- Erabaru - http://m.erabaru.net -

Penggunaan Antibiotik Secara Berlebihan untuk Bayi Baru Lahir Merusak Pertahanan Paru Bayi secara Permanen

Dokter telah lama memahami bahwa antibiotik dapat melindungi bayi dari infeksi, namun juga dapat mengganggu pertumbuhan bakteri normal di dalam ususnya. Ada penelitian baru yang mengungkapkan bahwa konsekuensi penggunaan antibiotik secara rutin akan berdampak jauh lebih buruk dan lebih bertahan lama daripada yang diharapkan.

Penelitian yang dilakukan oleh Rumah Sakit Anak Cincinnati, Amerika Serikta,  diterbitkan 8 Februari 2017 di Science Translational Medicine menunjukkan bahwa gangguan bakteri normal di dalam usus jangka pendek membuat bayi tikus lebih mudah menderita pneumonia, sehingga lebih cenderung meninggal. Gangguan bakteri normal di dalam usus jangka panjang menyebabkan kerusakan sistem kekebalan tubuh secara permanen.

Hampir setiap operasi caesar di Amerika Serikat melibatkan pemberian resep antibiotik untuk ibu hamil sesaat sebelum melahirkan. Hampir 30% bayi baru lahir di unit perawatan intensif neonatal (NICU) menerima antibiotik.

Hitesh Deshmukh seorang neonatologi, biologi paru dan penulis utama studi tersebut mengatakan bahwa terapi untuk mencegah infeksi streptokokus Grup B infeksi adalah  penyebab utama infeksi yang mematikan pada bayi baru lahir. Namun, dalam sebagian besar kasus, obat-obatan yang diberikan berfungsi sebagai pencegahan, bukan karena telah terbukti menderita infeksi.

Setelah minum antibiotik, maka antibiotik akan menyerang  berbagai bakteri, baik itu bakteri yang baik atau buruk. Ternyata bakteri yang normal di dalam tubuh berperan penting dalam membangun sistem kekebalan tubuh yang sehat.

Mengapa paru memerlukan bakteri yang sehat di dalam usus?

Bahkan setelah lahir, paru bayi masih membangun pertahanan kekebalan tubuhnya.

Selama lebih dari dua tahun, Hitesh Deshmukh dan rekan melakukan percobaan pada tikus untuk menentukan bagaimana proses ini bekerja. Mereka menemukan bahwa pertahanan yang kuat tergantung pada aliran sinyal molekul terjadi saat tubuh bereaksi terhadap gelombang bakteri yang normal hidup di dalam  usus. Sinyal ini memberitahu paru kapan membangun sel kekebalan tubuh dan berapa banyak sel kekebalan tubuh yang harus dibangun oleh paru, dan di mana sel kekebalan tubuh tersebut harus dikerahkan.

Secara khusus, keberadaan bakteri yang normal di dalam tubuh memicu produksi kelompok 3 sel limfoid bawaan (ILC3). ILC3 bermigrasi ke mukosa lapisan paru, tempat ia menghasilkan Interleukin-22 (IL-22), yaitu protein pembawa sinyal yang penting ini akan mengaktifkan respons imun terhadap infeksi.

Masalahnya adalah ketika antibiotik memusnahkan bakteri baik/normal di dalam tubuh, antibiotik memotong aliran sinyal  yang penting ini. Akibatnya, paru membangun dinding benteng yang lemah dengan sedikit penjaga yang bertugas.

Kerusakan bisa menjadi permanen

Jika penggunaan antibiotik dibatas secara dini, maka bayi manusia memiliki kesempatan mendapat bakteri yang normal masuk ke  dalam tubuh. Hitesh Deshmukh mengatakan bahwa proses ini memakan waktu berbulan-bulan.

Setelah sekitar satu tahun, bayi manusia telah selesai membangun sistem kekebalan tubuhnya.Hal ini berarti setiap kelemahan konstruksi sistem kekebalan tubuhnya cenderung permanen.

Hitesh Deshmukh mengatakan bahwa akibat penggunaan antibiotik secara berlebihan menjelaskan mengapa beberapa orang tanpa faktor risiko genetik yang jelas namun menderita asma atau penyakit paru lainnya di kemudian hari.

Belum ada perubahan kebutuhan untuk menggunakan antibiotik demi menyelamatkan nyawa ketika infeksi berbahaya menyerang. Namun, peneliti mengatakan bahwa temuan ini menyarankan untuk berpikir kembali menggunakan antibiotik secara rutin untuk mencegah penyakit pada bayi baru lahir.

Kabar baik: metode yang ada saat ini untuk memulihkan jumlah  bakteri normal. Bahkan, ketika peneliti menggunakan metode tersebut pada tikus, maka tikus mampu memberi perlawanan terhadap pneumonia.

Apakah percobaan tikus di dalam makalah baru-baru ini berlaku pada manusia? Hitesh Deshmukh mengatakan bahwa selanjutnya perlu dilakukan penelitian klinis untuk mengevaluasi keamanan dan manfaat penggunaan antibiotik yang dibatasi di kalangan ibu hamil dan bayi baru lahir.(Epochtimes/Vivi/Yant)