Erabaru.net. Emma Yang, baru berumur 8 tahun saat neneknya didiagnosis menderita Alzheimer.

Sulit bagi seorang anak untuk menghadapi penyakit yang menghilangkan semua ingatan dan kemudian mencampakkan, dan lenyap, dari kehidupannya.

Neneknya menderita penyakit Alzheimer, pertama dia melupakan detail-detail, dan kemudian hal-hal penting, seperti misalnya, usia cucunya.

Dia percaya bahwa Emma berusia 13 tahun, padahal sesungguhnya dia berusia 8 tahun.
Situasi semakin memburuk ketika Emma pergi ke Amerika Serikat bersama orang tuanya.
Ketiadaan dan jarak meningkatkan hilangnya ingatan.

Tapi Emma, yang selama ini selalu tertarik dengan teknologi sejak kecil, mencoba mencari alternatif lain sehingga neneknya bisa mengingat hal paling mendasar yang dimilikinya.

clarin

Emma jadi punya ide untuk mengembangkan aplikasi yang memungkinkannya untuk berkomunikasi dengan neneknya.

Dia sudah berlatih di Scratch, yaitu bahasa pemrograman untuk anak-anak, jadi dia memutuskan untuk mengabaikan langkah-langkah pelajaran bahasa komputer yang harus dipelajari anak seusianya, dan langsung mulai memprogram.

Emma meneliti bagaimana cara untuk membantu neneknya, dia bertemu dengan Dr. Melissa Kramps, seorang spesialis penyakit Alzheimer di Weill Cornell Presbyterian Medical Center, di New York.

Dia juga berbicara dengan beberapa orang yang menderita penyakit ini, dan yang mengejutkan, dia mendapatkan beasiswa dari Michael Perelstein Memorial.

Dengan beasiswa ini, Emma mengembangkan aplikasi Timeless.

clarin

Timeless berarti abadi, dan itu merupakan aplikasi yang dirancang khusus untuk membantu mengingatkan orang-orang yang menderita Alzheimer.

Aplikasi ini memiliki dua fungsi dasar:

Yang pertama adalah Updates, yang membantu pasien melihat apa yang dilakukan oleh orang-orang yang mereka cintai, yang mana dapat mengirim foto harian aktivitas mereka.

Aplikasi ini menggunakan identifikasi wajah untuk memberi label pada wajah dan memungkinkan pengguna mengenali siapa mereka.

Fungsi kedua adalah untuk mengidentifikasi, fungsi ini membantu pasien untuk mengenali keluarga dan teman mereka, melalui foto appwill yang memberitahu pasien nama orang tersebut dan hubungannya dengan dirinya.

Selain itu, jika orang yang terkena penyakit Alzheimer mencoba menghubungi kontak yang sama dua kali atau lebih selama lima menit, aplikasi itu akan mengingatkannya bahwa dia baru saja menelepon, dan akan menanyakan apakah dia ingin tetap menelepon.

“Penyakit yang diderita nenek saya membuatnya melupakan banyak hal yang penting baginya. Saya ingin bisa membantu nenek saya dan orang lain yang menderita Alzheimer. Itu mengilhami saya untuk menciptakan Timeless, karena meski mengalami kesulitan karena penyakit, pasien juga harus bisa menghargai momen tak terlupakan dalam hidup mereka. Saya tidak bisa membiarkan nenek melupakan saya. Nenek bahkan tidak mengenali Ayah saya, putranya sendiri. Dia sendiri begitu tersesat dalam kegelapan pikirannya. Sekarang saya bahagia. Dia tahu siapa saya. Dan dia juga tahu siapa dirinya,” kata Emma.

clarin

Hari ini Emma dan neneknya bisa berkomunikasi di kejauhan tanpa Neneknya melupakan hal-hal penting.

Ada kemungkinan aplikasi ini menjadi pilihan bagi orang lain yang hidup dengan penyakit Alzheimer, karena aplikasi ini dapat terus-menerus memulihkan ingatan mereka. (anggi/rp)

Share

Video Popular