Terhadap sebuah pertanyaan yang sudah Anda jawab dan Anda anggap sederhana itu, ia akan terus mencercanya dengan bertanya berulang-ulang, dan ia tidak akan merasa bosan, sehingga membuat kita kewalahan menghadapinya.

Adalah hal yang baik, bilamana anak-anak suka bertanya, namun untuk memenuhi rasa ingin tahu, dan mendapatkan jawaban yang memuaskannya, memang bukanlah hal yang mudah.

Hal ini menuntut cara kita bagaimana menyikapi secara tepat terhadap pertanyaan yang diajukan anak-anak.

Kita harus mendorong anak-anak mengajukan pertanyaan.

ILUSTRASI. upsidelearning.com

Menginspirasi anak-anak untuk bertanya, jangan menyindir atau menertawakannya.

Seorang anak yang mengajukan pertanyaan, berarti rasa ingin tahunya sangat kuat, kita seharusnya memuji dan mendorongnya (memberikan semangat), menjawab secara sederhana, tepat dan segera.

Jika orangtua mengabaikan pertanyaan anak, acuh tak acuh atau tidak peduli dengan pertanyaan anak-anak, atau bahkan menganggapnya hanya merepotkan, maka akan menyebabkan anak-anak menjadi takut atau enggan untuk bertanya lagi.

Akibatnya ia kehilangan rasa ingin tahu dan antusiasnya terhadap segala yang ada di sekelilingnya.

Maxim Gorky (seorang penulis Soviet/Rusia) pernah berkata, “Masalah anak-anak, jika jawabannya hanya dengan sepotong kata tunggu saja, kelak setelah dewasa Anda akan tahu. Ini sama saja dengan menghilangkan rasa ingin tahu anak-anak.”

Oleh karena itu, orangtua sejatinya memberikan jawaban atas pertanyaan anak-anak.

Terhadap beberapa pertanyaan yang memang tidak dipahami anak-anak ketika itu, jangan memberikan jawaban padanya dengan mengatakan, “Kamu akan mengerti kelak setelah dewasa, dan sudah banyak membaca (belajar).”

Seharusnya mendorong semangatnya lebih banyak belajar pengetahuan dan untuk mencari jawabannya.

Untuk menjawab pertanyaan anak-anak harus inspiratif

ILUSTRASI. (www.irishexaminer.com)

Terhadap pertanyaan yang terarah, misalnya “Apa itu?” “Ini namanya apa?” Bisa langsung menjawabnya.

Tetapi terhadap pertanyaan yang agak kompleks dan berubungan dengan logika, sebaiknya orangtua membimbing anak-anak untuk merenunginya.

Biarkan anak-anak menemukan jawabannya sendiri melalui kesimpulan dan pengamatan dari pengalaman dan pengetahuan yang dimilikinya.

Ada sebuah contoh seperti ini. Ketika seorang bocah sedang memandangi bulan purnama di langit, dia bertanya pada ayahnya, “Ayah, apakah bulan akan selamanya begitu bulat dan terang?”

Sang ayah tidak segera menjawab secara langsung, tetapi mengatakan, “Nanti kita lihat beberapa hari, kamu akan mengetahui rahasianya, dan tahu jawabannya.

“Beberapa hari kemudian, pada malam cahaya bulan yang redup, ayah membawa anaknya melihat bulan.

Ketika itu, sang bocah melihat bulan melengkung lalu berkata, “Ayah, bulan melengkung tidak indah, lebih indah bulan yang bundar, ayah, apakah bulan akan bundar lagi?”

Sang ayah tidak langsung menjawab pertanyaannya, namun menjanjikan akan membawanya lagi melihat bulan nanti.

Kemudian, ia melihat bulan yang bundar, dan dengan gembira ia berseru, “Lucu sekali, bulan yang bundar bisa berubah menjadi melengkung, kemudian menjadi bundar lagi”.

Cara menjawab sang Ayah ini layak dibenarkan dan dianjurkan. Ia membuat rasa ingin tahu anak mendapatkan kepuasan, kemudian membuat anaknya itu mengerti fenomena tentang bulan melalui pengamatan dan pikirannya sendiri.

Catatan

Share

Video Popular