- Erabaru - http://m.erabaru.net -

Tiongkok Memimpin Penemuan Kandungan Ekstraksi Es yang Mudah Terbakar

Erabaru.net. Kini Tiongkok menjadi salah satu negara yang mengembangkan revolusi energi terbesar setelah berhasil mengumpulkan sampel hidrat metana, yang juga dikenal sebagai “es yang mudah terbakar,” dari dasar laut di Laut Tiongkok Selatan.

Meskipun kondisi di perairan Laut Tiongkok Selatan masih tegang karena klaim Tiongkok terhadap perairan Laut Tiongkok Selatan, para penambang Tiongkok berhasil mengekstrak es yang mudah terbakar, yang merupakan substansi yang penting dalam merevolusi industri energi dalam skala global.

Para penambang berhasil mengekstrak rata-rata setinggi 16.000 meter kubik gas per hari dengan kemurnian tinggi. Setelah hampir dua dekade melakukan penelitian dan eksplorasi, Menteri Pertanahan dan Sumberdaya Tiongkok, Jiang Daming, mengatakan di lokasi penambangan bahwa,

“Terobosan besar ini bisa mengarah pada revolusi energi global.”

Uji coba tambang dilakukan dari kedalaman 1.266 meter di bawah permukaan laut di wilayah Laut Tiongkok Selatan, tepatnya sejauh 285 km tenggara Hong Kong.

“Para teknisi mengekstraksi gas, yang terjebak dalam kristal es, dan mereka mengubahnya menjadi gas alam dalam operasi tunggal pada platform produksi terapung.” kata menteri tersebut menambahkan.

Tiongkok juga mendatangkan hidrat metana dari Universitas Texas di Austin.

Namun, para ahli mengatakan bahwa produksi berskala besar masih baru bisa dilakukan bertahun-tahun lagi, dan telah memperingatkan bahwa jika tidak dilakukan dengan benar, itu bisa membanjiri atmosfer dengan gas rumah kaca yang merubah iklim.

[1]
Menteri Pertanahan dan Sumber Daya Tiongkok Jiang Daming (3 dari kanan) mengumumkan keberhasilan penambangan es yang mudah terbakar di laut, di lokasi uji coba, di wilayah Shenhu, Laut Tiongkok Selatan. (Gambar : Xinhua/Liang Xu)

Es yang mudah terbakar adalah hidrat gas alam yang mengandung molekul metana, dan pada dasarnya dapat ditemukan terkubur di bawah dasar laut dan hamparan permafrost di seluruh dunia. Kelihatannya seperti es, tapi saat meleleh atau tertekan,hidrat metana berubah menjadi air dan gas alam, dan sangat mudah terbakar.

Secara teknis hidrat metana, dikenal dapat menyala dalam keadaan beku, dan diyakini sebagai salah satu bahan bakar fosil paling melimpah di dunia. Satu meter kubik es yang mudah terbakar sama dengan 164 meter kubik gas alam.

Professor Praveen Linga dari Departemen Teknik Kimia dan Biomolekuler Universitas Nasional Singapore mengatakan, “Kelihatannya seperti kristal es, tapi jika Anda memperbesar pada tingkat molekuler, Anda akan melihat molekul metana terkurung dalam molekul air.”

Menurut Kepala Biro Survei Geologi Tiongkok, Zhong Ziran, gas hidrat alami diyakini merupakan energi pengganti terbaik untuk gas alam dan minyak. Apalagi, es api lebih ramah lingkungan dan jumlah cadangan energinya sangat besar.

Namun demikian, pernyataan tersebut tidak sepenuhnya akurat; Yang terpenting, es api pasti memiliki resiko.

Metana adalah gas rumah kaca yang kuat (GRK), setidaknya 25 kali lebih kuat daripada karbon dioksida. Para ilmuwan telah berbagi keprihatinan mereka, mengatakan bahwa pelepasan metana selama proses ekstraksi dapat meningkatkan emisi gas rumah kaca, sehingga akan berdampak besar pada peningkatan pemanasan global.

Meskipun pembakaran gas alam lebih bersih dari pada batubara, emisi gas rumah kaca masih menciptakan emisi karbon. Juga harus diingat bahwa es yang mudah terbakar masih merupakan bahan bakar fosil yang tidak terbarukan, dan kita harus memastikan bahwa hal itu tidak akan bisa menggantikan energi terbarukan seperti tenaga surya dan angin.

Meskipun ada rintangan teknologi dan lingkungan yang harus ditangani, industri bahan bakar fosil tidak akan menghentikan kenyataan bahwa es yang mudah terbakar memang lebih bersih dari pada hidrokarbon tradisional. (jul/rp)