Oleh: Dai Guoren

Pendiri Dinasti Ming, Zhu Yuanzhang (1368-1398), selain dikenal sebagai ahli strategi militer dan politik, ia pun dikenal sebagai ahli lingkungan hidup. Di dalam masa pemerintahannya, berturut-turut telah mendirikan kota Kerajaan ibu kota Tengah dan Kota Nanjing.

Saat itu dia mewarisi melanjutkan dan mendalami pembangunan ibu kota dengan konsep keseimbangan lingkungan: “Dikelilingi gunung dan air, gunung dan air yang indah permai”. Dalam implementasi hukum dan perundang-undangan juga banyak kebijakannya yang melindungi lingkungan hidup.

Zhu Yuanzhang sejak kecil hidup miskin, orang tua dan kakak-kakaknya meninggal karena wabah penyakit, setelah terlunta-lunta tanpa sanak-saudara ia menjadi biksu di Kuil Huang Jue. Kemudian pada masa akhir Dinasti Yuan ia mengikuti tentara pemberontak dasi kuning Guo Zixing, karena jasanya menonjol maka ia diangkat sebagai wakil panglima tertinggi bagian sayap kiri, berturut-turut mengalahkan divisi Chen Youliang dan Zhang Shicheng, pada tahun 1368 telah mendirikan Dinasti Ming.

Untuk pembangunan ibu kota, Zhu Yuanzhang telah mewarisi dan meneruskan konsep lingkungan hidup dari Dinasti Han, Tang, Song dan Yuan. Tahun 1386, dalam landasan pembangunan Kota Nanjing, telah mendirikan kota raja, kota residen dan kota luar.

Perencanaan, pengaturan dan tata letak dari kota Dinasti Ming telah merefleksikan akan kesadaran lingkungan hidup. Sebetulnya jauh pada 1369, Zhu Yuanzhang telah mendirikan kota raja ibu kota tengah di Kota Feng Yang, meski telah melalui terpaan hujan dan angin selama ratusan tahun, sampai saat ini masih menyisakan kekokohan dan kemegahannya.

Kemudian Kaisar Ming Chengzu, Zhu Di pada 1420 telah mendirikan Kota Terlarang di Beijing, pada dasarnya telah menyesuaikan kerangka perancangan kota raja ibu kota tengah dan Nanjing, malah kemegahannya lebih agung dan menakjubkan.

Pahatan batu, ukiran kayu dan lukisan yang indah nan langka, gazebo dan pavilyun yang indah beraneka ragam, mewujudkan pengkristalan inti sari dan style unik dari seni bangunan tradisional Tionghoa.

Pendiri Dinasti Ming, Zhu Yuanzhang (Wikipedia)

Kumpulan pohon cemara yang hijau royo-royo, genteng glazur biru, atap istana keemasan dan air sungai pelindung kota yang beriak bergelombang kehijauan memantulkan warna cahaya langit, secara keseluruhan menghasilkan lembaran-lembaran lukisan indah dari keelokan antik bangunan lingkungan hidup istana kuno.

Pakar bangunan tersohor masa kini Liang Sicheng memuji “Kota Terlarang” sebagai “Ibu kota abad pertengahan yang masih eksis yang paling akbar di dunia”. Seharusnya dikatakan, Kota Nanjing dan “Kota Terlarang” yang dibangun oleh Zhu Yuanzhang dan penerus dinastinya secara berturut-turut, telah mendalami konsepsi bangunan ibu kota berwawasan lingkungan hidup yakni: “Dikelilingi gunung dan air, gunung dan air yang indah permai”.

Pada masa awal pembangunan negara, Zhu Yuanzhang mematuhi prinsip dari kaum Konfusianis yakni: “Raja dan kaisar membudidayakan materi” maka “Langit dan Bumi lestari”, mengumumkan dan melaksanakan peraturan larangan yang menguntungkan pemulihan lingkungan hidup alami dan perlindungan sumber daya alam antara lain: “Pada masa peralihan musim dingin dan musim semi, dilarang mengolah sungai dan rawa; pada masa peralihan musim semi dan musim panas, dilarang menaburkan racun ke padang rumput.”

“Pada saat tunas mengembang dilarang menginjak-nginjak, pada saat masa panen padi-padian dilarang melakukan bakar-membakar”, terhadap pengembangan sumber daya alam dan perlindungan keanekaragaman hayati telah melakukan pembatasan dan pelarangan yang mendasar.

Setelah itu masih ada lagi titah raja tentang penghentian penangkapan burung zhegu (sejenis jalak) dan ayam bamboo (sejenis ayam hutan) dan lain-lain serta melarang negara-negara taklukan mempersembahkan hewan langka.

