Ilustrasi. (2.bp.blogspot.com)

Dibanding dengan paman pertama, kondisi ayah sedikit lebih baik secara ekonomi.

Itu hasil penghematan ayah dan ibu dari hasil kerja kerasnya.

Meski sisa uang yang ada tidak seberapa, karena sebelumnya telah digunakan untuk membangun rumah.

Ketika kakek mengetahui hal itu, uang ayah hanya tersisa puluhan juta.

“Bangunan rumahnya ditunda dulu, pakai uang ini untuk biaya berobat kakekmu!” kata ayah.

Namun, kemauan ayah itu ditolak dengan tegas oleh kakek.

“Sudahlah, tidak perlu menghabiskan uang lagi, aku tidak mau anak cucuku sampai tidak punya tempat tinggal saat aku mati nanti,” katanya.

Kakek juga menegaskan, bahwa meski pun mati juga harus di rumah sendiri.

Dia berharap bisa bertemu dengan putra bungsunya atau paman ke-3 ku sebelum dirinya meninggal.

Akhirnya ayah tak berdaya dan menuruti permintaan kakek, tidak melanjutkan pengobatan kakek.

Ayah juga berusaha menemukan adiknya yang tidak jelas pekerjaannya di luar.

Karena masalah inilah, sampai sekarang ayah merasa bersalah dengan keputusannya waktu itu.

Sesuai dengan permintaanya, akhirnya sakit kakek pun dibiarkan dari hari ke hari.

Dia juga menyuruh segera mrrampungkan pembangunan rumahnya, agar ia bisa pergi dengan tenang.

Ayah pun segera mempercepat merampungkan bangunan rumahnya, agar kakek punya tempat bernaung saat pergi nanti.

Di desa kami, dimana saat seseorang akan meninggal, biasanya akan minta bantuan “orang pintar” untuk melihat waktu kira-kira berpulangnya orang tersebut.

“Orang pintar” mengatakan bahwa kakek akan pergi 3 hari kemudian sebelum fajar.

Keluarga ayah memang sengaja melihat waktu kira-kira sebagai persiapan untuk menghubungi sanak saudara lainnya di luar kampung halaman, agar segenap keluarga menemaninya hingga pergi untuk selamanya.

Saat itu semua saudara sekeluarga membantu mempersiapkan segala sesuatunya.

Satu-satunya yang terlupakan adalah peti mati kakek!

Share
Tag: Kategori: Headline

Video Popular