Melansir laman Fox News, ahli kebijakan luar negeri AS tengah mendiskusikan situasi di Semenanjung Korea, mereka mengatakan bahwa meskipun Tiongkok memberi tekanan dan mengisolasi Korut, atau melancarkan serangan pre-emptive terhadap Korea Utara, namun hal itu tampaknya tidak akan menghalangi tindakan rezim Pyongyang.

Dalam pertemuan darurat di Gedung Putih, Rabu (25/4/2017) lalu, Administrasi Donald Trump mengatakan bahwa “semua opsi” ada di atas meja, tapi Gedung Putih tampaknya sufah kehilangan kesabaran terhadap Pyongyang.

Dalam laporan “Newsweek”nya, mantan analis CIA Bruce Klingner mengatakan, jika Korea Utara mendapat serangan pre-emptive dari militer AS atau sekutu, pemimpin Korut Kim Jong-un mungkin akan membalasnya dengan artileri.

“Korut tidak akan mengerahkan satu juta orang personel militernya, mereka mungkin akan melancarkan serangan yang menghancurkan Seoul,” kata Klingner.

Dari sana, Perang Korea kedua mungkin akan meningkat.

Dalam buku “The Impossible State” yang ditulis pada 2012 lalu, mantan anggota Komisi AS t Victor Cha menyebutkan, Korea Utara bisa membuat warga Korea Selatan lemah dengan senjata kimia, memutuskan kemungkinan jalur pelarian mereka dan mulai menyerang Korea Selatan.

Selain itu, Korea Utara akan meluncurkan 600 rudal Scud yang membawa senjata kimia ke bandara, stasiun kereta api dan pelabuhan laut Korea Selatan, sehingga warga sipil tidak dapat melarikan diri.

Korea Utara mungkin memiliki rudal jarak menengah yang membawa senjata kimia, dan diluncurkan ke pangkalan militer AS dan Jepang, mengakibatkan kesulitan memobilisasi pasukan kedua negara.

Menurut ahli perang AS, bahwa Pyongyang akan menduduki Seoul sebelum sekutu sempat memberikan dukungan militer ke Korea Selatan.

“Bisa dibayangkan perang yang kemungkinan meletus di semenanjung Korea 2017 ini akan menjadi pertempuran yang paling mematikan,” komentar Victor Cha.

Meskipun mengalami serangan dari gelombang pertama Korut, namun, para perencana perang percaya AS dan Korea Selatan akan berada di atas angin, tapi korban bisa menjadi bencana besar.

Gary Luck, komandan dari US-Republic of Korea Forces, semasa pemerintahan Bill Clinton pada 1994 memperkirakan, bahwa babak baru Perang Korea dapat mengakibatkan 1 juta korban jiwa dan kerugian ekonomi sekitar satu triliun dolar AS.  (jhoni/rp)

Share

Video Popular