Erabaru.net. Evolusi konvergen adalah apa yang terjadi ketika alam mengambil langkah berbeda dari titik awal yang berbeda hingga menciptakan hasil yang serupa. Seperti kelelawar, burung, dan kupu-kupu yang memiliki sayap; Hiu dan lumba-lumba yang memiliki sirip; Dan ekidna (bulu babi) dan landak yang memiliki duri. Atau, jika Anda ingin mematahkan pendapat ilmuwan tradisionalis, bicarakan tentang evolusi manusia dan gurita dan bagaimana keduanya bisa memiliki kesadaran.

Inilah dorongan pikiran lain: Gurita, laut, dan asal-usul kesadaran yang dalam

Sebuah buku yang ditulis berdasarkan pengalaman seorang penyelam scuba yang juga merupakan ilmuwan biologi bernama Peter Godfrey-Smith, ilmuwan asal Australia yang sekarang telah menjadi profesor terkemuka di tingkat pascasarjana University of New York City. Buku itu kemudian ditulis oleh Olivia Judson di The Atlantic, dan Anda harus membaca semuanya. Namun, yang membuat saya terpesona adalah bagaimana penggambaran delapan tentakel yang dimiliki gurita, dan bagaimana sifat mereka yang menantang konseptualisasi kecerdasan kita.

“Sebenarnya kita bisa melakukan kontak dengan binatang kelas sefalopoda seperti kita melakukan kontak dengan orang lain. Ini bukan karena kesamaan sejarah atau kekerabatan, tapi karena evolusi konvergen yang membangun pikiran binatang kelas sefalopoda sebesar dua kali lipat,” kata Godfrey-Smith.

Pemikiran gurita adalah dari hasil evolusi, menyebabkan gurita memiliki intelegensi yang tinggi. Bahkan, Godfrey-Smith membuat pernyataan mencengangkan, “Binatang ini mungkin dapat menolong kita, jika kita akan mengadakan pertemuan dengan alien yang cerdas.” Godfrey-Smith bukanlah orang pertama yang berpikir demikian. Terdapat mitos Hawaii yang berpendapat bahwa gurita adalah satu-satunya makhluk yang tersisa dari inkarnasi Bumi sebelumnya, membuat mereka lebih mirip makhluk prototerestrial daripada ekstraterestrial.

Manusia dan gurita berbagi leluhur yang telah ada sejak 600 juta tahun yang lalu:

Sejak berpisah dari manusia, gurita telah memiliki mata versi mereka sendiri, seperti kera, mereka terampil, mampu memanipulasi benda-benda di dunia. Beberapa penyelam atau snorkeler yang pernah bertemu dengan gurita, ingin mendekatinya dan menjadikannya teman, seperti manusia yang mencintai hewan anjing, kucing, dan kambing. Mereka juga memiliki 500 juta neuron, menurut catatan Judson, itu setara dengan marmoset. Lebih dari setengahnya didistribusikan melalui tentakel mereka. Dalam sedikit simetri yang aneh, manusia memiliki jumlah neuron yang sama seperti usus gurita.

Jika ini bukan tanda kecerdasan, lantas apa itu?

Ini adalah kehebatan gurita yang membuatnya begitu sulit untuk dinilai, apakah dia memiliki pikiran atau kecerdasan ataupun kesadaran atau bahkan kata-kata yang cerdas. Mengapa tugas yang mengukur kognisi manusia juga dapat relevan untuk mengukur kecerdasan binatang sepalopoda? Hal tersebut memang sulit dilakukan, mengingat gurita adalah peserta eksperimen yang sulit diatur, yang diketahui dapat menghancurkan peralatan uji.

Bagaimana kita bisa menangkap gerakan pikiran gurita jika, seperti yang dikatakan Godfrey-Smith, jika setiap tentakel mungkin memiliki “pikiran” yang berbeda. Karena sejarah evolusioner yang sangat berbeda, dan lingkungan yang disesuaikan dengan kondisi hewan tersebut, membuat kecerdasan gurita terstruktur dengan cara yang sangat berbeda dengan manusia.

“Mereka benar-benar makhluk terdepan di antara hewan invertebrata lainnya,” tutur Godfrey-Smith kepada Harvard Gazette. Dia menambahkan dari sudut pandang filosofi pikiran,bahwa ini adalah masalah besar. “Saat mencoba menilai kecerdasan mereka, para ilmuwan kemungkinan besar harus mengkoreksikan kembali pemahamannya tentang kecerdasan manusia yang disebut memiliki kecerdasan sempurna diantara makhluk hidup lainnya,” imbuhnya.( spiritegg.com/Intan)

Share
Tag: Kategori: SAINS SAINS NEWS

Video Popular