Oleh: Zheng Yi

Erabaru.net. Film dokumenter berjudul “The Search For A New Earth” yang ditayangkan BBC, terdapat adegan fisikawan ternama Steven Hawking tampil menyampaikan pandangannya, berbicara soal krisis keberadaan umat manusia.

Menurut pemberitaan media massa, Hawking akan meluruskan kembali ramalannya, bahwa dalam seratus tahun mendatang, manusia harus meninggalkan bumi, dan mencari rumah baru di angkasa luar.

Sepuluh tahun lalu ia telah mengemukakan masalah ini. Pada 2006 secara terbuka ia melontarkan pertanyaan pada dunia, “Di dunia yang begitu kacau kondisi politik, sosial, dan lingkungannya ini, bagaimana manusia akan hidup melewati seratus tahun berikutnya?”

Sebulan kemudian ia mengatakan, “Aku tidak tahu jawabnya, oleh sebab itu kulontarkan pertanyaan ini untuk Anda renungkan, di saat yang sama agar (Anda) semua menyadari akan bahaya yang sedang kita hadapi sekarang ini.”

Hawking khawatir kehidupan di atas bumi akan musnah akibat perang nuklir yang meletus tiba-tiba, atau virus yang telah mengalami rekayasa genetika, atau bahaya lain yang belum pernah manusia pikirkan sebelumnya.

ILUSTRASI. (telegrap)

Selain itu, ancaman mematikan juga termasuk pencemaran lingkungan, perubahan iklim global yang diakibatkan oleh industrialisasi, AI (kecerdasan buatan), penyusupan mahluk alien dan tabrakan asteroid dan lain-lain.

Menurut penuturan, film “Expedition New Earth” memaparkan pandangan Hawking ini, yakni manusia harus meninggalkan bumi.

Saya tidak tahu bagaimana memahami rencana melarikan diri Hawking ini. Apakah bumi merupakan rumah tua yang dicampakkan begitu saja setelah usang ditinggali?

Saya adalah seorang awam, yang biasanya tidak berani mengkomentari manusia setengah dewa yang jenius. Tapi karena kita semua menggunakan bahasa manusia dan juga mengikuti logika berpikir manusia pada umumnya, saya tak kuasa menahan dorongan rasa penasaran saya dan berupaya memahami logika Hawking.

Sepuluh tahun lalu, kekhawatiran Hawking akan umat manusia adalah di dunia yang begitu kacau kondisi social, politik dan lingkungannya ini, bagaimana manusia akan hidup melewati seratus tahun berikutnya?

Kata kuncinya terletak pada kata “politik”, “sosial”, “ekosistem” dan “kekacauan”.

Penjelasan lebih lanjut adalah “polusi”, “perubahan iklim”, “perang nuklir”, “AI”, “mahluk alien” dan “asteroid”.

ILUSTRASI. (i1.wp.com)

Saya sangat memahami sepenuhnya kekhawatiran Hawking, namun sama sekali tidak bisa memahami harus meninggalkan bumi hanya karena hal-hal tersebut.

Sebagai contoh, ia berpendapat bahwa alam semesta begitu kaya, mahluk alien itu benar-benar eksis, manusia harus menghindar berinteraksi dengan alien.

Lalu apakah dengan meninggalkan bumi maka akan selamat tanpa harus cemas lagi?

Mungkin justru sebaliknya, aksi kolonialisme antar planet pasti meningkatkan kemungkinan interaksi dengan alien.

Demikian juga halnya dengan tabrakan asteroid, apakah Tuhan akan berbelas kasih pada bumi yang baru agar terhindar dari tabrakan asteroid?

Dan krisis lainnya seperti politik yang tidak rasional, kekacauan sosial, pencemaran lingkungan, perang nuklir, virus yang tercipta akibat rekayasa genetika dan AI, jika sudah berada di bumi yang baru akankah semua masalah itu tidak terjadi lagi?

Oleh karena itu, menurut saya rencana “The Search For A New Earth” yang dikemukakan Hawking sama sekali tidak menjelaskan apa pun, tak hanya tidak bisa menyelesaikan masalah, bahkan akan mengakibatkan kekacauan baru.

Hawking tidak memahami permasalahannya bukan terletak pada bumi, melainkan pada umat manusia sendiri.

Lebih tepat dikatakan, masalah bukan terletak pada buminya, juga bukan pada manusia, melainkan pada faktor penghancuran diri yang ada pada sifat manusia.

Seperti keserakahan, apakah umat manusia harus menghamburkan sumber daya alam di bumi demi memuaskan nafsu keinginan akan materi kita yang tak terbatas itu?

Apakah kita harus mengobarkan perang demi balas dendam, prasangka, kekuasaan segelintir orang bahkan sampai mengobarkan perang nuklir?

Apakah kita harus merebut kembali kebebasan dari iblis politik tapi kemudian menyerahkan kebebasan itu pada iblis ekonomi?

Singkatnya, apakah kita benar-benar ingin mengorbankan penghancuran diri kita sebagai imbalan untuk ditukarkan dengan penjajahan tak terbatas oleh iblis?

Share

Video Popular