Aila Verheijke, gadis 11 tahun yang tinggal di San Francisco ini merupakan anggota termuda dalam tim ‘Ride to Freedom’. Aila lahir di Beijing, kakek dan neneknya adalah praktisi Falun Gong.

Ia mengatakan sejak ia masih dalam perut ibunya, kakek dan nenek sudah menghadapi penyiksaan dari Partai Komunis Tiongkok/PKT.

Berulang kali keluar masuk pusat penahanan hingga nenek harus kehilangan fungsi penglihatan dan pendengaran, sampai kemudian ia dipulihkan melalui latihan gong di luar negeri.

“Dalam perjalanan, kita menghadapi berbagai kesulitan dan tantangan yang harus diatasi satu per satu dengan tekad kuat. Namun, jika hendak dibandingkan dengan penganiayaan yang dialami oleh praktisi di Tiongkok. maka apa yang kita alami ini  tidak ada artinya,” kata Aila.

Arian. (internet)

Arian Pasdar, pemuda berusia 18 tahun yang datang dari Austria merupakan salah seorang kordinator tim ‘Ride to Freedom’. Pertama kali ia ingin menyampaikan rasa terima kasih kepada seluruh tim atas dukungan yang mereka berikan.

Ia mengingat orang-orang yang ia temui dalam perjalanan dan pembicaraan dengan mereka. Ia mengatakan, ia percaya bahwa kekuatan dari luar dapat membawa perubahan bagi situasi Tiongkok saat ini.

Ia juga menghimbau masyarakat untuk bersama-sama mereka mendesak PKT menghentikan penganiayaan terhadap Falun Gong.

Setelah 45 hari perjalanan ‘Ride to Freedom’ akhirnya mereka tiba di Washington DC dan kemudian ikut bergabung dalam pertemuan terbuka praktisi Falun Gong yang diselenggarakan di halaman depan Markas Besar PBB.

Di sana mereka memperoleh kesempatan untuk bercerita pengalaman yang dialami dalam perjalanan. Masyarakat yang datang ke lokasi bertambah banyak, mereka semua berharap dapat melakukan sesuatu untuk menghentikan penganiayaan yang terjadi di Tiongkok.

Ma Shancun. (internet)

Ma Shancun yang berusia 15 tahun mengatakan bahwa ia ingin membantu menyelamatkan  anak-anak yatim piutu Tiongkok melalui kegiatan yang ia ikuti ini. Ketika ia baru berusia 1 tahun, ibunya yang memiliki keyakinan ‘Sejati – Baik – Sabar’  ditangkap dan ditahan polisi PKT selama 1.5 tahun. Kejadian itu masih teringat olehnya sampai saat ini.

“Suatu hari saya melihat ibu sudah tidak ada di sekeliling, saya sangat merindukan dan berusaha untuk mencarinya. Setiap hari saya bertanya kepada ayah, Ibu di mana? Tetapi jawabannya selalu tak menentu. Selama 1.5 tahun kehilangan ibu itu saya terus bermurung hati, tidak lagi bisa tertawa, karena setiap saat itu saya teringat ibu,” katanya.

Ghazal Tavnael berusia 21 tahun, datang dari Iran berdiri di atas mimbar pidato depan Mabes PBB.

“Meskipun perjalanan ‘Ride to Freedom’ sudah berakhir, tetapi semua pengayuh sepeda kita ini akan terus bersama seluruh masyarakat dunia yang cinta damai untuk mendesak PKT menghentikan penindasan. Sebagai manusia, kita wajib saling membantu, seperti arti yang terkandung dalam huruf PBB ini, Kita harus bersatu, saling membantu,” katanya.

Ia menghimbau masyarakat untuk bersuara membantu mereka yang kehilangan kebebasan berbicara. Membantu praktisi Falun Gong Tiongkok untuk memperjuangkan hak kebebasan beragama.

Tekad dan semangat para pengayuh sepeda ‘Ride to Freedom’ telah mendapat pujian dari sejumlah politisi pemerintahan federal AS.

Senator Richard Durbin (tengah) menyambut kedatangan para anggota ‘Ride to Freedom’. (internet)

Senator Richard Durbin menyambut kedatangan para peserta ‘Ride to Freedom’ di kantornya di Gedung United States Capitol pada 16 Juli 2015. Ia menanyakan kepada masing-masing peserta dari negara mana mereka berasal, dan menyatakan rasa gembira untuk menyambut kedatangan mereka.

Para pengayuh pun tidak lupa untuk menyampaikan rasa terima kasih kepada senator yang pada tahun 1999 ketika penganiayaan mulai digerakkan PKT. Ia menjadi senator AS pertama yang mengirim surat berisikan himbauan untuk segera menghentikan penganiayaan.

Anggota Parlemen Illinois pada 1 Juli 2015 mengundang seluruh tim ‘Ride to Freedom’ untuk masuk ke dalam gedung mendengarkan rapat parlemen dan memperkenalkan mereka kepada seluruh peserta rapat hari itu.

Anggota Parlemen Illinois pada 1 Juli 2015 mengundang seluruh tim ‘Ride to Freedom’ untuk masuk ke dalam gedung mendengarkan rapat parlemen dan memperkenalkan mereka kepada seluruh peserta rapat hari itu. (internet)

Senator Robert Menendez adalah anggota senior Senat Komite Hubungan Luar Negeri dan mantan ketuanya. Ia memberikan surat penghargaan kepada tim ‘Ride to Freedom’ yang isinya berbunyi, “Penindasan terhadap jutaan praktisi Falun Gong di Tiongkok telah merampas hak asasi manusia mereka, bahkan anak-anak mereka memperoleh pelecehan dan penyiksaan. Penindasan tersebut tidak dapat ditolelir, dan perlu segera dihentikan. Selama ini, saya selalu bangga untuk mendukung kegiatan yang dilakukan oleh para praktisi Falun Gong.” (Sinatra/rmat)

SELESAI

Share

Video Popular