Kita tahu betapa pentingnya menjadi diri sendiri, tapi ada kalanya terpaksa harus memakai topeng (berpura-pura menjadi diri sendiri), untuk menyesuaikan keinginan orang lain. Ini adalah “cara bertahan hidup” yang kita pelajari semasa kecil.

Semasa kanak-kanak, kita akan dipuji ayah-ibu selama kita patuh dan nurut tidak membantah. Tapi sedikit saja menunjukkan rasa tidak suka, maka ayah-ibu langsung menegur atau bahkan memarahi kita. Fenomena ini sebenarnya diturunkan oleh para orangtua karena pengajaran orangtuanya sebelumnya.

Dan seiring bergulirnya waktu, lambat laun kita pun “anak penurut” yang disukai orang tua, lantas dimana jati diri kita sebenarnya ? Mungkin telah “dibinasakan.”

Orangtua Benua Asia sering sekali memarahi anaknya jika tidak patuh terhadap apa yang mereka perintahkan. Semakin tidak menurut, maka semakin besar pula hukuman yang akan mereka terima.

Terkadang kita terpaksa berpura-pura untuk menyesuaikan perasaan orang lain. Misalnya, orangtua membicarakan sesuatu yang menyedihkan, anak-anak tentu saja tidak tahu mengapa sedih, tapi ketika orang dewasa merasa sedih, anak-anak hanya bisa ikut sedih.

Ini hanya contoh yang sederhana, tapi pengalaman yang dialami sendiri oleh seorang netizen berikut ini jauh lebih serius. Ia membagikan cerita yang dialaminya, agar kita tidak mengalami hal yang sama. Baca Selengkapnya

Share

Video Popular