Erabaru.net. Berikut ini artikel lanjutan Resensi Buku: Pengungkapan Kehidupan dari Luar Planet Bumi bagian (5)

Sambil membungkuk memberi hormat si pendeta berkata, “Baginda adalah putra Dewa Matahari yang agung, Dewa Matahari memberi baginda kuasa untuk memerintah negeri ini. Kami adalah pengikut setia baginda, setelah misi yang diberikan Dewa Matahari bagi baginda dirampungkan, baginda akan memasuki dunia roh. Menantikan Dewa alam semesta yang paling agung untuk membangunkan baginda dari tidur, setelah baginda terbangun dan sadar, membawa kami — pengikut setia baginda ini, kembali ke rumah abadi kita.”

Den bertanya lagi, “Kapan Dewa alam semesta yang paling agung datang ke dunia manusia ini? Bagaimana wujud masyarakat pada saat itu?”

ILUSTRASI. Piramida. Sumber (images.huffingtonpost.com)

Si Pendeta mengatakan, “Firaun yang agung, ikutlah dengan hamba.”

Den pun mengikuti pendeta ke sebuah ruang rahasia.

Pendeta berkata, “Firaun yang agung, hal yang baginda tanyakan ini adalah kehendak ilahi yang tidak seharusnya diketahui oleh manusia biasa. Ketika para pengikut setia baginda bercocok tanam di atas lahan Sungai Nil yang subur ini, setelah 4000 kali panen raya, Dewa alam semesta yang paling agung akan turun ke dunia manusia. Masyarakat manusia pada masa itu berpakaian sangat aneh dan buruk. Mereka mengendarai kotak besi beroda empat yang berputar untuk berpacu di daratan, di angkasa juga dipakai burung besi untuk beterbangan. Jiwa manusia gelap dan kotor, semua perilaku adalah kejahatan yang telah bertentangan dengan Dewa. Pada waktu itu Dewa akan turun ke dunia mengadili setiap orang. Dan baginda sebagai firaun kami yang agung, akan membantu Dewa alam semesta yang paling agung itu, menyelamatkan jiwa kami.”

“Pendetaku, dapatkah Anda berikan sebuah tanda mata untukku?” Tanya sang Firaun.

Pendeta itu pun berkata, “Mohon baginda tunggu sebentar.”

Lalu sang pendeta menyilangkan kedua tangannya di depan dada, dan mulai membacakan mantera.

Sambil terus membaca mantera, tubuh pendeta perlahan menghilang begitu saja.

Beberapa menit kemudian pendeta kembali lagi ke hadapan Den, satu tangannya dibuka, dan koin perak itu diberikan kepada firaun.

Dia berkata, “Firaun yang agung, inilah koin uang dari zaman itu.”

Den mengambil koin itu dan mengamatinya dengan seksama di tangannya, lalu memerintahkan, “Letakkan koin ini di depan Kuil Dewa Matahari, dan dirikan sebuah prasasti, sebagai bukti ribuan tahun kejayaan kerajaanku ini.”

Selama masa pemerintahan Firaun Den (Dewen/Hor-Den/Udimu) di Mesir, memerintah dengan akhlak, rakyat bekerja keras dan berhati tulus, Firaun dan para pejabatnya bersatu hati, negara aman dan tentram, rakyat hidup makmur.

Belasan tahun kemudian, Firaun Den wafat.

Ilustrasi (internet)

Setelah wafatnya firaun, seluruh rakyat Mesir di masa pemerintahannya, bahkan termasuk setiap ekor semut dan setiap batang rumput… satu persatu meninggalkan dunia ini memasuki dunia roh.

Di dunia roh itu mereka menunggu selama empat ribu tahun, menantikan Firaun Den mereka kembali memposisikan diri di tengah jagad raya, di masa pelurusan hukum alam semesta, untuk membangunkan roh mereka yang tertidur.

Lalu bersama-sama kembali ke kerajaan abadi paling indah dari sanubari segenap kehidupan. (chensongling/sud/whs/rp)

BERSAMBUNG

Artikel Sebelumnya:

Hukum Linier Penerbangan UFO (Bagian 1)
Distorsi Dimensi Ruang dan Waktu (Bagian 2)
Kasus Nyata Terkait Distorsi Ruang Dimensi (Bagian 3) 
Koin Perak Kuno Menembus Waktu (Bagian 4) 

Erabaru.net

Share

Video Popular