“Halo, nama saya Ma Yun. Saya baru mulai belajar bahasa Inggris, apa kita bisa berteman?”

Halo, saya David, ini adalah ayah saya, Ken, dan ini adalah keluarga saya. Senang sekali berkenalan denganmu.”

1985, Jack Ma di Australia.
  1. Hari ini Ma Yun di Australia.Dia telah tiba di Newcastle, New South Wales, Australia.

23 Februari 2017 lalu, University of Newcastle, Australia mengumumkan bahwa Pendiri sekaligus Dirut Alibaba Group, Ma Yun atau lebih dikenal Jack Ma merilis Program Bea Siswa bernama The Ma & Morley di UON melalui Yayasan Jack Ma.

Yayasan Jack Ma akan memberikan 20 juta dollar AS untuk mendanai program bea siswa pertamanya di UON, Australia. Ini adalah sumbangan terbesar yang pernah diterima University of Newcastle, Australia.

Pembentukan program beasiswa ini berhubungan erat dengan pertemuan Jack Ma di pinggir Danau Barat dan sesosok orang Australia yang membuka jendela dunia untuk Jack Ma yang ketika itu masih remaja. Ini bukan pertama kalinya ia berkunjung ke Newcastle, Australia.

32 tahun yang lalu pada 1985, untuk pertama kalinya Ma Yun muda ke Australia, tepatnya di New Castle. Dan itu adalah perjalanan pertamanya ke luar negeri.

“Selama perjalanan itu untuk pertama kalinya saya melihat dunia di luar Tiongkok, dan itu adalah titik balik dalam hidup saya.”

Berikut sekelumit kisah Jack Ma sebelum perjalanannya pertamanya ke luar negeri.

 2. Pada 1980, Tiongkok yang baru membuka pintu reformasi menyambut delegasi dari Australia, yaitu Australia – China Friendship Society. Saat itu delegasi dari Australia tengah mengunjungi Tiongkok untuk melakukan survey di beberapa tempat, termasuk kampung halaman Jack Ma di Hangzhou.

Morley sekeluarga adalah salah satu anggota delegasi, sang Ayah Ken Morley adalah seorang insinyur listrik yang baru pensiun, bergabung dengan Asosiasi Persahabatan Australia – Tiongkok pada tahun 1970-an. Dan Ibu bernama Judy, Ken Morley dan Judy isterinya, memiliki tiga anak : David, Stephen, dan Susan.

1 Juli 1980, mereka tiba di Hangzhou, kampung halaman Jack Ma.

Malamnya, ketika mereka jalan-jalan di Danau Barat, seorang pemuda Tiongkok yang sebaya dengan usia David tampak berjalan menghampiri sambil tersenyum dan menyapa mereka dengan bahasa Inggris yang agak kaku.

Ma Yun yang baru berusia 15 tahun ketika itu berfoto di pinggir Danau Barat bersama David, teman barunya dari Australia. David mengenakan ID dari delegasi persahabatan Tiongkok-Australia.

“Malamnya saat acara bebas, ketika kami bermain di taman, seorang pemuda mendekat dan menyapa kami, pemuda itu mendatangi David untuk melatih bahasa Inggrisnya yang belum fasih. Dia memperkenalkan dirinya, kami basa basi sebentar, dan sepakat bertemu lagi di taman ini,” kenang David saat pertemuannya dengan Jack Ma di taman.

Bocah laki-laki usia puluhan tahun tersebut di atas adalah Jack Ma (Kiri) bersama temannya.

Di mata keluarga Morley, pemuda yang mengayuh sepeda, selalu aktif menyapa wisatawan asing di mana-mana untuk melatih bahasanya yang kaku, adalah pemuda yang hangat, antusias, penuh semangat dan pantang menyerah.

Kedatangannya yang tiba-tiba, sekaligus juga membawa sebuah jalinan persahabatan yang tak terduga.

Tapi, setelah itu, sekeluarga Morley sama sekali tidak menduga, pemuda Tiongkok dan jalinan persahabatan dari Danau Barat ini, bisa terus terjalin setelah perpisahan itu.

  1. Setelah David dan keluarganya kembali ke Australia, hubungan mereka tidak putus sampai disana. Jack Ma dan David sering menulis surat, dan merekapun menjadi sahabat pena.

Kedekatan mereka semakin baik. Jack Ma pun memanggil Ken sebagai Ayah. Ken sangat menyukai Jack Ma. Ken memperbaiki semua grammar Jack Ma di surat-suratnya, dan Jack Ma dapat belajar melalui surat-suratnya.

Surat pertama yang ditulis Jack Ma cilik untuk sahabatnya, David Morley.
Ken Morley dan Jack Ma. (afr.com)

Komunikasi secara surat menyurat itu berlangsung selama lima tahun.

