Sebenarnya sekeluarga memang sengaja tidak menyiapkan peti mati kakek dengan harapan kakek tidak pergi secepat itu dan bisa secepatnya tinggal di rumah sendiri yang sedang dibangun ayah.

Akhirnya pada malam saat akan menghembuskan napas terakhir, paman pertamaku atau putra sulung kakek tampak duduk melamun sendirian di dalam kamar rumahnya.

Tiba-tiba terdengar suara kakek memanggilnya dan mengatakan, “Kenapa kamu belum juga menyiapkan peti mati untukku.”

Ilustrasi. (lempertz.com)

Tiba-tiba paman merasa seakan-akan ada seseorang yang menepuknya dari belakang.

Lalu dia jatuh tersungkur di atas lantai. Dan paman tampak tidak bergerak lagi, ia pingsan saat putrinya menghampirinya.

Selanjutnya secara berturut-turut semua saudara pun bergegas ke rumah putra sulung kakek, mereka melihat punggungnya ada bekas tepukan 3 jari tangan.

Aku penasaran juga waktu, tapi ayah melarangku kesana.

Keesokan harinya, hal itu pun menyebar ke seantero desa.

Saat itu kakek sudah terbaring lemah di rumah, dan tidak bisa keluar lagi, tinggal menunggu waktu yang tertunda.

Sementara rumah putra sulung kakek sangat jauh dari rumah ayahku.

Kemudian, setelah paman pertamaku siuman, ia pun segera menemui tukang kayu dan memesan satu peti mati.

Dua hari kemudian peti mati itu sudah siap, dan saat menjelang fajar di hari ketiga, napas kakek pun terhenti.

Semua anggota keluarga tampak telah berkumpul di rumah, menjaga jenazah kakek dan berlutut.

Hanya putra bungsu kakek yang tidak hadir. Padahal kakek paling sayang dengan putra bungsunya ini.

Sampai sekarang saya masih ingat dengan pemandangan kakek yang belum mau sepenuhnya pergi ketika itu.

Semua orang berlutut di depan jenazah kakek, kemudian nenek berkata sambil meneteskan air mata.

“Tidak perlu menunggu  lagi, sudah tidak sempat, pergilah, putra bungsumu pasti akan merindukanmu!” katanya.

Setelah itu, kakek pun pergi dan menutup rapat matanya, tampak setetes linangan air mata dari sudut matanya.

Dan ketika putra bungsunya pulang, kakek sudah pergi.

Saya tak pernah melihat putra bungsu kakek ini menangis, tapi waktu itu dia menangis dan beberapa kali jatuh pingsan. Sambil menangis ia bergumam.

“Sampai detik terakhirnya, kakek tidak sempat juga bertemu dengan putra bungsunya, ia pergi dalam penyesalan abadi.”

Karena itu, tidak peduli betapa hebat dan sibuknya demi mengumpulkan pundi-pundi uang, pastikan jangan pernah lupa pulang menjenguk orangtua. Lihatlah sejenak keadaan orang tuamu.

Bagaimanapun juga, prioritaskan baktimu pada orangtua, dan itu tidak bisa digantikan hanya dengan uang segunung! (jhony/rp)

Sumber: orgs.one

Share
Tag: Kategori: Headline

Video Popular