Oleh: Sinshe Wen Pinrong

Seorang wanita berusia 38 tahun dengan dandanan menor dan mengenakan pakaian ketat, kedua matanya menyorotkan kecemasan dan kebencian. Wajahnya hitam seperti wajah Judge Bao, bahkan make up tebal di wajahnya tak mampu menutupi mimpi buruk di bawah dandanannya.

Demi wajahnya itu, segala jenis tes baik yang terkait maupun tidak terkait dengan penyakit, semua sudah dilakukannya, tetap tak bisa ditemukan penyebabnya; setiap teman dan kerabat memperkenalkan dokter Barat maupun Sinshe, wajahnya tetap tak berubah, rasa sakit ibarat diiris-iris telah menderanya selama setengah tahun lebih.

(Film serial “Judge Bao” pada dekade 1990-an pernah ditayangkan di dua stasiun TV sekaligus: RCTI dan TPI, red.)

Setelah berseliweran di antara gang kecil, akhirnya dia berhasil menemukan klinik tempat saya membuka praktik. Klinik saya memang tidak memiliki papan nama yang mentereng, hanya ada sebuah potret tabib Tiongkok kuno Bian Que (dibaca: Pien Jüe) di dinding.

Di samping potret itu tertulis nama klinik yang tidak begitu mencolok. Saat melangkah masuk ke dalam klinik, dia melihat-lihat ke luar dan ke dalam, sangat berbeda dengan tempat praktek dokter ternama dan klinik tenar yang pernah didatanginya, melihat pemandangan yang begitu sederhana ini, mulut wanita itu bergumam, “Seperti tempat jin buang anak!”

Entah sejak kapan, wajahnya perlahan mulai menghitam, tapi warna kulit di kepala, kaki dan tangan, serta tubuhnya masih tetap normal. Dia yang selalu ingin tampil cantik, sejak awal selalu proaktif berobat, sampai akhirnya merasa murung dan depresi, setiap hari mengurung diri di kamar dan malu untuk menemui orang.

Setiap kali keluar rumah dia selalu berdandan dengan make up bahkan lebih tebal daripada artis yang akan naik ke pentas Srimulat, sangat mencolok.

Dia bertanya dengan penuh harap, “Dokter, penyakit apa yang saya alami ini? Kapan saya bisa sembuh? Saya ingin segera sembuh!”

Saya menjawab, “Ilmu kedokteran modern meskipun sangat maju, tapi masih ada lebih dari delapan ribu jenis penyakit yang tak dapat diobati, dan jumlah penyakit yang tak bisa ditemukan penyebabnya tak terhitung banyaknya. Ada penyakit yang tidak bisa buru-buru, harus dilakukan bertahap.”

Saya berencana melakukan tusuk jarum padanya, makan obat dan salep oles untuk wajahnya, serta ramuan Pengobatan Tradisional Tiongkok (PTT) untuk cuci muka.

Saya berkata, “Lain kali saat Anda datang berobat, jangan make up.”

Dia langsung menjawab, “Tak mungkin! Saya lebih baik mati saja, saya tidak mau orang lain melihat wajah hitam saya ini.”

Walau saya menjelaskan betapa pentingnya agar bisa mengamati tingkat kegelapan, warna, bentuk dan orientasi warna hitam pada wajahnya, tetap saja dia menolak.

Warna kulit wajah diatur oleh meridian liver, emosi juga dikelola oleh liver, warna hitam berasal dari ginjal, sedangkan kukunya berwarna pudar, lidah berwarna merah muda, tangan dan kaki kerap terasa dingin, yang merupakan sejenis memar dingin.

Dari raut wajahnya terefleksi mudah merasa kembung dan buang air besar pun sulit. Apalagi limpa mempengaruhi otot, maka sistem pencernaan harus diselaraskan secara berbarengan dan paru-paru mempengaruhi kulit, warna kulit luar dipengaruhi oleh meridian paru-paru, jadi juga harus menyelaraskan paru-parunya.

Penanganan akupunktur untuk pemutihan, tusuk titik Ying xiang dan Xia guan, rona wajah gelap dan redup, tusuk titik Shao ze. Perubahan warna tanpa penyebab yang jelas, dianggap keracunan kulit, tusuk titik Qu chi agar membersihkan paru-paru, tusuk titik Xue hai agar memperlancar darah menghilangkan memar dari bagian dalam; mengurai racun, tusuk titik Zhu bin dan Cheng shan; memperlancar peredaran darah, tusuk titik San yin jiao; menyelaraskan liver, tusuk titik Tai chong; membenahi meridian paru-paru, tusuk titik Lie que, untuk seluruh area wajah tusuk titik He gu.

Serbuk cuci muka ramuan PTT disesuaikan dan dibuat sesuai dengan karakter kulit dan musim tertentu. Saat sedang menulis resep, dia bertanya, “Serbuk cuci wajah PTT ini apakah mengandung steroid?”

Ketika menulis resep PTT ilmiah, dia bertanya lagi, “Apakah PTT ilmiah ini dicampur dengan obat-obatan Barat?”

Ketika therapy tusuk jarum, dia bertanya lagi, “Dokter, apakah Anda akan keliru menusuk nadi atau tulang? Apakah akan salah tusuk?”

Adalah wajar apabila seorang pasien itu mudah gusar, sehingga timbul kondisi tidak rasional dan kurang sopan, semua itu harus dihadapi dengan kesabaran.

Selesai tusuk jarum, bagian wajahnya yang tidak terkena make up, mulai terlihat berubah dari gelap menjadi cerah, terlihat tidak begitu hitam lagi, seharusnya metode ini bisa memberinya harapan. Maka saya pun mengambil cermin untuk memperlihatkan perubahan pada wajahnya, dia hanya berdehem dan berkata, “Sama sekali tidak ada perubahan, masih saja hitam!”

Dengan serius saya berkata padanya, “Nona Besar, Anda tidak perlu datang berobat lagi, pikiran Anda sama gelapnya dengan wajah Anda, penampilan wajah mencerminkan hati seseorang. Pikiran adalah semacam gerakan partikel, jika di kepala Anda dipenuhi dengan pikiran negatif melulu, maka medan di sekeliling Anda pun akan menjadi substansi negatif yang gelap, sedangkan substansi akan berkumpul (tarik-menarik) dengan substansi yang sejenis dengannya, sehingga benda-benda yang tidak baik pun akan mendekat pada Anda. Jika hendak menyembuhkan penyakit Anda ini, semua tergantung pada Anda sendiri, jika tidak membuang sampah di hati Anda yang kotor dan hitam itu keluar, maka siapa pun tidak akan bisa menolong Anda!”

Menolak pengobatan juga merupakan semacam pengobatan, memposisikan hingga menjelang ajal lalu membiarkan dia bangkit dengan sendirinya. (sud/whs/rp)

Share

Video Popular