Erabaru.net. Sekitar 100.000 warga Hong Kong hadir untuk memperingati tragedi  Tiananmen 4 Juni kemarin.

Tragedi yang terjadi pada 4 Juni 1989 ini menunjukkan sifat sebenarnya dari pemerintah komunis Tiongkok, yang tega melakukan pembantaian terhadap ribuan orang, diantaranya kaum pro-demokrasi mahasiswa.

Sumber: video ntdtv

Beberapa warga yang menjadi korban atau saksi mata, tetap hidup di Hong Kong dan terus terbayang-bayang tragedi itu seumur hidupnya.

Para demonstran yang menyerukan reformasi di Tiongkok saat itu tidak bersenjata. Mereka damai. Mereka bahkan tidak melempari batu dan botol, seperti yang terjadi pada beberapa aksi demonstrasi lain.

Sumber: video ntdtv

Para demonstran, yang pada awalnya merupakan mahasiswa itu memutuskan untuk tinggal sementara dengan masyarakat Tionghoa yang tinggal di Lapangan Tiananmen.

Masyarakat Tiananmen yang merasa terganggu atas aksi ini pun akhirnya mendesak pemerintah agar segera menangani masalah mereka.

Sumber: video ntdtv

Rezim Komunis Tiongkok pun menyetujui untuk menangani masalah mereka dengan menggunakan kekuatan militer, termasuk penggunaan tank dan senapan mesin.

Tidak ada yang tahu persis berapa banyak yang terbunuh. Rezim Tiongkok bahkan tidak akan menjelaskan informasi apapun.

Mereka menolak seluruh urusan yang berkaitan dengan tragedi Tiananmen untuk sementara waktu, dan kemudian mengklaim bahwa para mahasiswalah yang duluan menyerang tentara pemerintah.

Komunis Tiongkok juga melarang peringatan semacam itu di tempat lain.

Sumber: video ntdtv

Penelusuran internet untuk “4 Juni 1989” atau “pembantaian Tiananmen” telah diblokir dan tidak bisa diakses. Pemerintah ingin dunia melupakan hari dimana tragedi berdarah tersebut terjadi.

Namun berbeda dengan Hong Kong, dimana masyarakat tidak akan membiarkan memori Tiananmen itu hilang begitu saja.

Apalagi Hong Kong adalah satu-satunya negara bagian Tiongkok yang warganya diperbolehkan mengingatnya.

Sejak 1997 Tiongkok telah mengambil alih Hong Kong dengan janji “satu negara, dua sistem”. Namun Beijing selalu memerintah Hong Kong seolah-olah Hong Kong merupakan negara bagian pemerintahan Komunis.

Sistem “kedua” adalah sistem kontrol, sebuah sistem di mana hanya “kandidat” yang dipilih oleh Beijing yang diizinkan untuk mencalonkan diri menjadi pejabat tinggi di Hong Kong.

Lee Cheuk-Yan, mantar legislator yang juga peserta aksi ini mengatakan bahwa tindakan itu tidak hanya sebuah peringatan biasa.

“Ini adalah sebuah demonstrasi. Ini adalah kemarahan terhadap rezim Komunis yang bukan hanya menekan kami pada 1989, namun hingga hari ini pun mereka masih tetap menekan kami. Jadi, itu berkaitan dengan apa yang terjadi sekarang di Hong Kong, dan saat ini kami ingin menuntut hak-hak kami juga masa depan Hong Kong,” kata Lee Cheuk-Yan.

Sumber: video ntdtv

Menurutnya, mereka tidak boleh melupakan sejarah penting itu.

“Kita harus memperingati peristiwa ini untuk mengenang rekan-rekan di daratan dan tidak menyerah pada impian kita (mencapai demokrasi),” kata Lee Tat-On, warga lain yang hadir dalam acara peringatan tersebut.

Bagi orang-orang di Hong Kong, pembantaian Tiananmen bukan hanya “sejarah.” Bagi mereka itu adalah perjuangan nyata, yang masih terus berlanjut hingga saat ini.

“Tragedi Tiananmen memainkan peran besar dalam sejarah Hong Kong. Sejak peristiwa 1989, banyak orang dari daratan atau orang-orang yang menentang Partai Komunis yang melarikan diri ke Hong Kong. Semua yang kita lakukan berkaitan dengan peringatan peristiwa 4 Juni,” komentar mahasiswa pasca sarjana bernama Ka Ho. (jul/rp)

Share

Video Popular