Erabaru.net. Dia adalah seorang gadis cilik, sebut saja namanya Xenia, ayahnya adalah seorang pemabuk. Ketika mabuk dia suka bertindak kasar pada orang, ia dan ibunya juga kerap dipukul hingga memar. Sampai pada akhirnya ibunya pun kabur dan tak kembali lagi karena tak tahan dengan hidup seperti itu setiap hari.

Setelah kepergian ibunya, ayahnya tak peduli lagi dengannya, hanya neneknya saja yang sudah senja dan lemah itu kasihan melihat nasibnya, lalu membawanya tinggal bersamanya, dan sejak itu, Xenia dan neneknya hidup bersama.

Satu tahun kemudian, ayah Xenia membawa pulang istri baru, seorang janda.

Kebiasaan buruk ayahnya tidak berubah, masih suka mabuk-mabukan, suatu hari dalam keadaan mabuk ia memukul si janda.

Karena tak terima, si janda pun meminta tolong beberapa saudaranya untuk menghajar ayah Xenia hingga babak belur.

Saudara-saudara si janda itu benar-benar bengis, bukan saja membuat ayah Xenia babak belur, tapi tulangnya juga patah, dan baru pulih satu bulan kemudian setelah dibawa ke rumah sakit.

Saudara-saudara si janda memperingatkan ayah Xenia, kalau berani memukul adiknya lagi, ia akan rasakan akibatnya nanti.

Sejak itu, karena sudah merasakan pahitnya, sehingga ayah Xenia tidak berani lagi mabuk-mabukan, dan sangat menurut pada si janda istrinya, tidak berani lagi memukulnya.

Xenia, meskipun seorang anak perempuan, tetapi lumayan nakal, suatu hari, ketika mendaki bukit bersama teman-temannya, ia terjerembab dari atas bukit, tapi untungnya tidak terlalu tinggi.

Meskipun tidak sampai merenggut nyawanya, tapi salah satu kakinya patah, dan meninggalkan bekas setelah diobati, yakni berjalan dengan kaki pincang.

Setelah lima tahun tinggal bersama, nenek Xenia akhirnya meninggal.

Sebelum meninggal, nenek Xenia mengutarakan permintaan terakhirnya, ia berharap ayah dan ibu tirinya bisa merawat Xenia dengan baik, tapi ibu tirinya bersikeras tidak bersedia menerima Xenia.

Akhirnya sang nenek memberikan anting-anting dan cincin emasnya pada ibu tiri Xenia, barulah dia bersedia membawa Xenia pulang ke rumahnya.

Ilustrasi. (Internet)

Nanun, hidup Xenia justeru tersiksa setelah hidup bersama ibu tirinya, bukan saja harus mencuci, memasak setiap hari, tetapi juga harus merawat dan menjaga adik-adeik tirinya. Tapi Xenia diam saja, semua itu dikerjakan olehnya.

Ibu tiriya juga tak pernah memperlakukanya seperti keluarga sendiri, menyuruh Xenia makan makanan sisa, memukulnya kalau pakaian yang dicucinya tidak bersih, atau membentak sambil memukul kalau adiknya menangis (rewel).

Tidak peduli alasan apa pun, intinya Xenia selalu diperlakukan secara kasar oleh ibu tirinya.

Bahkan Xenia disuruh tidur di dapur, sepanjang tahun hanya beralaskan selimut tipis, sementara ayah kandungnya yang melihat putrinya diperlakukan seperti itu bukan saja tidak peduli, malah ikut membantu istrinya membentak dan memukulnya.

Tak lama lagi, Xenia akan segera memasuki usia sekolah, melihat teman-teman sebayanya berangkat sekolah dengan ceria sambil membawa tas, ia juga ingin segera sekolah.

Ia pun memohon pada ayah dan ibu tirinya agar mendaftarkannya sekolah, tapi yang diterimanya adalah umpatan dan pukulan.

