak normal saat lahir, tetapi kemudian setelah masa pertumbuhan kepala bayi tersebut jauh lebih lambat daripada bayi normal.

Sebagian besar orang yang terinfeksi virus Zika tidak pernah mengembangkan gejala, tetapi infeksi selama kehamilan dapat menyebabkan cacat lahir yang menghancurkan hidup bayi, termasuk mikrosefali, di mana tengkorak bayi jauh lebih kecil dari yang diharapkan karena otak tidak berkembang dengan baik.

Mikrosefali didiagnosis berdasarkan pengukuran lingkar kepala bayi. Pengukuran lingkar kepala bayi dapat dilakukan selama kehamilan dengan menggunakan USG, atau setelah bayi lahir. Dokter kemudian membandingkan pengukuran lingkar kepala bayi tersebut dengan ukuran standar bayi normal berdasarkan jenis kelamin dan usia.

Penelitian ini difokuskan pada 13 bayi yang lahir di Brasil akhir tahun 2015 dan awal tahun 2016. 13 Bayi tersebut memiliki lingkar kepala yang agak kecil saat lahir, tetapi masih dalam kisaran normal. Selama lima sampai 12 bulan kemudian, dokter mencatat lingkar kepala bayi tersebut tidak tumbuh sesuai rata-rata lingkar kepala bayi normal. Sebelas bayi akhirnya didiagnosis menderita mikrosefali.

Banyak anak juga menderita masalah lain yang dikaitkan dengan Zika, termasuk epilepsi, masalah menelan, kelemahan otot dan sendi yang tidak fleksibel.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit di Amerika Serikat merilis temuan. Para penulis adalah tim peneliti dari Brazil dan Amerika Serikat.

“Temuan ini adalah penjelasan rinci yang pertama dari jenis kasus,” kata Dr. Ganeshwaran Mochida, seorang ahli saraf anak-anak di Rumah Sakit Anak Boston.

Penelitian ini menegaskan bahwa tidak adanya mikrosefali saat lahir tidak berarti bahwa tidak ada kelainan pada anak yang lahir dari ibu yang terinfeksi virus Zika, demikian kata para pejabat Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit di Amerika Serikat.

Temuan tersebut tidak mengejutkan para ilmuwan. Sebuah penelitian di Brazil pada awal tahun 2016 menyatakan bahwa satu dari lima kasus mikrosefali cenderung memiliki ukuran kepala dalam batas normal saat lahir.

Dan mikrosefali juga telah didiagnosis beberapa bulan setelah kelahiran dalam kasus yang disebabkan oleh kuman lain.

Namun, orangtua yang terinfeksi virus Zika dihantui kekhawatiran akan lingkar kepala yang lebih kecil pada bayinya yang baru lahir, demikian kata Dr. Thierry Huisman, seorang profesor radiologi di Universitas Johns Hopkins yang mempelajari anak yang terkena dampak Zika.

Sekarang Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat menganjurkan agar memantau bayi yang dilahirkan oleh ibu yang terinfeksi virus Zika setelah lahir, tetapi masih dipertimbangkan apakah pencitraan tambahan harus dilakukan, demikian kata Direktur Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit di Amerika Serikat Dr. Tom Frieden.

Penyidik sedang bekerja untuk menentukan berapa proporsi wanita yang terinfeksi Zika dan memiliki bayi dengan cacat lahir, dan bagaimana variasi risiko selama kehamilan di mana terjadi infeksi Zika. Penelitian sebelumnya menyatakan bahwa 1 persen hingga 14 persen ibu di Brasil yang terinfeksi Zika dalam tiga bulan pertama kehamilan memiliki bayi penderita mikrosefali dan bahwa risiko menderita mikrosefali jauh berkurang bila infeksi Zika terjadi setelah tiga bulan pertama kehamilan.(AP/Vivi/Yant)

Share

Video Popular