Oleh: Xie Tianqi

Erabaru.net. Pada 12 Mei sekitar pukul 20:00, virus jenis “worm” baru WannaCry merebak. Hingga saat ini virus tersebut telah menimbulkan serangan internet berskala besar berupa piranti pemeras.

Ratusan ribu komputer di ratusan negara dan wilayah di seluruh dunia termasuk Amerika Serikat, Inggris, Tiongkok, Rusia, Spanyol dan Italia, telah terjangkit virus ransomware ini, hacker WannaCry mengendalikan komputer untuk memeras uang senilai USD 300 berupa mata uang bitcoin dari setiap komputer yang dikendalikannya.

Virus Ransomware Diduga Terkait Dengan Korut, Terjadi Bersamaan Dengan Peluncuran Rudal Korut

Setelah virus piranti pemeras WannaCry merebak, media massa AS dan Inggris memberitakan bahwa kian lama kian banyak bukti menunjukkan, Korut diduga berada di balik peristiwa serangan virus ransomware ini.

Kepala Riset Global dari pembuat antivirus Kaspersky yakni Costin Raiu dalam Twitter nya menyatakan, pengkodean pada ransomware ini ada kemiripan dengan sepenggal program hacker Korut yang dulu pernah memeras situs SONY.

Tiga perusahaan antivirus yakni Symantec AS, Kaspersky Rusia, dan Huari Korea Selatan serempak menyatakan, mereka menemukan ransomware bernama WannaCry ini mengandung pengkodean program yang sama dengan yang pernah digunakan oleh para hacker Korut.

Para hacker Korut ini menggunakan piranti hacker yang mengandung kode program seperti ini, untuk menyerang bank-bank di Korea Selatan, stasiun TV, dan juga situs internet SONY Jepang.

Surat kabar “Wall Street Journal” AS pada 17 Mei mengutip informasi pejabat keamanan nasional Korsel yang mengatakan, pasukan hacker inti Korut berskala mencapai 1700 orang, di samping itu masih ada lebih dari 5000 orang lagi sebagai tim pendukung.

Pusat Riset Intelek AS (CSIS) bulan Agustus 2016 dalam sebuah laporan menekankan, Korut menjalankan tim hacker sebanyak 3000 orang, disebut Biro 121, yang mampu menyusup ke dalam sistem internet dan menyebarkan virus internet.

Di tengah serangan virus WannaCry, rezim Kim Jong-un Korut tidak menghiraukan peringatan DK PBB dan sanksi dari AS, RRT, Jepang, Korsel, rudal mereka pun tetap diluncurkan masing-masing pada  14 Mei dan 21 Mei. Kedua kejadian yang bersamaan memprovokasi masyarakat internasional ini, timing yang “secara kebetulan” itu membuat semua pihak curiga.

Tiongkok Jadi Zona Bencana Ransomware Terparah, Kim Jong-Un Luncurkan Rudal Kacaukan KTT Belt and Road Beijing

RRT telah menjadi zona bencana terparah serangan ransomware WannaCry, komputer di sebanyak 40.000 institusi terserang virus ini. Organisasi dan institusi yang terjangkit virus ini mencakupi seluruh wilayah, ruang lingkup dampaknya meliputi sekolah tinggi, stasiun KA, server, kantor pos, pom bensin, rumah sakit, keamanan publik dan banyak server unit pemerintah lainnya.

Serupa dengan serangan ransomware ini, Kim Jong-un meluncurkan rudal juga sangat berpengaruh mengacaukan forum KTT Belt dan Road (Sabuk dan Jalan) Beijing; peristiwa ini banyak diberitakan media internasional.

Peluncuran rudal oleh Korut pada tanggal 14 Mei bertepatan dengan pembukaan KTT Belt dan Road yang digelar Xi Jinping. Pada upacara pembukaan itu, seusai Xi Jinping berpidato, Kemenlu PKT langsung menyampaikan kecaman atas peluncuran rudal oleh Korut.

Surat kabar “New York Times” menyebutkan, terhadap perbuatan Korut pihak PKT selalu diam, sekalipun baru-baru ini Korut melakukan uji coba peluncuran misil dan mungkin melakukan serangan virus ransomware, ini jelas tamparan telak bagi Xi Jinping, tapi Beijing tetap diam tak bersuara (hanya berupa protes-protes saja). Artikel meragukan, seberapa besar kesabaran Beijing terhadap tetangganya yang satu ini.