Pada 1985 Jack Ma masuk ke Universitas Hangzhou. Saat itu ia berumur 21 tahun dan ia dinobatkan menjadi ketua mahasiswa.

Pada musim panas tahun itu, Ken mengundang Jack Ma ke Australia, “Anak muda, cobalah jalan-jalan ke Australia.”

Tidak pernah terlintas dalam benak Jack Ma pada 1985 itu bisa jalan-jalan melihat negeri lain selain Tiongkok. Ketika itu, paspor merupakan satu hal yang sangat langkah baginya.

Ken mendorong semangatnya, “Coba saja, siapa tahu kamu bisa mendapatkan paspor.”

Di bawah dorongan semangat dari Ken, Jack Ma yang berusia 21 tahun ketika itu akhirnya mendapatkan paspor secara ajaib. Namun ditahun itu sangat sulit untuk mendapatkan visa perjalanan ke Australia, hanya yang punya keperluan dinas pemerintah, pendidikan dan kunjungan keluarga yang bisa mendapatkannya. Sebanyak 7 kali secara berturut-turut visa Jack Ma ditolak.

Pada saat itu Ma Yun tinggal selama seminggu di ruang bawah tanah Beijing, dan uangya pun hampir habis.

Untuk memudahkan perjalanan Ma Yun, Ken telah melakukan berbagai upaya. Ken meminta kepada temannya di Kedubes Australia di Tiongkok untuk menjelaskan hal itu demi melancarkan visa Jack Ma.

Jack Ma tidak menyerah begitu saja. Sekali lagi ia datang ke kedutaan, ia melihat seorang pegawai kedubes berlari menghampiri, “Sudah seminggu saya menunggu, ini adalah kesempatan terakhir saya, saya berharap bisa  mendapatkan visa, saya ingin bicara serius dengan Anda.”

“Apa yang ingin anda bicarakan?”

“Visa saya telah ditolak tujuh kali, dan saya juga sudah menunngu selama seminggu. Saya tidak punya uang lagi sekarang, tapi setidaknya berikan alasannya kenapa visa saya ditolak.”

Pria itu duduk. Ma Yun menceritakan kisah tentang bagaimana ia bertemu di Danau Barat dan Ken David, dan ia tidak memiliki uang, tidak ada saudara, teman-teman di Australia, tapi saya yakin ini adalah takdir, ingin pergi dan melihat Australia

Pihak Kedubes pun meminta Jack Ma untuk menunggu 3 hari lagi setelah Jack Ma menceritakan kedekatannya dengan keluarga Ken. Namun, Jack Ma tidak mau. Ia mengatakan hanya dapat menunggu 30 menit saja. Melihat tekad Jack Ma, pihak Kedubes akhirnya mengeluarkan visa Jack Ma dalam lima menit.

Di bawah usaha keras Ken, dan Jack Ma yang tidak pernah menyerah, akhirnya Jack Ma mendapatkan visanya.

Itu adalah sebuah perjalanan yang tidak mudah.

Pada saat itu Jack Ma hanya membawa bekal US$100,- tetapi ia tidak berani memakainya, karena itu adalah uang patungan dari semua kerabatnya, baginya semua itu adalah harta milik keluarga.

Tapi perjalanan itu benar-benar mengubah perjalanan hidup Jack Ma.

Ken Morley sekeluarga tinggal di negara bagian New South Wales di pinggiran kota Newcastle, Australia. Itu adalah pertama kalinya Jack Ma keluar negeri, sebulan kemudian, ketika Jack Ma kembali ke Hangzhou, ia terlihat seperti orang yang berbeda semenjak kembali dari Australia.

32 tahun kemudian, terbayang dalam benak Jack Ma ketika untuk ketiga kalinya ia mengungjungi Newcastle, Australia. Berikut sekelumit kenangan Jack Ma ketika itu.

“Selama 29 hari di Newcastle (1985), itu adalah hari-hari yang sangat penting dalam hidup saya. Saya lahir di Tiongkok, 100% buatan Tiongkok, dan tidak pernah meninggalkan negeri Tiongkok. Tapi, belakangan Australia telah mengubah banyak pengetahuan saya di masa lalu, saya merasa Tiongkok 10 tahun kedepan perlu orang-orang berpemikiran luas seperti disini, demi kemajuan bangsanya Jack Ma banyak mengamati dan belajar dari kehidupan orang Australia. Kita membutuhkan pikiran yang lebih terbuka, kita perlu melihat segala hal dengan perspektif yang berbeda,” tutur Jack Ma.

Perjalanan itu telah membuka mata Jack Ma sekaligus mengubah masa depannya.

Dia juga merasakan dari dekat dengan adat istiadat dan kehidupan sehari-hari warga setempat.

Dari kiri ke kanan masing-masing adalah Steven Morley, Jack Ma dan seorang kerabat Morley.Di Newcastle, Jack Ma juga terkejut melihat banyak orang yang sedang olahraga Taichi di taman, itu adalah olahraga kebugaran yang disukainya.