Karena keinginannya yang kuat untuk sekolah, maka ia pun sampai berlutut memohon ibu tirinya agar menyekolahkannya, tapi pada hari itu, permohonannya justru menjadi hari terakhirnya di rumah.

Xenia masih mengiba agar diijinkan sekolah, tapi ibu tirinya bukan saja mencambuknya beberapa kali, tapi mengucapkan kata-kata kasar:

“Kalau saja kamu tidak cacat, aku masih akan merawat dan membesarkan kamu beberapa tahun lagi, dan bisa mendapatkan sedikit imbalan, tapi salah sendiri kenapa kamu begitu nakal, mendaki bukit sampai patah kaki dan menjadi cacat sekarang, jadi untuk apa aku membesarkanmu? Besok kamu pergi saja.”

Ayah kandungnnya tak disangka malah tertawa puas, setuju dengan ide isterinya.

Keesokannya, bersama dengan ibu tiri yang mencengkram erat Xenia yang terus menangis histeris dari boncengan sepeda motor ayahnya, kemudian berangkat ke kota.

Xenia terus menangis sepanjang perjalanan, dan setibanya di tengah kota, ibu tirinya kemudian dengan kejamnya menurunkan Xenia ke samping sebuah tong sampah, lalu kabur bersama dengan ayahnya.

Gambar ilustrasi, tidak berhubungan dengan isi artikel

Xenia yang sudah kecewa pada ayah dan ibu tirinya, akhirnya tidak punya pilihan selain mengemis di jalanan, untuk bertahan hidup.

Orang-orang yang melihatnya merasa kasihan, lalu memberikan sejumlah uang, tapi dia menolaknya, dia hanya meminta beberapa makanan pada orang-orang yang bersimpati.

Malamnya, Xenia mencari pondok reyot untuk bermalam.

Suatu hari, Xenia dengan susah payah mendapatkan sejumlah makanan, dan ia pun mencari tempat untuk mengisi perutnya,

Saat berjalan, ia melihat seorang bocah laki-laki yang seumuran dengannya tergeletak di atas tanah, ia pun bergegas menghampiri dan mengguncang badan si bocah itu, tak lama kemudian, bocah itu pun siuman.

Xenia lalu bertanya padanya mengapa pingsan di sini. Bocah tanggung itu pun bercerita secara singkat.

Bocah tanggung itu mengatakan namanya Agung (samaran), berasal dari keluarga berada, ibunya sudah tiada karena sakit satu tahun lalu, dan sebagai gantinya ia dicarikan ibu tiri oleh ayahnya.

Ibu tirinya ini sangat baik dan sayang padanya, tapi dia tidak mau menerima istri baru ayahnya itu sebagai ibunya, sehingga sengaja selalu melawannya, dan kali ini, ia bermaksud menakut-nakuti mereka, supaya ayahnya bisa lebih banyak meluangkan waktu menemaninya.

Sampai hari ini, sudah dua hari ia kabur dari rumah, dan karena lapar, sehingga ia pun pingsan.

Mendengar ceritanya, Xenia pun segera membagikan makanannya, dan tanpa basa basi lagi, anak laki-laki itu pun segera makan dengan lahap makanan dari Xenia, melihat cara makannya, tampaknya anak itu benar-benar kelaparan.

Xenia merenung sejenak mendengar cerita anak laki-laki itu barusan, ia membayangkan antara ibu tiri anak itu dengan ibu tirinya, benar-benar sangat jauh berbeda, dan tanpa sadar air matanya pun berlinang membasahi pipinya.

Tak lama kemudian si anak laki-laki itu bertanya tentang diri Xenia, sambil bercerita Xenia tak kuasa menahan tangisnya.

Ilustrasi. (Internet)

Sambil mendengar tragedi yang dialami Xenia, air mata Agung juga tanpa sadar mengalir membasahi pipinya.

