Erabaru.net. Saya masih duduk di bangku SD saat kakek meninggal.

Awalnya, dulu kakek hanya diare ringan, tapi memang begitulah kebiasaan orang-orang desa di sana, mereka hanya menahannya kalau hanya sekadar gejala sakit ringan.

Sampai akhirnya setelah mengeluarkan/BAB darah, baru periksa ke dokter.

kakek diberi resep obat diare, tapi tidak juga membaik.

Belakangan, setelah kakek benar-benar ambruk, baru di bawa ke rumah sakit di kota.

Dia didiagnosis menderita kanker usus stadium IV/akhir.

Ilustrasi. (img0.liveinternet.ru)

Sementara biaya untuk operasi ini tidaklah sedikit, bisa mencapai ratusan juta rupiah jumlahnya.

Resikonya tinggi, mungkin hanya bisa hidup sekitar enam bulan lebih, atau sebaliknya pergi ke ‘alam lain’.

Ayah memiliki 2 saudara laki-laki, paman pertama dan ayahku adalah petani.

Secara ekonomi termasuk miskin, tidak punya uang lebih untuk ikut menyumbang biaya pengobatan kakek.

Satu-satunya yang tergolong mapan secara ekonomi hanya paman ke tiga, tapi ia jarang pulang ke rumah, juga tidak tahu apa pekerjaannya di luar.

Karena kondisi keluarga seperti itu, kakek pun dengan tegas mengatakan, “Sudahlah, tidak perlu pusing-pusing mikirin biaya pengobatan lagi, lagipula hidupku juga tidak bertahan lama lagi, jadi kalian juga tidak perlu risau karena aku!”

Tapi ayah bersikeras bagaimanapun juga kakek harus diobati.

Share
Tag: Kategori: Headline

Video Popular