Senjata Nuklir Korut dan Hacker, Terkait Erat dengan Kelompok Jiang Zemin

Perlahan telah terungkap bahwa perkembangan senjata nuklir Korut didukung dan dikendalikan oleh kelompok Jiang Zemin, apalagi dalam 11 tahun terakhir lima kali uji ledak nuklir selalu terjadi berbarengan dengan konflik maut internal antara dua kubu dalam jajaran elite PKT.

Media AS beranggapan bahwa rudal Korea Utara mungkin telah menggunakan sistem navigasi satelit PKT. Gambar ini menampilkan parade militer Korea Utara pada bulan April tahun ini dalam rangka memamerkan rudal mereka. (STR/AFP/Getty Images)

Setelah Korut meluncurkan misil 14 Mei lalu, disebutkan uji coba peluncuran itu bertujuan untuk menguji “rudal balistik strategis jarak jauh dan menengah yang dapat membawa hulu ledak nuklir berbobot besar”; dubes Korut di RRT yakni Ji Jae-ryong saat diwawancara di Kedubes Korut di Beijing mengatakan, “Korut akan melakukan uji coba rudal antar benua kapan pun dan dimana pun.”

Agustus 2016 lalu, Xi Jinping dan Wang Qishan mengungkap kasus suap di Liaoning; serta bekerjasama dengan AS dan Korsel mengungkap pengusaha wanita Ma Xiaohong terlibat kasus senjata nuklir Korut.

Menurut nara sumber yang dekat dengan Zhongnanhai (pusat pemerintahan RRT) mengatakan, Ma Xiaohong adalah wanita simpanan anggota Komisi Tetap Politbiro PKT Zhang Dejiang (dari grup Jiang) merangkap sebagai mata-mata senior yang memiliki “hubungan istimewa” dengan kubu Jiang Zemin juga para petinggi Korut. Ma Xiaohong merupakan kunci penting hubungan Zhang Dejiang dengan Korut.

Kubu Jiang Zemin mendukung proyek senjata nuklir Korut, langkah konkritnya dilakukan oleh Ma Xiaohong berkat pengaturan oleh Departemen Internasional Komite Sentral PKT. Sebelumnya kaum intelek AS dan Korsel pernah melaporkan, perusahaan milik konglomerat wanita Ma Xiaohong yang telah ditangkap itu yakni Hong Xiang Company di Dandong, Liaoning telah membantu Korut membangun pangkalan hacker di Shenyang, dan terlibat dalam kasus penyusupan ke SONY Film. Serangan hacker Korut berasal dari hotel Qibaoshan di Shenyang yang dibangun oleh Korut dan Hong Xiang Company.

Setelah merebaknya ransomware WannaCry ini, sejumlah jejak/indikasi menunjukkan mungkin ada warga RRT terlibat di dalamnya, juga mengisyaratkan kelompok Jiang Zemin mungkin terlibat dalam ikut mengendalikan serangan kejahatan internet tersebut.

Surat pemerasan yang muncul pada tampilan depan komputer yang terserang virus ini bisa memilih sendiri berbagai macam bahasa termasuk Bahasa Mandarin, Korea, Jepang, Inggris, dan lain-lain.

Isi surat itu adalah jika ingin membuka data di dalam komputer Anda, harus terlebih dahulu membayar dengan bitcoin senilai USD 300 (hampir 4 juta rupiah), jika dalam satu minggu tidak membayar, maka data Anda selamanya tidak akan bisa dikembalikan lagi.

Tidak sedikit  netizen yang pernah melihat surat dalam versi Mandarin maupun Inggris ini menemukan, di dalam surat bahasa Mandarin susunan kata dan kalimat sangat baku bahkan dibumbui sedikit “humor”, sementara dalam surat berbahasa Inggris, susunan kata dan tata bahasanya sangat kaku bahkan terdapat beberapa kesalahan sehingga dicurigai para hacker terdiri dari warga RRT atau setidaknya ada anggota warga RRT di dalamnya.

Merebaknya virus WannaCry kali ini mengungkap unsur ganda adanya keterlibatan duet antara Korut dan RRT, ada satu kemungkinan yakni kelompok Jiang Zemin yang sedang disapu bersih oleh pemerintah Xi Jinping sedang melancarkan serangan hacker yang lebih berbahaya, mengendalikan rezim Kim Jong-un untuk melakukan pemerasan melalui serangan virus tersebut, dan dengan gertakan senjata nuklir Korut berusaha melakukan rontaan terakhir.  (sud/whs/rp)

Share

Video Popular