Oleh: DR. Frank Tian, Xie

Erabaru.net. Mulai dari “tiga prinsip hukum ilmu robot” Asimov sampai contoh pada tingkat moralitas menyelamatkan pengemudi atau menyelamatkan pejalan kaki, berlanjut lagi sampai eksperimen klasik “masalah pelik kereta trem.”

Tidak sulit untuk melihat bahwa, dengan mematuhi prinsip hukum yang ada saat ini tidak dapat menjamin keselamatan manusia, baik keselamatan perorangan, maupun keselamatan keseluruhan.

Beroperasinya mobil tanpa awak, karena terkait dengan komunikasi antar mobil, koneksi antar mobil pasti akan menggunakan internet benda (internet of the things) untuk saling terkoneksi satu sama lain.

Salah satu dari pusat atau pos jejaring internet yang lebih tinggi tingkatannya, akan mengemban tanggung jawab dan kuasa koordinasi terhadap seluruh mobil atau mobil tanpa awak yang beroperasi di jalanan.

Mobil tanpa awak. (Internet)

Jika seandainya kekuasaan dan pusat kendali internet ini dibajak oleh hacker, atau dibajak oleh pemerintah otoriter (seperti Korut), pembajak akan dengan mudah memerintahkan seluruh mobil tanpa awak saling bertabrakan, atau saling menghancurkan.

Tentu bisa membinasakan penumpang yang ada di dalamnya, atau membinasakan penumpang tertentu yang ingin dihabisi oleh si pembajak.

Pada saat itu, robot dan mesin, kecerdasan buatan (AI) dan komputer, benar-benar akan menjadi kekuatan yang bisa mempermainkan takdir manusia.

Contoh terbaru kemungkinan membahayakan manusia oleh robot adalah penyusupan terhadap 700 juta akun surel di seluruh dunia.

Ini adalah ulah robot surel yang berasal dari Belanda, dengan memanfaatkan 700 juta akun surel yang dibajaknya untuk menyebarkan surel sampah yang berisi program trojan perbankan.

Robot ini adalah “kejahatan” skala terbesar dalam sejarah manusia dan berdampak paling luas, yakni setara dengan jumlah penduduk benua Eropa.

Dalam sebuah film Amerika berjudul “Ex Machinia”, disitu robot bahkan bisa memanfaatkan kelemahan dan perasaan manusia, untuk mengendalikan, menguasai serta mencelakakan manusia!

Dalam sebuah artikel di majalah “Times” edisi Maret 2016 oleh Matt Vella yang menjabarkan, semakin banyak bukti menunjukkan bahwa manusia tidak seharusnya diijinkan mengemudikan mobil!

Walaupun mobil semakin aman, tapi angka kecelakaan lalu lintas justru terus meningkat.

Mobil tanpa awak. (Internet)

Di Amerika setiap tahun terjadi 6 juta kasus kecelakaan lalu lintas yang mengakibatkan lebih dari 30.000 jiwa meninggal dunia.

Di seluruh dunia setiap tahunnya 1,3 juta jiwa meninggal dunia akibat kecelakaan lalu lintas.

Dan sebesar 94% laka lantas adalah akibat kesalahan manusia.

Data eksperimen menunjukkan, mobil tanpa awak memang lebih aman.

Dan saat dimana robot menggantikan, diperkirakan akan terjadi antara 2025 hingga 2050.

Manusia hanya memiliki waktu kurang dari satu dekade untuk mempersiapkan diri.

Kalangan hukum telah memastikan “pengemudi” pada mobil tanpa awak adalah komputer atau robot.

Tidak sulit membayangkan, dengan segera akan ada orang yang mengemukakan soal “hak asasi robot atau HAR”, yang mengusulkan kesetaraan antara manusia dengan robot.

Tapi betapa pun konflik kekuasaan sekuler dan gerakan kesetaraan digulirkan, masyarakat harus memahami serta juga bersikukuh bahwa derajat robot itu lebih rendah daripada manusia.

Kita tidak boleh mengakui “hak asasi robot” dan tidak boleh mengakui kesetaraan status robot dengan manusia.

Share
Tag: Kategori: OTOMOTIF TEKNOLOGI

Video Popular