Baru-baru ini, “transplantasi kepala manusai’ kembali bikin geger, pasalnya ilmuwan dan ahli saraf dari Italia, Sergio Canavero, mengejutkan dunia ketika ia mengumumkan akan melakukan transplantasi kepala manusia.

Kepada awak media, Canavero mengumumkan bahwa operasi tersebut akan dilakukan dalam 10 bulan ke depan. Canavaro akan bekerja sama dengan Xiaoping Ren, seorang ahli bedah saraf dari Harbin Medical University di Tiongkok.

Menurut laporan media, transplantasi kepala sangat rumit dan kompleks, diperkirakan butuh 36 jam untuk menyelesaikan operasi terkait, dan biaya untuk operasi ini sekitar 7,5 juta poundsterling atau setara dengan Rp. 128,7 miliar. Biaya yang sangat fantastis.

Prosedur ini menggunakan pisau ultra-tajam, bagian kepala yang akan dicangkokkan dibekukkan dan dibersihkan. Setelah memutus sumsum tulang belakang—yang merupakan bagian terpenting dalam operasi ini—kepala akan ditransplantasikan ke tubuh donor. Tibalah bagian yang sangat rumit, yakni menyambungkan kembali sumsum tulang belakang.

Teknik Canavero ini akan menggunakan polietilena glikol, senyawa yang dikenal karena kemampuannya untuk memadukan membran sel lemak. Namun, banyak ahli medis profesional yang sangsi atas kesuksesan operasi ini, dan menyatakan bahwa operasi itu aneh dan mustahil.

Ketika diwawancarai, Ren Xiaoping menyatakan bahwa meskipun telah menerima undangan dari Canavero, tetapi itu hanya pada tahap konsultasi, dan membantah rumor diluar yang mengatakan bahwa operasi “transplantasi kepala” akan dilakukan pada 2017 dan terkait hal iu juga tidak ada penentuan waktunya, kata Ren.

Transplantasi organ manusia tampaknya sudah merupakan operasi yang lazim saat ini, sebelumnya ada seorang wanita yang menjalani operasi pencangkokan di seluruh wajah setelah kecelakaan mobil, namun, bagaimana dengan pencangkokan kepala manusia ?

Dokter Sergio Canavero mengatakan kepada kami bahwa operasi kepala bukan mimpi, meskipun terdengar sangat mengerikan, tapi ia benar-benar telah menemukan seorang relawan usia 30 tahun bernama Valery Spiridonov.

Sejak lahir Spiridonov mengidap spinal muscular atrophy (penyakit genetik otot-saraf), yang mengarah pada atrofi otot. Saat berusia 1 tahun, Spiridonov didiagnosis mengidap penyakit, dan sejak saat itu otot Spiridonov mulai berhenti tumbuh, cacat tulang, dan tidak bisa berjalan.

Sebagian besar pasien yang menderita spinal muscular atrophy atau atrofi otot tulang belakang tidak akan bertahan lebih dari 20 tahun, tetapi bisa hidup selama puluhan tahun, siksaan (penyakit) yang menderanya setiap hari itu membuat Spiridonov bersedia untuk mencoba pengobatan apapun.

Sadar dirinya cepat atau lambat akan mati, sehingga dengan tanpa ragu Spiridonov menghubungi Dr. Canavero, dan menyatakan bersedia menjalani operasi yang sangat kontroversial ini. Sudah dua tahun ia menjalin kontak via email dan komunikasi lewat skype dengan Canavero, dan ia sudah siap kapan saja untuk menerima tantangan yang luar biasa ini.

Ketika ditanya “apakah takut menjalani operasi itu? ya sudah pasti takut !” katanya.  “operasi itu tidak hanya mengerikan, tapi juga sangat menakutkan dan menarik. Anda harus mengerti saya tidak punya banyak pilihan sekarang, jika saya tidak memanfaatkan kesempatan ini, mungkin hidup saya akan berakhir begitu saja, kondisi fisik saya sekarang semakin menurun (buruk) dari hari ke hari.

Pisau operasi yang digunakan harus benar-benar tajam untuk memotong kepala Spiridonov dan kepala pendonor (almarhum), kemudian kepala Spiridonov dicangkokkan ke tubuh pendonor yang sehat, lalu melekatkan suatu zat yang disebut polyethylene glycol, yang mampu menyatukan jaringan otak dan tubuh. Tugas yang paling penting adalah menggabungkan sumsum tulang belakang.

Setelah operasi transplantasi selesai, Spiridonov akan memasuki koma sekitar 4 minggu, untuk membantu penyembuhan diri pada tubuhnya. Dr. terkait memperkirakan, bahwa setelah operasi, Spiridonov mampu bergerak sendiri, bisa bicara dan punya indera raba. Selama dibantu dengan Antirejection medications dan immunosuppressive drug, maka kedua bagian anggota tubuh bisa menyatu dan berfungsi normal.

Ketika ditanya mengapa bersedia menjalani operasi yang begitu ekstrim, “saya nyaris kehilangan kendali atas tubuh saya sendiri, setiap saat perlu bantuan orang lain, meskipun mereka yang menderita penyakit ini jarang bisa bertahan hidup sampai 20 tahun, tapi faktanya saya benar-benar sudah hidup 30 tahun”, pungkas Spiridonov.

Sekitar 2012, Ren kembali ke Harbin, Ren tak asing lagi dengan transplantasi kepala sebab ia telah melakukan operasi tersebut pada tikus yang berbeda pada tahun 2013. Dengan operasi yang berjalan selama 10 jam, tikus bisa bernapas, minum, bahkan melihat. Tim Ren kemudian memutuskan melakukan tantangan yang lebih besar yakni transplantasi kepala Primata.

Banyak dokter internis mengkritik Canavero yang berpikir terlalu sederhana terkait penyatuan tulang belakang. Dan atas pertimbangan ini, Dr.Canavero tidak dapat mengumpulkan 10 juta dolar dukungan dana yang dibutuhkan, juga tidak dapat menemukan 150 dokter untuk keberhasilan operasinya.

Bagaimanapun juga, memang tidak berlebihan jika kita menyebutnya Dr. Frankenstein versi modern, tokoh dokter ambisius yang menghidupkan orang mati dalam film dengan judul yang sama (Frankenstein). Sejumlah dokter juga menyatakan, bahwa jika operasi benar-benar berhasil, Spiridonov mungkin akan mengalami hal yang lebih mengerikan daripada mati.  (Jhon/asr)

 

Share

Video Popular