Oleh: Cheng Xiaorong

Erabaru.net. 2. Pembantaian Massal Khmer Merah

Berbicara tentang “Khmer Merah” orang langsung teringat “Kuburan massal” dan “Ladang Pembantaian (Killing Field)” yang dipenuhi dengan tumpukan tengkorak.

Pada 17 April 1975, begitu Khmer Merah berhasil mengalahkan pasukan Republik Kamboja yang didukung Amerika Serikat, maka mulai melakukan revolusi komunisme pemusnahan bangsanya sendiri selama hampir 4 tahun.

Mereka pertama-tama melakukan aksi penggusuran besar-besaran yang jarang terjadi dalam sejarah umat manusia. Di bawah todongan senjata, 2 juta penduduk Phnom Penh dipaksa pindah terpencar-pencar ke pedalaman, mayat penduduk yang telah berusia lanjut dan anak-anak berserakan di pinggir jalan.

Dibawah kekuasaan Pol Pot, pemimpin Khmer, yang hendak membuat negaranya kembali ke “Era Titik Nol”, peradaban manusia telah merosot ke titik terendah dalam sejarah.

Dalam kurun waktu 3 tahun 8 bulan, hampir 2 juta penduduk Kamboja telah terbunuh atau tewas karena kelaparan dan terlampau lelah, angka tersebut mencapai ¼ dari penduduk Kamboja.

Di sebuah ladang pembantaian yang dibuka untuk turis, pemandu menjelaskan, demi menghemat peluru, pembantaian yang dilakukan Khmer Merah sebagian besar menggunakan pukulan keras dengan tongkat ke arah kepala atau dipenggal dengan kapak.

Hal yang lebih sadis lagi adalah menjinjing kedua kaki balita, lalu kepalanya dihempaskan ke batang pohon besar hingga tewas, hingga kini masih dapat disaksikan gigi-gigi anak yang tertancap pada batang pohon itu.

Bagi wanita, sebelum dibunuh  diperkosa terlebih dahulu, kemudian kedua matanya ditutup, lalu dipukul keras hingga tewas dengan batang kayu dalam keadaan telanjang bulat.

Pada 17 April 2015, dalam peringatan 40 tahun berakhirnya perang saudara di Kamboja, Huot Huorn, seorang penduduk yang selamat dari pembantaian massal mengatakan kepada wartawan, “40 tahun silam, Pol Pot mengubah Kamboja menjadi neraka dan rumah setan.”

Dia membakar dupa bagi 36 teman dan kerabat yang telah tewas sembari mengatakan, ”Hingga kini saya masih sangat membenci pemerintahan itu, …. Kejahatan mereka masih terpatri jelas dalam benak saya, mereka sengaja membuat kami lapar, tidak memberi makan-minum bagi tahanan, hingga mati kelaparan, ….Saya menyaksikan mereka membenturkan kepala anak ke batang pohon.”

3. Tirani Partai Komunis Tiongkok (PKT)

PKT, pernah memberikan dukungan moril dan materiil terbesar kepada Khmer Merah. Sesungguhnya, kedua tangan PKT berlumuran darah rakyat Kamboja yang mengalami penindasan. Sedangkan dalam aksi pembunuhan terhadap rakyat sendiri, PKT lebih-lebih telah mencapai puncaknya, telah mengakumulasikan seluruh kejahatan pada dirinya.

Mao Zedong, Ketua PKT pernah mengatakan, ”Bertarung dengan manusia, luar biasa senangnya dan 800 juta penduduk tidak bertarung apakah dapat dibenarkan?”

Ketika Mao mengunjungi Uni Soviet pada 1957, dalam konferensi komunis di Moskau, Mao secara terbuka mengatakan, ”Hal terbesar tak lain adalah perang nuklir, apa yang ditakuti jika terjadi perang nuklir? Penduduk seluruh dunia sebanyak 2,7 miliar orang, separoh binasa masih ada separoh, 600 juta penduduk RRT, mati separoh masih sisa 300 juta orang.”