Anak laki-laki itu kemudian memeluk Xenia sambil berkata: “Kak Xenia, malang benar nasib kamu, tapi kamu tidak perlu sedih. Nanti ikut aku pulang, ibu tiriku pasti akan menerimamu.”

Namun, Xenia menolak maksud baik Agung, lalu menyuruh Agung pulang, tapi Agung bilang mau menunggu ayahnya yang mencarinya.

Melihat Xenia tidak mau pulang bersamanya, Agung pun mulai bertingkah, terus mengikuti langkah kaki Xenia, sehingga membuat Xenia tidak punya pilihan selain membawanya mengemis bersamanya.

Setiap mendapatkan makanan dari orang-orang yang baik hati, Xenia selalu memberi lebih banyak pada Agung.

Demikianlah setelah mengemis tiga hari berturut-turut, akhirnya Agungl ditemukan oleh ayah dan ibu tirinya.

Setelah menemukan putranya, ibu tirinya pun menangis haru sambil mengatakan: “Nak, kenapa kamu kabur dari rumah, apakah tante telah menyakiti Agung, tante akan berubah kalau tante salah, kami telah mencarimu siang malam, tidak bisa tidur selama beberapa hari ini, ayahmu dan tante benar-benar panik memikirkan kamu nak, ayo kita pulang, nanti tante bikinin sop ayam kesukaanmu.”

Agung bersedia pulang, dan berjanji akan patuh, tidak akan melawan mereka lagi

Kemudian Agung membawa Xenia ke hadapan mereka, lalu menceritakan tragedi yang dialami Xenia, mendengar itu, ayah Agung dan ibu tirinya sontak terkejut, tak disangka di dunia ini masih ada ayah kandung yang tidak bertanggung jawab dan ibu tiri yang kejam.

“Malang benar nasib kamu nak, sungguh tante benar-benar tidak tega melihatnya, kamu ikut kita pulang saja ya, tidak perlu lagi menunggu ayah kamu yang tidak berguna itu, dia tidak akan kembali lagi mencarimu. Tante akan menganggap kalian sebagai anak kandung tante sendiri,”kata ibu tiri Agung pada Xenia.

Tapi sebelum itu, dengan jujur Xenia mengatakan: “Kaki saya sudah patah dan cacat sejak kecil, sekarang saya hanyalah orang cacat. Saya akan menyusahkan kalian nanti dan saya tak ingin merepotkan kalian.”

Tapi ibu tiri Agung mengatakan dengan lembut: “Nak, tante tidak akan memandang hina sedikitpun sama kamu, kamu telah menyelamatlan Agung, dan Agung juga sangat suka denganmu, selain itu, berkat kamu Agung juga telah menerima tante sebagai ibu tirinya, tante benar-benar harus berterima kasih sama kamu. Ayo, mari pulanglah bersama kami. Tante akan membuatkan masakan yang enak untuk kalian.”

Ilustrasi. (Internet)

Xenia tampa bimbang dan ragu. Akhirnya justru Agung yang tampak mulai tidak sabar, lalu menarik tangan Xenia pulan ke rumah.

Singkat cerita, setelah tinggal di rumah keluarga Agung, hubungan Xenia dan Agung berjalan harmonis, dan mereka sudah seperti kakak dan adik.

Ibu tiri Agung juga memenuhi janji awalnya, merawat dan mencurahkan kasih sayang yang sama pada Agung dan Xenia, tidak membeda-bedakan, semuanya mendapatkan curahan cinta dan kasih sayang yang sama, bahkan mereka berdua juga mengecap pendidikannya di sekolah yang sama.

Demikianlah, nasib Xenia pun akhirnya berubah dan sekarang hidup bahagia bersama keluarga baru yang sangat menyayanginya. Mungkin ini yang dinamakan sengsara membawa nikmat ? (jhn/yant)

Sumber: beautieslife

Video Rekomendasi:

Share
Tag: Kategori: CERITA KEHIDUPAN STORY

Video Popular