Pada zaman Ming juga telah memberlakukan perlindungan terhadap tanah resapan. Kitab Guang Zhiyi mencatat: “Pada masa Dinasti Ming, tiga laut menengah, besar dan kecil, selama 4 musim air tidak mengering, berbagai jenis burung, rusa, rase, kelinci dan buah, sayur, rumput, pohon termasuk dalam daftar pelarangan.”

Merak dan bangau putih ditetapkan sebagai burung langka. Didirikan taman berburu kerajaan bagi kebutuhan berburu kaisar, secara objektif telah melindungi satwa liar, telah menjaga keragaman hayati.

Dinasti Ming juga sangat memperhatikan perlindungan hutan rimba di sepanjang perbatasan.  “Pada tahun pertama masa Tian Shun, Kaisar Ying Zong menitahkan: “Di wilayah Pegunungan Yi Zhou, jalur yang dilalui manusia dan kuda, tidak diperkenankan memungut kayu bakar dan membuat arang”.

Sampai masa pertengahan Dinasti Ming, kondisi penebangan dan pengeksploitasian rimba gunung semakin hari semakin parah. Kaisar Xiao Zong menitahkan para pejabat Provinsi Shan Xi, Ning Xia, Liao Dong dan lain-lain, tentara dan rakyat dilarang menebang dan mengkomersilkan kayu hutan, yang melanggar dihukum mengikuti wajib militer (dikirim ke perbatasan yang jauh).

Guna mencegah pelanggaran perbatasan oleh pasukan berkuda negara tetangga, Dinasti Ming menjadikan rimba alam sebagai penghambat, merajut policy pengaturan pencegahan dan penangkalan: “Sembilan Perbatasan”, ada penindakan tegas terhadap perbuatan pembalakan dan penebangan liar hutan rimba perbatasan, telah membuat sebagian besar rimba alami di provinsi-provinsi: Huabei, Timur Laut hingga ke Barat Laut memperoleh perlindungan.

Semasa Dinasti Ming, dari pusat hingga ke daerah terdapat pengumuman tentang peraturan reboisasi atau penanaman pohon kembali dan hutanisasi. Pada tahun 1394, Zhu Yuanzhang memerintahkan setiap tentara di barak-barak militer untuk melakukan: “Penanaman seratus batang pohon berupa: murbei dan bidara, sedangkan pohon kesemek, sarangan dan persik, penanamannya disesuaikan dengan situasi kondisi setempat.”

Pada saat itu kaisar memerintahkan rakyat seluruh negeri harus banyak menanam pepohonan murbei dan bidara, bersamaan dengan itu mengumumkan kebijaksanaan tentang penanaman baru pepohonan murbei dan bidara dan dibebaskan dari pemungutan pajak cukai.

Dengan cara penggabungan penghargaan dan hukuman semacam ini telah membuat skala taman dan hutan bertambah besar. Ditambah lagi pihak istana dalam penerimaan pegawai juga diuji prestasinya dalam reboisasi dan hutanisasi, telah semakin mendorong kemajuan volume penanaman hutan.

Reboisasi dan hutanisasi menjadi trend masyarakat kala itu, bahkan pejabat tinggi pendiri negara seperti Liu Ji juga menulis: “Penanaman sejumlah pohon, pohon kayu dan pohon buah berpasangan”, kota raja dan jalan serta gang-gang hingga ke pedesaan.

Menyongsong musim semi daun hijau lebat bagai awan mendung, menerawang musim gugur buah besar bagai bintang berkerumun”. Sesuai data 1395, penanaman pohon buah-buahan di provinsi-provinsi Hu (Hu Nan dan Hu Bei) dan Guang (Guang Dong dan Guang Xi) mencapai 80 juta batang, total seluruh negeri ditanami 1 miliar batang, 4000 buah lebih sungai yang mengalir lancar, sehingga prestasi ekosistem cukup menonjol pada masa itu.

Dinasti Ming pernah membentuk departemen yang mengurusi hal-hal yang berkaitan dengan kondisi lingkungan hidup yakni Jawatan Pekerjaan Umum Bagian Prediksi Keseimbangan dan Pengendalian, mengurusi gunung, rawa, pemetikan, penangkapan dan  barang tembikar – peleburan logam.

Saat itu diterapkan juga larangan tentang masa jedah perikanan dan masa jedah peternakan, dalam bidang instansi dan sistem peraturan telah melindungi penggunaan yang wajar terhadap sumber daya alam.

Sebuah kebijakan yang patut dicontoh oleh negara-negara modern sekarang ini, apalagi Tiongkok, di mana keadaan lingkungannya sudah hancur, hutan sudah tinggal sejengkal dan pencemaran air sudah demikian parah. Masih ada waktu untuk memperbaiki kondisi itu.
(Diolah dari Kondisi Lingkungan RRT, yang dimuat Dajiyuan)

Share

Video Popular