Oleh: Chen Wen Yun

Hidup dan mati maupun kaya atau miskin manusia sudah digariskan oleh yang Maha Kuasa, tidak peduli seberapa mulia status Anda, pada akhirnya akan mengalami kematian.

Kematian benar-benar menakutkan, seseorang tidak akan pernah ada lagi di dunia setelah tiada.

Dalam legenda kuno, seseorang yang telah meninggal akan berada di alam barzakh, dan seperti apakah wujud di alam barzakh (akhirat) itu?

Pasti banyak orang yang ingin mengetahuinya bukan.

Setelah meninggal, roh manusia akan meninggalkan tubuhnya, dibawa oleh malaikat pencabut nyawa ke akhirat. Dalam mitologi Tiongkok, roh manusia yang dibawa ke akhirat itu kemudian diserahkan kepada dua penjaga akhirat atau penjaga pintu neraka berkepala lembu dan kuda, utusan Yama (raja neraka).

Setelah itu, diberi minum “meng po tang” air pelupa ramuan nenek meng” (Air penghapus ingatan roh yang hendak bereinkaransi sehingga melupakan kehidupan mereka yang lampau serta kehidupan mereka selama berada di akhirat).

Kemudian berjalan ke jembatan reinkarnasi yang berupa jembatan bambu, di bawah jembatan terdapat aliran sungai mengalir berwarna merah dan di tepi sungai tersebut terdapat tulisan  “Mudah menjadi manusia, tapi sulit untuk hidup seperti manusia. Bahkan lebih sulit lagi untuk terlahir kembali sebagai manusia.”

“Mudah untuk dilahirkan di tempat penuh kekayaan. Selama pikiran, mulut dan pikiranmu selaras,” berjalan ke gerbang neraka (garis batas dunia manusia dan akhirat).

Dalam perjalanan ke gerbang neraka itu dijaga oleh enam belas penjaga gerbang, setiap melewati satu gerbang, penjaga gerbang atau utusan Yama (Raja akhirat) akan mengajukan pertanyaan yang berbeda. Hal ini untuk membedakan antara orang baik dan orang jahat.

Bagi mereka yang baik dan suka beramal semasa hidupnya di dunia akan dilahirkan kembali sebagai sosok manusia, sebaliknya mereka yang melakukan segalam macam kejahatan akan terperosok atau dijadikan sebagai binatang atau dimasukkan ke nereka 18 tingkat dan tidak akan pernah lagi bereinkarnasi.

Orang-orang yang amal ibadahnya baik akan di bawa oleh utusan Yama ke sebuah jalan akhirat. Jalan akhirat sangat panjang, di kedua sisi jalan dipenuhi dengan “bi an hua” / bunga tanpa daun berwarna merah di akhirat, terlihat seperti sehamparan lautan darah yang tak berujung, membuat bergidik dan sangat menakutkan.

Setelah melewati jalan akhirat, berbang berikutnya adalah “San sheng shi” (Batu tiga kehidupan). Kata “San sheng” berasal dari lingkaran karma dan samsara Buddhis (kelahiran kembali).

“San sheng” dari “shan sheng shi”(batu tiga kehidupan) ini masing-masing adalah “kehidupan dahulu,”,  “kehidupan sekarang”, dan “kehidupan akan datang / berikutnya.” Di atas batu ini mencatat tentang kehidupan dahulu dan sekarang serta segala suka duka atau lika liku yang pernah dijalani masing-masing manusia.

Di atas batu itu terukir 3 huruf besar yang sangat merah dan terang, memperingatkan masing-masing almarhum/almarhumah untuk tidak larut dalam keduniawian, sebaiknya lebih awal ke Sukhavati (Surga “Dunia yang Suci Murni).

Setelah melewati semua gerbang, masing-masing roh memiliki kesempatan untuk mengucapkan selamat tinggal kepada sanak famili, tempat ini disebut “wang xiang tai” (Suatu tempat yang tinggi untuk memandang sesuatu).

Seperti pepatah lama, “Satu hari tidak makan di dunia manusia, dua hari kemudian melewati batas dunia dan akhirat, tiga hari sampai di “wang xiang tai,”melihat sanak famili yang menangis sedih.”

Di Wang xiang tai ini almarhum dapat melihat-lihat keadaan keluarga di rumah dan melihat untuk terakhir kalinya.

Dan sejak itu, berpisah dalam kehidupan sekarang (yang dijalani semasa hidup). Dan entah akan reinkarnasi ke keluarga mana dalam kehidupan berikutnya. (jhoni/rmat)

 

Share

Video Popular