Perang, bukan saja menyebabkan kemalangan pada orang-orang, pasca perang, terornya juga akan selalu membayangi. Pada 2015 lalu, Kolya Nizhnikovsky, seorang bocah 11 tahun ini hancur berantakan terkena ledakan sebuah mortir yang dipungutnya dari sisa perang Ukraina.

Ukraina adalah basis penting bagi pasukan Rusia ketika itu, seusai perang, dimana meskipun orang-orang sudah bisa hidup seperti biasa, tapi potensi ancamannya masih mengintai. Ketika itu, Kolya membawa adik dan temannya bermain di sebuah kamp militer, kebetulan saa itu, Kolya melihat sebuah benda hitam besar, lalu mengambilnya.

Kolya sama sekali tidak tahu benda yang diambilnya itu adalah sebuah “mortir,”, salah satu jenis senjata yang mengerikan untuk perang. Ketika Kolya mau memperlihatkan benda mematikan itu kepada teman-temannya, tanpa sengaja benda itu tergelincir dan seketika terdengar ledakan keras, akibatnya empat bocah itu mengalami luka yang parah!

Ibu Kolya menuturkan, “Saya mendengar suara ledakan yang keras dari rumah, lalu melihat ke arah suara ledakan untuk melihat apa yang terjadi.”

Ia terkejut melihat sekujur tubuh anak-anak bersimbah darah, seolah-olah “mereka dimasukkan ke mesin penggiling daging.  Dengan panik ia menggendong adik Kolya, tapi baru menghela napas beberapa kali, selanjutnya tidak bernapas lagi. Sementara Kolya tergeletak di sisinya, tapi kakinya sudah tidak utuh lagi, hancur berkeping-keping.

Selain adik Kolya yang masih kecil itu tewas di tempat, luka yang dialami anak-anak lainya juga sangat serius, salah satu teman Kolya bahkan kehilangan sebelah matanya. Sedangkan teman satunya lagi kehilangan bahu kanan, tapi kondisi Kolya paling menyedihkan, ia kehilangan sepasang kaki dan sebelah tangan kanan, dan satu matanya juga buta, sedangkan dagunya juga berlubang besar.

Akibat insiden itu, keluarga Kolya menjadi sibuk, di samping harus mengurus pemakaman adik Kolya, juga harus merawat Kolya. Biaya pengobatan yang fantastis lambat-laun membuat sesak napas mereka, tapi untungnya seseorang yang bernama Elena Kuneva segera turun tangan membantu saat mengetahui keadaan Kolya.

“Mata saya berkaca-kaca dan tak kuasa menahan tangis setelah melihat keadaan Kolya yang mengenaskan. Tapi saya harus tahan tidak boleh menangis, saya akan mendukung anak ini dari satu sisi ketegaran saya,” kata Elena.

Setelah insiden itu, Kolya akhirnya merasa lega bisa kembali ke rumah, tapi sejak insiden itu, ia menderita PTSD posttraumatic stress disorder-PTSD atau Gangguan stres pascatrauma, ia selalu tidak bisa keluar dari bayang-bayang terror dalam jiwanya yang merasa sebagai penyebab tewasnya sang adik dan mencelakakan teman-temannya, dan sejak itu, Kolya menjadi diam tidak ingin bicara.

Saat-saat seperti itu, Elena selalu berada di sisinya, ia menunjukkan banyak foto tentang atlet penyandang cacat, bermaksud mencoba untuk mendorong semangat Kolya.

Elena mengatakan kepada Kolya, “Siapapun pasti akan penasaran di usiamu seperti ini, apalagi kecelakaan ini bukan salahmu, jadi tidak perlu merasa bersalah, tidak ada yang akan menyalahkanmu.”

Berkat bantuan Elena, perlahan-lahan kondisi Kolya mulai membaik, selain itu Elena juga mengadakan penggalangan dana untuk Kolya, ia akan menggunakan dana itu untuk biaya pengobatan Kolya di Kanada.  Kolya telah operasi demi operasi, dan kakinya juga telah dipasangi dengan kaki palsu, untuk membantunya berjalan.

Karena laju pertumbuhan Kolya yang terlalu cepat, sehingga dokter harus terus-menerus memodulasi prosthetics. Selain itu Kolya juga menjalani rekonstruksi wajah dan kornea, dan secara bertahap kesehatannya juga mulai membaik.

Selama proses pengobatan, Kolya menunjukkan tekatnya, ia mulai belajar berjalan dengan kaki palsu, sekarang telah belajar berenang, berlari, bermain sepak bola, dan juga sudah bisa menulis atau mneggambar dengan tangan kirinya.

Kisah Kolya dengan cepat menyebar ke seluruh dunia, dan ibunya merasa sangat terhibur, orang-orang selalu menghibur dan memberikan dorongan semangat, mereka memberikan Kolya permen, pakaian, mainan, dan bahkan ada yang menghadiahkan Kolya sebuah komputer setelah tahu Kolya bercita-cita menjadi insinyur.

Setelah setahun rehabilitasi, Kolya telah mengalami kemajuan yang signifikan, keberaniannya telah menulari banyak orang, bahkan Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau secara khusus menemuinya. Ia memberikan dorongan semangat pada si bocah Kolya yang tegar ini.

Tetapi pada akhir tahun lalu, Kolya harus kembali ke Ukraina. Di satu sisi Kolya merasa berat meninggalkan masa-masanya itu di Kanada, di sisi lain ia sangat merindukan kampung halamannya. Tapi, yang mengejutkan  Kolya adalah orang-orang di kampung halamannya telah menyiapkan kejutan besar untuknya.

Ternyata badan perlindungan dan penyelamatan yang dipimpin Elena masih terus mengumpulkan dana, agar Kolya sekeluarga memiliki rumah baru. Jarak rumah baru ini sangat jauh dari tempat terjadinya insiden yang tragis itu, sehingga Kolya dan keluarganya tidak akan selalu mengingat kenangan pahit yang memilukan itu!

Pengobatan dan masa pemulihan Kolya sekaran masih berlanjut, tapi bocah ini telah membuktikan kepada dunia bahwa ia memiliki kekuatan jiwa yang kokoh, cukup untuk melawan dan membendung kesulitan di depannya!

Si bocah Kolya yang kehilangan sepasang kaki dan sebelah tangan serta buta sebelah mata ini sekarang dalam proses pemulihan.pasca insiden yang memilukan itu.

Dampak dari perang itu sangat luas, anak-anak yang tak berdosa ini menjadi korbannya karena nasib buruk, dan sejak itu juga telah mengubah perjalanan hidup mereka yang masih panjang. Kita bisa menyaksikan keberanian Kolya, dan kita doakan semoga bocah yang tegar ini cepat sembuh dan menyongsong  kehidupan barunya! (jhoni/rp)

Share

Video Popular