Sang tiran sangat menyukai pertarungan, membuatnya tiada henti mencetuskan gerakan politik, menciptakan teror, menjerumuskan seluruh rakyat ke dalam pergolakan “bertarung dengan musuh” dan “membasmi musuh” yang mengerikan.

Waktu, energi dan sumber daya negara seluruhnya digunakan untuk pertarungan politik yang mencelakakan orang dan membinasakan jutaan jiwa, telah memusnahkan budaya, moral dan kepercayaan.

Chen Liming dalam buku karangannya “Sosialisme dan Fasisme” menyimpulkan, ”Bagi kaum komunis Tiongkok, musuh-musuh mereka mulai dari gembong lalim setempat, ningrat jahat, kaum reaksioner partai Kuomintang, kaum Trotskis, grup AB, oportunisme kiri, oportunisme kanan, imperialisme Jepang, imperialisme Amerika, tuan tanah dan petani kaya, pedagang culas ilegal, kaum reaksioner sejarah, reaksioner kontemporer, revisionime Soviet, klik anti partai Gao Rao, klik anti partai Hu Feng, grup anti partai Peng Dehuai, aliran kanan, penguasa yang berhaluan kapitalisme dalam partai, anasir 516, anasir pembangkang kelas, Klik anti partai Lin Biao, golongan pelaku jalur kapitalisme anti bertobat, tiga jenis orang, geng 4 orang, liberalisasi kelas kapitalis, preman anti revolusi, sampai ke kekuatan anti Tionghoa negara-negara Barat, DLL DLL, secara simpel kesemuanya bisa disingkat menjadi 4 kosa kata Mandarin ‘Di Dui Shi Li’ (敵對勢力kekuatan yang memusuhi).”

Mesin otokratis PKT terus-menerus melakukan pembekukan terhadap anasir anti partai di dalam tubuh partai, mulai dari landreform, menindas kaum anti revolusi, ….Revolusi Kebudayaan, hingga pergolakan “4 Juni” Tian An Men, mereka disiksa dan dianiaya, semua hak dan kepentingan mereka dicabut, bahkan tak segan untuk dibunuh.

Hal yang sulit dimengerti adalah, mereka yang ditindak hampir seluruhnya merupakan orang-orang yang setia terhadap “pemimpin besar” dan partai, bahkan termasuk pemimpin elit PKT. Mereka dengan antusias menyampaikan saran dan pendapat kepada partai, namun tak lama kemudian dicap sebagai “mata-mata”, “pengkhianat”, “anti revolusi”, sehingga merosot menjadi paria politik, mereka dijebloskan ke dalam kamp kerja paksa, dicela, dianiaya, dipukuli hingga tewas.

Di antaranya terdapat Liu Shaoqi, kepala negara saat itu, marsekal Peng Dehuai dan He Long dari 10 besar marsekal, juga termasuk sejumlah besar elit ilmuwan, budayawan dan elit kesenian, masih ada lagi para pekerja dan intelektual yang lurus dan baik hati.

Pembantaian yang sewenang-wenang terus terjadi dibawah kezaliman PKT. Dalam buku “Mitos Darah”, kumpulan laporan penyelidikan yang dilakukan oleh penulis Tan Hecheng, di masa Revolusi Kebudayaan, pembantaian dimulai dari 13 Agustus 1967. Obyek yang dituju adalah tuan tanah dan petani kaya yang dijuluki “5 jenis hitam” beserta sanak keluarganya.

Cara membunuh beraneka-ragam, diantaranya ditembak dengan senapan, dibunuh dengan pisau, ditenggelamkan, diledakkan, dikubur hidup-hidup, dipukuli dengan tongkat hingga tewas, dijerat dengan tali, dibakar dan lain-lain cara. Pembantaian didasari oleh teori “pertarungan kelas dan revolusi kekerasan” yang merupakan tradisi PKT.

Buku“9 Komentar Mengenai Partai Komunis” mengkritisi, ”PKT dapat mengubah manusia menjadi serigala dan iblis, karena dia sendiri lebih kejam daripada serigala dan iblis.” (9 Komentar ke-7, Sejarah Membunuh Manusia yang Dilakukan oleh PKT). (tys/whs/rp)

BERSAMBUNG

Share

Video Popular