Tentu saja, tidak hanya pengalaman saja, Jack Ma juga belajar Bahasa Inggris versi Australia.

Jalinan persahabatan Jack Ma dengan keluarga semakin kental dari hari ke hari. Sekembalinya Jack Ma dari Australia, Ken akhirnya membawa Steven putranya mengunjungi Jack Ma di Hang Zhou. Karena Jack Ma tidak memiliki tempat tinggal yang luas, ia akhirnya mengatur agar Ken sekeluarga bisa tinggal di asrama sekolah.

“Kami makan malam di rumah Jack Ma, kemudian bersepeda kembali ke sekolah,” kenang Steven. Jack Ma selalu sibuk membuat masakan untuk kami, sehingga kita tersanjung mendapat perlakuan istimewa Jack Ma.”

Saat Jack Ma liburan, ia mengajak Ken dan David jalan-jalan ke desa. Malamnya saat kembali ke Hangzhou, Jack Ma menjamu kami bahkan secara khusus mengundang beberapa tamu istimewa setempat untuk menemani.

Jack Ma mengundang Ken Morley ke Hangzhou dan makan di rumah, kami bersulang. Ken bercerita, “Jack Ma mengundang kami ke rumahnya, dan memasak untuk kami, dan kami merasa sangat senang. Dari situlah Ken merasa bahwa Jack Ma bukanlah orang desa biasa. Ken yakin bahwa Jack Ma akan sukses suatu hari nanti.”

Kehidupan di kampus Jack Ma tidaklah mudah, ia menghadapi tekanan ekonomi yang besar. Meskipun tidak perlu membayar uang kuliah, tapi perlu biaya hidup sehari-hari, dan inilah yang membingungkan orang tua Jack Ma. Melihat tekanan ekonomi Jack Ma, lagi-lagi Ken Morley mengulurkan tangan membantunya. Memang uang bantuan Ken tidak banyak, satu minggu sekitar 5 – 10 dola. Jadi setiap enam bulan, saya akan mengirimkan cek untuk Jack Ma.

Selama lebih dari dua tahun, Ken secara total telah mengirim sekitar 200 dolar Australia untuk Jack Ma.

Semua bentuk bantuan atau sumbangsih dari Ken dan Judy “Tidak bisa lagi saya lukiskan dengan kata-kata,” kata Jack Ma mengenang masa lalunya.

  1. Jalinan persahabatan ini telah berlangsung 24 tahun.

Pada September 2004, Ken menghembuskan nafas terakhirnya di usia 78 tahun. Tentu saja Jack ma merasa sedih dan kehilangan. Karena selama 24 ini Jack Ma sudah menganggap Ken sebagai sahabatnya, gurunya bahkan ayahnya. Mereka juga pernah merencanakan untuk berlibur ke Siberia dengan menggunakan kereta api.

Jack Ma muda ketika itu telah berusia 40 tahun. Dan itu telah menjadi sebuah harapan yang tidak akan pernah terwujudkan.

Seperti sekarangnya Jack Ma, tidak akan ada lagi Ken Morley yang dengan seksama dan sedikit demi sedikit memperbaiki bahasa Inggris Jack Ma seperti ketika itu.

David Morley, putra Ken Morley, sahabat penanya Jack Ma muda mengatakan, “ Ma Yun young sahabat pena David Morley. Keinginan ini tampaknya sangat tipis. Dengan status Jack Ma sekarang, saya pikir mungkin akan sangat sulit baginya untuk bisa bepergian seperti orang-orang biasa pada umumnya. Tapi saya rasa,  suatu hari nanti, saya akan mewakili ayah saya untuk mewujudkan mimpi ayah dan Jack Ma yag belum terlaksana.”

3 Febuari 2017 lalu, Jack Ma menyumbangkan dana sebesar US$ 20 juta untuk Universitas New Castle Australia sebagai balas budinya kepada Ken Morley, ayah angkatnya. Dia berharap lewat sumbangan yang ia berikan, anak-anak yang mengalami hal sama dengannya dulu dapat menggunakan uang untuk melihat dunia luar dan membuka mata hati mereka.

David Morley hadir mewakili keluarganya waktu itu, ia bangga melihat kebaikan ayahnya membuahkan hasil seseorang yang sangat luar biasa.

Jika Ayahnya dapat melihat apa yang telah Jack Ma lakukan, David percaya ayahnya akan berdiri menangis dan bangga melihat Jack yang telah menjadi pahlawan dunia.

Jack Ma bertemu dengan David Morley setelah mengumumkan program beasiswa senilai miliaran rupiah di University of Newcastle, Australia.

Banyak orang yang terinspirasi dari kisah Jack Ma dan sadar untuk tetap berusaha dan tidak menyerah dalam mengejar pengetahuan. (jhoni/rp)

Share

Video Popular