Erabaru.net. Hal yang disebut “karakteristik Tiongkok” dalam budaya Tiongkok yang saat ini masih bertahan walaupun banyak pengaruh dari kebudayaan bangsa lain di seluruh dunia.

Terlebih saat ini adalah era globalisasi, dimana pengaruh luar negara sangat mudah masuk menembus batas negara Tiongkok.

Hal ini membuat orang bertanya-tanya apa alasan dibalik fenomena menarik yang sekarang ada dalam karakteristik budaya orang-orang Tiongkok ini. Berikut adalah beberapa karakteristik tersebut:

Semua pemimpin suka mengadakan pertemuan, tapi tidak ada yang dibahas

“Rapat” di Tiongkok sangat berbeda dengan rapat di negara lain, terutama di kalangan pemimpin politik Tiongkok. Di luar negeri, pertemuan diadakan untuk menyelesaikan perbedaan atau memecahkan masalah melalui diskusi, dan dengan demikian keputusan akhir dapat dibuat.

Namun, dalam budaya Tiongkok saat ini, masalah seperti itu tidak pernah dibahas dalam sebuah pertemuan, karena pendapat yang berbeda telah diatasi secara pribadi sebagai “trade-off” sebelum pertemuan atau pada saat “makan malam pribadi para pemimpin.” Sebuah pertemuan formal, dari awal sampai akhir, hanyalah formalitas belaka.

Selain itu, pemungutan suara secara langsung di suatu pertemuan lebih disukai di Tiongkok sehingga semua orang tahu siapa yang sepakat ataupun tidak, terhadap usulan yang dikeluarkan peserta rapat.

Hampir semua pemungutan suara dalam pertemuan berhasil dilakukan, tidak kontroversial, dan usulan-usulan tersebut bahkan “disahkan dengan suara bulat”.

Namun sebenarnya ini adalah hasil dari “menyelamatkan muka” dan ketakutan akan penindasan oleh rezim pemerintah totaliter Tiongkok.

Di Tiongkok, kata-kata yang tidak pantas bisa ditindakpidanakan. Dengan demikian, orang dipaksa untuk menutupi apa yang diinginkan dalam pikiran mereka, dan mengikuti begitu saja apa kata pimpinan.

Hak untuk bertahan hidup lebih penting dari HAM

Bagi kebanyakan orang Tiongkok, mempertahankan hidup lebih penting daripada hak asasi manusia. Jika kehidupan seseorang tidak dapat dijaga, tidak ada gunanya mengadvokasi hak asasi manusia.Namun, konsep ini sebenarnya benar-benar menyesatkan, walaupun diterima secara luas di Tiongkok.

Yang disebut HAM jauh berbeda dari hak untuk sekedar hidup. Hak untuk hidup telah datang secara alami saat lahir dan tidak perlu disertifikasi oleh undang-undang. Tapi hak-hak yang termasuk dalam hak asasi manusia, terutama hak politik, seharusnya dimiliki oleh semua warga negara. Namun, HAM yang seharusnya dilindungi undang-undang dapat dicabut oleh pemerintah dengan mudah.

Tidak heran jika undang-undang perlindungan hak asasi manusia di Tiongkok hanya sedikit, dan Tiongkok adalah salah satu negara yang memiliki catatan pelanggaran hak asasi manusia terburuk di dunia.

Undang-undang perlindungan hak asasi manusia di Tiongkok hanya sedikit, dan Tiongkok adalah salah satu negara yang memiliki catatan pelanggaran hak asasi manusia terburuk di dunia. (Gambar: Beijing Patrol via flickr/CC BY 2.0)

Rumah dapat dibeli, tetapi kepemilikan tanah / lahan tidak termasuk

Menurut undang-undang pertanahan Tiongkok, lahan pedesaan adalah milik bersama, sehingga tidak boleh dimiliki seseorang atau satu keluarga petani, sedangkan tanah perkotaan milik negara, bukan milik pribadi. Orang perlu menyewa tanah dari pemerintah. Inilah alasan mengapa semua tingkat pemerintahan dapat terus menerima uang dengan mengumpulkan biaya terus menerus dari masyarakat yang menggunakan tanah.

Hubungan antara pejabat dan pengusaha adalah yang paling dekat

Di Tiongkok, jika ingin kaya, Anda perlu mengandalkan pemerintah. Jika seorang pengusaha ingin menghasilkan lebih banyak uang, dia perlu menjalin hubungan dekat dengan pejabat pemerintahan. Jika pejabat ingin sukses dalam karir mereka, pertama-tama mereka perlu tahu bagaimana “mengundang bisnis dan menarik investasi dari para pengusaha”.

Dengan kata lain, salah satu manifestasi untuk menjadi pejabat yang sukses adalah dengan dapat menjalin hubungan dekat dengan pengusaha, dan kemudian kedua belah pihak dapat saling melengkapi, memainkan peran mereka bersama, bekerja sama dan bahagia bersama.

Di Tiongkok, masyarakat tidak dapat mengkritisi pemimpin mereka, terutama pemimpin negara, supaya tidak menimbulkan konsekuensi yang mengerikan (Gambar: pixabay / CC0 1.0)

Pemuja pemimpin

Pemujaan pemimpin dapat ditemukan hampir di semua tempat dan di semua institusi di Tiongkok. Di setiap sudut, kalimat seperti “Saya hanya mendengarkan bos!” dapat didengar setiap saat. Hal ini membuat atasan menjadi diktator, bossy, dan sombong.

Fenomena ini mungkin diwariskan dari beberapa ribu tahun otokrasi Tiongkok dan hingga sekarang ke Partai Komunis Tiongkok. Sehingga, masyarakat Tiongkok tidak bisa mengkritik pemimpin mereka, terutama pemimpin nasional, supaya tidak menimbulkan konsekuensi yang mengerikan. (jul/rp)

 

Share

Video Popular