Sphinx adalah sejenis makhluk mitos yang berkepala seperti manusia dan berbadan seperti seekor singa di Mesir. Berbagai misteri dan mitos yang menyelubungi tinggalan sejarah ini. Satu persoalan yang membingungkan para ilmuwan adalah siapa yang mencacati wajah bangunan kuno ini dan mengapa?

Ada beberapa hipotesis populer yang dikemukakan untuk menjawab persoalan tersebut.

Hipotesis pertama mengatakan bahwa Napoleon Bonaparte menembak hidung patung Sphinx itu. Pada tahun 1797, Napoleon menyusun rencana untuk menaklukkan seluruh wilayah yang mengelilingi Sungai Nil.

Dia memenangkan perperangan bersejarah yang dikenal sebagai “the battle of the Pyramids.” Apakah sebelumnya meriam Napoleon diacukan kepada patung Sphinx s untuk mencederainya ? Kemungkinan besar tidak.

Napoleon dikatakan merasa sangat kagum dengan sejarah lampau wilayah yang dijajahinya itu. “Sejarah berusia ribuan tahun sedang menunduk ke bawah melihat kita,” kata pejabat militer populer dari Perancis itu.

Dia kemudian membawa artisan dan ilmuwan ke tanah Mesir yang mengungkap sejarah wilayah tersebut dan menyampaikan berita tentangnya ke Eropa. Di Eropa pula, penemuan yang ditemukan itu mendorong kepada kegilaan yang dikenal sebagai Egyptomania.

Jadi teori yang mengatakan Napoleon bertanggungjawab terhadap cacat pada Sfinks ini tidak kokoh. Para pelukis yang dibawa beliau telah menghasilkan lukisan menakjubkan yang menggambarkan kondisi Mesir pada waktu itu, dan semua lukisan tersebut memperlihatkan hidung Sfinks yang sudah dicacati.

Tambahan lagi, Dr. Zahi Hawass, seorang peneliti sejarah Mesir kuno, berkata, “Napoleon tidak ada hubungannya dengan hidung Sphinx (yang telah dipotong.)”

“Kami percaya seorang sufi pada abad ke 9 yang melalui patung Sfinks itu telah mencacatinya setelah menemukan ada segolongan orang yang masih menyembah patung itu sebagai tuhan,” tambah Dr. Zahi.

Hipotesis kedua ini percaya bahwa Muhammad Sa’im al-Dahr telah mempekerjakan karyawan untuk mencacati wajah patung Sphinx ini karena patung ini disembah sebagai tuhan palsu. Muhammad Sa’im ingin membuktikan kepada penyembah berhala ini bahwa Sfinks ini tidak lebih dari sebuah batu. (Sumber: Ancient-Origins/Erabaru.com.my/asr)

 

Share

Video Popular