- Erabaru - http://m.erabaru.net -

Sebelum Meninggal, Kakek ini Belum Ikhlas Pergi dengan Tenang, Kemudian Nenek Berkata Sambil Terisak, “Pergilah! Putra Bungsu Pasti Akan Merindukanmu.” Tak Lama Kemudian Kakek pun Menutup Matanya dengan Linangan Air Mata di Sudut Matanya…

Erabaru.net. Saya masih duduk di bangku SD saat kakek meninggal.

Awalnya, dulu kakek hanya diare ringan, tapi memang begitulah kebiasaan orang-orang desa di sana, mereka hanya menahannya kalau hanya sekadar gejala sakit ringan.

Sampai akhirnya setelah mengeluarkan/BAB darah, baru periksa ke dokter.

kakek diberi resep obat diare, tapi tidak juga membaik.

Belakangan, setelah kakek benar-benar ambruk, baru di bawa ke rumah sakit di kota.

Dia didiagnosis menderita kanker usus stadium IV/akhir.

[1]
Ilustrasi. (img0.liveinternet.ru)

Sementara biaya untuk operasi ini tidaklah sedikit, bisa mencapai ratusan juta rupiah jumlahnya.

Resikonya tinggi, mungkin hanya bisa hidup sekitar enam bulan lebih, atau sebaliknya pergi ke ‘alam lain’.

Ayah memiliki 2 saudara laki-laki, paman pertama dan ayahku adalah petani.

Secara ekonomi termasuk miskin, tidak punya uang lebih untuk ikut menyumbang biaya pengobatan kakek.

Satu-satunya yang tergolong mapan secara ekonomi hanya paman ke tiga, tapi ia jarang pulang ke rumah, juga tidak tahu apa pekerjaannya di luar.

Karena kondisi keluarga seperti itu, kakek pun dengan tegas mengatakan, “Sudahlah, tidak perlu pusing-pusing mikirin biaya pengobatan lagi, lagipula hidupku juga tidak bertahan lama lagi, jadi kalian juga tidak perlu risau karena aku!”

Tapi ayah bersikeras bagaimanapun juga kakek harus diobati.

[2]
Ilustrasi. (2.bp.blogspot.com)

Dibanding dengan paman pertama, kondisi ayah sedikit lebih baik secara ekonomi.

Itu hasil penghematan ayah dan ibu dari hasil kerja kerasnya.

Meski sisa uang yang ada tidak seberapa, karena sebelumnya telah digunakan untuk membangun rumah.

Ketika kakek mengetahui hal itu, uang ayah hanya tersisa puluhan juta.

“Bangunan rumahnya ditunda dulu, pakai uang ini untuk biaya berobat kakekmu!” kata ayah.

Namun, kemauan ayah itu ditolak dengan tegas oleh kakek.

“Sudahlah, tidak perlu menghabiskan uang lagi, aku tidak mau anak cucuku sampai tidak punya tempat tinggal saat aku mati nanti,” katanya.

Kakek juga menegaskan, bahwa meski pun mati juga harus di rumah sendiri.

Dia berharap bisa bertemu dengan putra bungsunya atau paman ke-3 ku sebelum dirinya meninggal.

Akhirnya ayah tak berdaya dan menuruti permintaan kakek, tidak melanjutkan pengobatan kakek.

Ayah juga berusaha menemukan adiknya yang tidak jelas pekerjaannya di luar.

Karena masalah inilah, sampai sekarang ayah merasa bersalah dengan keputusannya waktu itu.

Sesuai dengan permintaanya, akhirnya sakit kakek pun dibiarkan dari hari ke hari.

Dia juga menyuruh segera mrrampungkan pembangunan rumahnya, agar ia bisa pergi dengan tenang.

Ayah pun segera mempercepat merampungkan bangunan rumahnya, agar kakek punya tempat bernaung saat pergi nanti.

Di desa kami, dimana saat seseorang akan meninggal, biasanya akan minta bantuan “orang pintar” untuk melihat waktu kira-kira berpulangnya orang tersebut.

“Orang pintar” mengatakan bahwa kakek akan pergi 3 hari kemudian sebelum fajar.

Keluarga ayah memang sengaja melihat waktu kira-kira sebagai persiapan untuk menghubungi sanak saudara lainnya di luar kampung halaman, agar segenap keluarga menemaninya hingga pergi untuk selamanya.

Saat itu semua saudara sekeluarga membantu mempersiapkan segala sesuatunya.

Satu-satunya yang terlupakan adalah peti mati kakek!

Sebenarnya sekeluarga memang sengaja tidak menyiapkan peti mati kakek dengan harapan kakek tidak pergi secepat itu dan bisa secepatnya tinggal di rumah sendiri yang sedang dibangun ayah.

Akhirnya pada malam saat akan menghembuskan napas terakhir, paman pertamaku atau putra sulung kakek tampak duduk melamun sendirian di dalam kamar rumahnya.

Tiba-tiba terdengar suara kakek memanggilnya dan mengatakan, “Kenapa kamu belum juga menyiapkan peti mati untukku.”

[3]
Ilustrasi. (lempertz.com)

Tiba-tiba paman merasa seakan-akan ada seseorang yang menepuknya dari belakang.

Lalu dia jatuh tersungkur di atas lantai. Dan paman tampak tidak bergerak lagi, ia pingsan saat putrinya menghampirinya.

Selanjutnya secara berturut-turut semua saudara pun bergegas ke rumah putra sulung kakek, mereka melihat punggungnya ada bekas tepukan 3 jari tangan.

Aku penasaran juga waktu, tapi ayah melarangku kesana.

Keesokan harinya, hal itu pun menyebar ke seantero desa.

Saat itu kakek sudah terbaring lemah di rumah, dan tidak bisa keluar lagi, tinggal menunggu waktu yang tertunda.

Sementara rumah putra sulung kakek sangat jauh dari rumah ayahku.

Kemudian, setelah paman pertamaku siuman, ia pun segera menemui tukang kayu dan memesan satu peti mati.

Dua hari kemudian peti mati itu sudah siap, dan saat menjelang fajar di hari ketiga, napas kakek pun terhenti.

Semua anggota keluarga tampak telah berkumpul di rumah, menjaga jenazah kakek dan berlutut.

Hanya putra bungsu kakek yang tidak hadir. Padahal kakek paling sayang dengan putra bungsunya ini.

Sampai sekarang saya masih ingat dengan pemandangan kakek yang belum mau sepenuhnya pergi ketika itu.

Semua orang berlutut di depan jenazah kakek, kemudian nenek berkata sambil meneteskan air mata.

“Tidak perlu menunggu  lagi, sudah tidak sempat, pergilah, putra bungsumu pasti akan merindukanmu!” katanya.

Setelah itu, kakek pun pergi dan menutup rapat matanya, tampak setetes linangan air mata dari sudut matanya.

Dan ketika putra bungsunya pulang, kakek sudah pergi.

Saya tak pernah melihat putra bungsu kakek ini menangis, tapi waktu itu dia menangis dan beberapa kali jatuh pingsan. Sambil menangis ia bergumam.

“Sampai detik terakhirnya, kakek tidak sempat juga bertemu dengan putra bungsunya, ia pergi dalam penyesalan abadi.”

Karena itu, tidak peduli betapa hebat dan sibuknya demi mengumpulkan pundi-pundi uang, pastikan jangan pernah lupa pulang menjenguk orangtua. Lihatlah sejenak keadaan orang tuamu.

Bagaimanapun juga, prioritaskan baktimu pada orangtua, dan itu tidak bisa digantikan hanya dengan uang segunung! (jhony/rp)

Sumber: orgs.one