Erabaru.net. Sebagai Orang tua/ayah-ibunya anak-anak, setiap hari harus bekerja dan mengurus anak-anak. Pekerjaan dan beban hidup keluarga terkadang membuat kita stress berat. Ketika anak-anak mulai bandel, ada orang tua yang seketika menjadi emosi lalu membentak anak-anak, dan ini menjadi cara yang sering digunakan untuk melampiaskan emosi.

“Kamu mau makan atau tidak!”

“Cepat selesaikan PR-mu!”

“Disuruh tidur malah main lagi!”

Akibatnya, karena teriakan keras dan bentakan orang tua berkali-kali, membuat harga diri anak-anak yang introvert itu sangat terluka. Sementara anak-anak yang ekstrovert cenderung lebih “cuek-tidak peduli”, sehingga tetap akan bersikap tidak peduli sedikitun meski melakukan kesalahan yang sama.

Ketika Anda berpikir telah menggunakan sistem yang keras “cepat, akurat dan kejam (tegas)” yakni marah, namun, tak tahunya, cara seperti itu bukan hanya tidak efektif dalam mendidik anak anda, tapi juga menunjukkan “anda adalah seorang kepala rumah tangga yang buruk”.

Jadi, jelas bahwa “berhenti marah-marah/membentak” adalah pola pendidikan yang paling utama bagi “kepala rumah tangga yang selalu mengaum” – kiasan untuk seseorang yang lekas naik pitam dan berteriak marah.  Berhenti marah-marah/membentak adalah saluran komunikasi yang baik antar orangtua-anak, dan langkah pertama orang tua menuju ke pola pendidikan keluarga yang tepat.

Coba renungkan sejenak saat dalam keadaan tenang, meskipun si anak nakal, tetapi masih jauh lebih baik daripada kelakuannya di luar rumah yang mengkhawatirkan. Jadi, saat memikul “beban yang paling manis”, anda harus bisa belajar mengendalikan emosi diri, gunakan nada ucapan yang lembut dan berikan sebuah lingkungan pertumbuhan yang lapang pada anak-anak.

Dalam hubungan antar orangtua-anak, mengendalikan emosi diri itu perlu dicoba dan diubah secara bertahap. Berikut direkomendasikan tiga metode yang efektif.

Introspeksi setelah emosi (marah-marah)

Dalam kondisi yang bagaimana, apa sebabnya, mengapa, seberapa sering? Catat apa yang menyebabkan anda emosi, kronologinya, dan reaksi anak-anak. Meskipun anak-anak masih kecil, tapi pola pendidikan Anda akan terhimpun di dalam hatinya (pikiran), yang akan menghasilkan dampak yang mendalam pada dirinya.

Sebelum kehilangan kendali diri, jeda dulu selama tiga detik.

Coba renungkan sebab yang membuat anda murka. Apakah (karena) ia sedang mencari perhatian? Apakah ia kurang perhatian? Apakah ia belum bisa mengerti dengan pelajarannya? atau bimbingan orang tua kurang memadai?

Biarkan anak-anak yang mengatasinya sendiri.

Biarkan anak-anak yang menyelesaikan “kekacauan”yang ditimbulkannya, supaya ia tahu dengan keseriusan masalahnya. Jangan mengharapkan anak-anak bisa menyelesaikan masalahnya dengan cepat, karena siapapun sulit untuk berpikir dalam keadaan tegang.

Waktu adalah cara terbaik untuk mendinginkan suasana hati, saat seperti ini, adalah waktunya orang tua berkomunikasi dengan anak-anak, waktunya anak-anak belajar mencoba mengatasi berbagai masalah.

Ketika Anda tidak lagi marah-marah, akan lebih merasa bahwa “semuanya di bawah kendali,” karena anda tidak kehilangan kendali diri. Sehingga dengan demikian Anda dan anak Anda memiliki lebih banyak kesempatan untuk saling memahami pandangan masing-masing.

Dengan demikian pula emosional anak-anak akan lebih stabil. Dan Anda akan lebih memiliki kapasitas yang lebih luang untuk merasakan cinta kasih anak-anak terhadap Anda. (jhony/rp)

Sumber:  Coco.01.net.mal

Share

Video Popular